Endoxa Asia – Sesak napas saat beraktivitas kerap dianggap sebagai keluhan biasa. Namun, jika muncul berulang, semakin berat, atau tidak diketahui penyebabnya, kondisi tersebut perlu diperiksa karena dapat menjadi salah satu tanda hipertensi paru.
Hipertensi paru merupakan kondisi ketika tekanan pada pembuluh darah paru meningkat. Kondisi ini berbeda dengan hipertensi yang umum dikenal sebagai tekanan darah tinggi atau hipertensi sistemik. Hipertensi paru berkaitan dengan pembuluh darah yang membawa darah dari jantung menuju paru-paru.
Berdasarkan pedoman European Society of Cardiology (ESC) dan European Respiratory Society (ERS), hipertensi paru didefinisikan sebagai tekanan arteri pulmonalis rata-rata lebih dari 20 mmHg saat istirahat yang diukur melalui kateterisasi jantung kanan.
Hipertensi Paru Memiliki Beragam Penyebab
Prof. Dr. dr. Bambang Budiswanto, SpJP, FAPSC, FACC, FESC, dokter spesialis jantung dan pembuluh darah di Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah (RSJPD) Harapan Kita, mengatakan hipertensi paru memiliki beberapa jenis berdasarkan penyebabnya.
Kondisi tersebut dapat berkaitan dengan berbagai penyakit, antara lain penyakit jantung bawaan, gagal jantung kiri, penyakit paru kronis, sumbatan atau gumpalan darah pada pembuluh darah paru, hingga kondisi tertentu seperti penyakit autoimun.
Salah satu tantangan dalam mengenali hipertensi paru adalah gejalanya yang tidak khas. Pasien umumnya mengalami sesak napas, terutama ketika melakukan aktivitas.
Sesak juga dapat muncul ketika berbaring atau pada malam hari hingga menyebabkan pasien terbangun dari tidur. Sebagian pasien kemudian tidur dalam posisi lebih tegak atau setengah duduk agar dapat bernapas lebih nyaman.
“Gejalanya tidak khas, hanya sesak. Maka, sesak yang berulang, semakin berat, atau tidak sebanding dengan penyakit yang sudah diketahui, perlu dievaluasi lebih lanjut untuk dicari penyebabnya,” ujar Prof. Bambang.
Karena gejalanya menyerupai berbagai penyakit lain, pasien hipertensi paru dapat lebih dulu mengira dirinya mengalami asma, gangguan jantung, atau penyakit paru lainnya.
Diagnosis Hipertensi Paru Membutuhkan Pemeriksaan Bertahap
Diagnosis hipertensi paru tidak cukup dilakukan hanya berdasarkan keluhan sesak. Pemeriksaan dilakukan secara bertahap, mulai dari anamnesis atau wawancara medis, pemeriksaan fisik, elektrokardiogram (EKG), ekokardiografi, hingga pemeriksaan penunjang seperti NT-proBNP dan CT thorax.
Untuk memastikan diagnosis hipertensi paru, kateterisasi jantung kanan atau right heart catheterization merupakan pemeriksaan standar baku.
“Melalui pemeriksaan tersebut, dokter dapat mengukur tekanan pada pembuluh darah paru secara langsung. Diagnosis hipertensi paru ditegakkan apabila tekanan arteri pulmonalis rata-rata berada di atas 20 mmHg,” jelasnya.
Pengobatan Disesuaikan dengan Penyebab
Pengobatan hipertensi paru bergantung pada jenis dan penyebabnya. Pada jenis tertentu, pasien dapat mendapatkan obat yang bekerja melebarkan pembuluh darah paru atau menghambat mekanisme penyempitan pembuluh darah.
Beberapa obat pelebar pembuluh darah paru berasal dari golongan prostasiklin, phosphodiesterase-5 inhibitor seperti sildenafil, antagonis reseptor endotelin, hingga terapi yang menargetkan jalur aktivin.
Pada stadium lanjut, kombinasi beberapa obat dapat diperlukan untuk membantu mengendalikan tekanan pembuluh darah paru dan mencegah terjadinya gagal jantung kanan.
Sementara pada hipertensi paru yang disebabkan oleh gumpalan atau trombus, penanganan terhadap penggumpalan tersebut juga menjadi bagian penting dari terapi.
Pengobatan umumnya bersifat jangka panjang, terutama pada hipertensi paru yang penyebabnya tidak diketahui atau idiopathic pulmonary arterial hypertension (IPAH).
Deteksi Dini Penting untuk Mencegah Kondisi Memburuk
Prof. Bambang menekankan pentingnya deteksi dan penanganan lebih awal karena hipertensi paru dapat berkembang secara progresif dan berisiko menyebabkan kematian.
“Hipertensi paru merupakan penyakit kronis dan progresif yang dapat terus memburuk jika tidak ditangani. Pada tahap lanjut, tekanan tinggi pada pembuluh darah paru dapat membebani jantung kanan sehingga bengkak dan menyebabkan kematian,” ujarnya.
Karena itu, deteksi dan pengobatan lebih awal diharapkan dapat membantu pasien memiliki usia hidup yang lebih panjang.
Hipertensi paru juga tidak hanya terjadi pada orang dewasa. Bayi dan anak-anak dengan penyakit jantung bawaan juga dapat mengalami hipertensi paru.
“Pada pasien dengan penyakit jantung bawaan, penanganan sejak dini menjadi penting. Jika terlambat ditangani dan hipertensi paru sudah berkembang, kondisi pasien dapat menjadi terlambat dan kompleks,” kata Prof. Bambang.
Layanan Hipertensi Paru Mulai Berkembang di Indonesia
Perkembangan layanan hipertensi paru di Indonesia membuat pasien tidak selalu harus mencari pengobatan ke luar negeri. RSJPD Harapan Kita, misalnya, telah mengembangkan layanan dan terapi untuk menangani pasien hipertensi paru, termasuk pasien yang sebelumnya mendapatkan pengobatan di luar negeri.
Salah satu pasien hipertensi paru, Rusmawati, telah hidup dengan penyakit tersebut selama 15 tahun. Warga Samarinda itu awalnya merasakan sesak dan ngos-ngosan ketika menaiki tangga.
“Saya olahraga saja dulu. Ini kenapa, naik tangga juga nggak bisa. Rasa sesak, ngos-ngosan kalau naik tangga,” ujarnya.
Rusmawati kemudian diketahui menderita hipertensi paru dan sempat menjalani pemeriksaan di Singapura. Ia mengatakan pernah mendapatkan terapi berupa tablet dan suntikan serta harus menjalani kontrol secara berkala.
Namun, dengan berkembangnya layanan hipertensi paru di Indonesia, Rusmawati kini tidak harus kembali berobat ke Singapura dengan biaya besar. Ia dapat melanjutkan pengobatan di Indonesia melalui layanan RSJPD Harapan Kita maupun dokter jantung di daerahnya.




Komentar