Endoxa Asia –Tingkat approval Presiden Amerika Serikat Donald Trump turun menjadi 32 persen, angka terendah dalam jajak pendapat Reuters/Ipsos sepanjang masa kepresidenannya. Penurunan terjadi ketika biaya hidup menjadi perhatian utama warga AS dan perang dengan Iran memasuki bulan ketujuh tanpa penyelesaian yang jelas.
Survei Reuters/Ipsos dilakukan secara daring pada 17 hingga 20 September 2026 terhadap 1.277 orang dewasa di seluruh AS, dengan margin of error sekitar 3 poin persentase. Approval Trump turun dari 35 persen pada survei sepekan sebelumnya.
Dukungan dari Basis Republik Ikut Menurun
Penurunan approval Trump juga terlihat di kalangan pemilih yang mengidentifikasi diri sebagai Republik. Sebanyak 73 persen responden Republik masih menyetujui kinerja Trump, tetapi angka itu turun dari 82 persen dalam survei Reuters/Ipsos sepekan sebelumnya.
Isu biaya hidup menjadi salah satu sumber ketidakpuasan terbesar. Hanya 17 persen responden secara keseluruhan yang menyetujui cara Trump menangani persoalan tersebut.
Di antara responden Republik, 51 persen tidak menyetujui penanganan biaya hidup oleh Trump, sedangkan 44 persen menyetujuinya. Reuters mencatat ini menjadi pertama kalinya dalam pengukuran tersebut mayoritas responden Republik tidak menyetujui kinerja Trump dalam isu biaya hidup.
Perhatian terhadap biaya hidup juga muncul menjelang pemilu sela AS pada November. Dalam survei tersebut, isu ekonomi dan harga menjadi salah satu faktor yang disebut responden akan memengaruhi pilihan mereka.
Perang Iran Menambah Tekanan
Perang dengan Iran menjadi persoalan lain yang ikut membentuk persepsi publik terhadap pemerintahan Trump. Reuters/Ipsos menemukan hanya 34 persen responden yang mendukung serangan AS terhadap Iran, sementara 82 persen memperkirakan perang tersebut akan berlangsung lebih lama.
Konflik juga berdampak pada harga energi. Gangguan terhadap jalur perdagangan dan ekspor minyak di kawasan Timur Tengah telah membuat pasar minyak sangat sensitif terhadap perkembangan perang dan kemungkinan pembicaraan diplomatik. Pada 22 September, Reuters melaporkan harga minyak bergerak naik tipis ketika pasar menunggu perkembangan kemungkinan pembicaraan AS-Iran di sela Sidang Majelis Umum PBB.
Konflik tersebut bermula dari serangan AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026. Serangan itu menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran saat itu, Ali Khamenei. Setelahnya, putranya, Mojtaba Khamenei, menjadi Pemimpin Tertinggi baru Iran, sementara Masoud Pezeshkian tetap menjadi presiden.
Trump Buka Tiga Opsi untuk Iran
Ketegangan terbaru muncul setelah Trump mengatakan dirinya masih berada dalam “decision-making mode” terkait langkah berikutnya terhadap Iran.
Dalam wawancara dengan Fox News yang dikutip Reuters, Trump menyebut tiga kemungkinan yang sedang dipertimbangkan, yakni meningkatkan tekanan hingga menghancurkan Iran, membiarkan negara tersebut menghadapi tekanan ekonomi, atau mencapai kesepakatan. Ia juga mengatakan kemungkinan pertemuan dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian di New York terbuka.
Peluang diplomasi tersebut muncul ketika para pemimpin dunia berkumpul di New York untuk Sidang Majelis Umum PBB. Pemerintah AS telah mengizinkan Pezeshkian dan delegasi Iran datang ke forum tersebut, meski dengan pembatasan pergerakan dan aktivitas selama berada di New York.
Reuters melaporkan pada 22 September bahwa pasar juga menunggu kemungkinan perkembangan pembicaraan AS-Iran. Iran disebut telah menyampaikan sejumlah persyaratan melalui mediator, meski belum ada kesepakatan yang mengakhiri perang.
Iran Siapkan Respons Jika AS Menyerang Lagi
Di sisi lain, Iran belum menunjukkan tanda akan menerima tekanan militer tanpa balasan.
Juru bicara Korps Garda Revolusi Islam Iran atau IRGC, Hossein Mohebbi, mengatakan pada Senin (21/9) bahwa Iran akan mengubah persenjataan dan cakupan geografis perang jika AS kembali menyerang. Ia juga mengatakan Iran siap menghadapi konflik berkepanjangan.
Mohebbi menyatakan Iran akan menggunakan senjata dengan kemampuan baru dan dapat memilih sasaran yang sebelumnya belum pernah diserang. Namun, ia tidak memberikan rincian mengenai jenis senjata atau lokasi yang dimaksud.
Peringatan tersebut disampaikan setelah otoritas Iran mengatakan AS tengah mempertimbangkan operasi militer lanjutan. Washington sendiri belum mengumumkan keputusan untuk melancarkan serangan baru.
Ketegangan Meluas ke Jalur Energi
Konflik AS-Iran juga telah berdampak pada jalur pelayaran strategis di kawasan. Selat Hormuz menjadi salah satu titik utama dalam perseteruan karena merupakan jalur penting bagi perdagangan minyak dunia.
Situasi semakin rumit setelah kelompok Houthi di Yaman, yang didukung Iran, meningkatkan serangan terhadap target di Arab Saudi. Perkembangan tersebut turut meningkatkan risiko terhadap jalur pelayaran lain di kawasan, termasuk Bab el-Mandeb.
Associated Press juga melaporkan bahwa lalu lintas maritim di sekitar Selat Hormuz terganggu dan sebuah kapal tanker terkena proyektil yang tidak diketahui asalnya, menyebabkan dua awak terluka. Inggris juga memberikan dukungan pengisian bahan bakar udara kepada Arab Saudi di tengah peningkatan serangan Houthi.
AS Kembali Peringatkan Warganya di Iran
Meningkatnya ketegangan turut mendorong pemerintah AS memperbarui peringatan keamanan bagi warganya.
Kedutaan Besar Virtual AS di Iran meminta warga Amerika untuk tidak bepergian ke Iran dan meminta warga AS yang masih berada di negara tersebut untuk segera meninggalkan Iran. Peringatan tersebut juga menyebut kemungkinan pembatalan penerbangan, penutupan wilayah udara, dan gangguan perjalanan.
Departemen Luar Negeri AS sendiri mempertahankan status Level 4 atau “Do Not Travel” untuk Iran. Pemerintah AS menyebut risiko terorisme, kerusuhan, penculikan, penahanan sewenang-wenang, dan penahanan yang dianggap tidak sah sebagai alasan peringatan tersebut.
Approval Trump Berada di Tengah Tekanan Domestik dan Internasional
Penurunan approval menjadi 32 persen terjadi ketika pemerintahan Trump menghadapi dua persoalan yang saling beririsan: tekanan biaya hidup di dalam negeri dan konflik militer yang belum berakhir di luar negeri.
Reuters/Ipsos menunjukkan persoalan ekonomi menjadi salah satu sumber utama ketidakpuasan, termasuk di kalangan Republik yang selama ini menjadi basis dukungan Trump. Pada saat yang sama, mayoritas responden dalam survei tersebut memperkirakan perang Iran akan berlangsung lebih lama.
Perkembangan di Timur Tengah kini juga memasuki fase diplomatik melalui Sidang Majelis Umum PBB. Trump menyatakan terbuka terhadap kemungkinan bertemu Pezeshkian, sementara Iran dan AS masih mempertahankan posisi masing-masing terkait syarat untuk mengakhiri konflik.
Dengan demikian, angka 32 persen dalam survei Reuters/Ipsos merekam sentimen publik AS pada periode 17 hingga 20 September, bukan hasil pemilu atau prediksi hasil pemilu sela November. Perkembangan selanjutnya akan bergantung antara lain pada kondisi biaya hidup, perkembangan perang Iran, harga energi, dan apakah jalur diplomasi di New York menghasilkan kemajuan.




Komentar