Endoxa Asia – Hong Kong akan mengaktifkan teknologi pengenalan wajah berbasis kecerdasan buatan (AI) pada jaringan kamera pengawas atau CCTV milik kepolisian mulai November 2026. Sistem ini dirancang untuk mempercepat pencarian tersangka kejahatan dan orang hilang yang masuk kategori berisiko tinggi, termasuk lansia dengan demensia.
Teknologi tersebut menjadi bagian dari SmartView, program perluasan jaringan pengawasan publik yang dijalankan Kepolisian Hong Kong. Dengan bantuan AI, petugas dapat mencari kemunculan seseorang melalui rekaman dari sejumlah kamera tanpa harus memeriksa setiap video secara manual.
Namun, penerapannya juga memunculkan perhatian terhadap privasi. Data yang dihasilkan dari proses pengenalan wajah dapat disimpan hingga 180 hari, lebih lama dibandingkan rekaman CCTV biasa yang menurut kepolisian memiliki batas penyimpanan maksimal 31 hari.
Pengenalan wajah AI mulai diterapkan pada November

Kepolisian Hong Kong mengonfirmasi bahwa fitur pengenalan wajah akan ditambahkan ke jaringan CCTV SmartView pada November 2026. Teknologi tersebut ditujukan untuk membantu penyelidikan kriminal dan pencarian orang hilang dengan tingkat risiko tinggi.
Menurut laporan RTHK pada 6 November 2026, sistem dapat digunakan pada kamera milik kepolisian maupun rekaman dari pihak ketiga yang telah terintegrasi dengan jaringan SmartView.
Meski fitur tersebut dapat diaktifkan kapan saja, polisi tidak akan menjalankan analisis pengenalan wajah secara serentak pada seluruh kamera. Keterbatasan sumber daya komputasi membuat petugas perlu menentukan kamera tertentu yang relevan dengan kebutuhan pencarian.
Kepala pengawas kepolisian Raymond Cheng menjelaskan bahwa analisis dapat dilakukan sepanjang waktu pada kamera yang dipilih ketika diperlukan. Dengan demikian, penggunaan AI diarahkan pada pencarian yang sedang berlangsung, bukan pemantauan identitas seluruh orang yang melintas setiap saat.
Ada dua bentuk penggunaan yang dijelaskan dalam pemberitaan mengenai sistem tersebut. Pertama, pencarian retrospektif untuk mengetahui apakah seseorang yang dicurigai pernah terekam kamera tertentu. Kedua, pencarian secara langsung untuk membantu menemukan orang hilang berdasarkan foto yang diberikan keluarga.
Polisi mengklaim teknologi membantu menemukan orang hilang
Sebelum diterapkan secara lebih luas, teknologi pengenalan wajah tersebut telah melalui uji coba. Kepolisian Hong Kong menyebut sistem itu pernah membantu menemukan seorang lansia berusia lebih dari 80 tahun yang mengalami demensia sekitar satu setengah jam setelah laporan kehilangan diterima.
Dalam uji coba lain, teknologi tersebut digunakan untuk melacak seorang tersangka perampokan. Polisi memanfaatkan karakteristik wajah tersangka untuk mendeteksi kemunculannya kembali dalam rekaman CCTV setelah kejadian, sehingga membantu proses penangkapan.
Kepolisian menilai teknologi ini dapat mengurangi waktu dan tenaga yang sebelumnya dibutuhkan petugas untuk memeriksa rekaman dalam jumlah besar.
Pejabat kepolisian Leung Ming-leung menggambarkan teknologi tersebut sebagai tambahan kemampuan pengawasan yang dapat bekerja sepanjang waktu. Menurutnya, AI memungkinkan petugas mengalokasikan lebih banyak waktu untuk tugas penyelidikan lainnya.
Klaim keberhasilan tersebut berasal dari kepolisian dan belum dengan sendirinya membuktikan tingkat akurasi sistem dalam berbagai kondisi. Hasil pengenalan wajah tetap perlu diperiksa melalui prosedur penyelidikan sebelum digunakan sebagai dasar tindakan lebih lanjut.
Jaringan CCTV ditargetkan mencapai 60.000 kamera
Pengenalan wajah AI merupakan bagian dari ekspansi SmartView yang dimulai pada 2024. Program tersebut memprioritaskan pemasangan kamera di kawasan dengan tingkat kriminalitas tinggi dan arus pejalan kaki yang padat.
Hingga saat ini, polisi telah memasang sekitar 10.000 kamera melalui program tersebut. Jaringan itu juga terhubung dengan sekitar 10.000 kamera tambahan milik departemen pemerintah dan organisasi publik.
Lokasi yang tercakup antara lain Kai Tak Sports Park, Bandara Internasional Hong Kong, terowongan lintas pelabuhan, stasiun MTR, dan kawasan perumahan publik.
Kepolisian menargetkan sekitar 60.000 kamera terpasang pada 2028. Setelah itu, rencana perluasan di kawasan Northern Metropolis diperkirakan menambah sekitar 6.500 kamera hingga 2031.
Sejumlah pusat perbelanjaan juga mulai menghubungkan sistem CCTV mereka dengan jaringan kepolisian. RTHK melaporkan sedikitnya empat mal telah menyetujui integrasi tersebut, yakni Tuen Mun Town Plaza, Olympian City, Kwai Chung Shopping Centre, dan Sierra Life di Fanling.
Perluasan ini membuat jaringan SmartView tidak hanya bergantung pada kamera yang dipasang langsung oleh kepolisian. Rekaman dari fasilitas publik dan lokasi komersial juga berpotensi menjadi bagian dari sistem pencarian.
Data wajah disimpan hingga 180 hari, rekaman video maksimal 31 hari
Salah satu aspek penting dalam kebijakan baru ini adalah perbedaan masa penyimpanan antara rekaman CCTV dan data pengenalan wajah.
Menurut keterangan kepolisian yang dilaporkan RTHK, rekaman video biasa disimpan maksimal 31 hari. Sementara itu, foto individu yang diproses melalui fitur pengenalan wajah beserta metadata terkait dapat disimpan hingga 180 hari.
Metadata tersebut mencakup informasi seperti lokasi, tanggal, waktu, dan karakteristik wajah yang teridentifikasi oleh sistem.
Artinya, meskipun rekaman video memiliki batas penyimpanan lebih singkat, informasi hasil pemrosesan wajah dapat bertahan lebih lama untuk mendukung kebutuhan penyelidikan.
Polisi menyatakan penggunaan teknologi tersebut harus memiliki tujuan yang sah, termasuk keamanan nasional, pencegahan dan pendeteksian kejahatan, serta perlindungan keselamatan dan ketertiban publik.
Akses terhadap fitur pengenalan wajah juga dibatasi melalui prosedur internal. Petugas yang mengajukan penggunaan sistem harus memiliki alasan yang jelas, sementara persetujuan diberikan oleh pejabat dengan pangkat minimal inspektur. Penggunaan tersebut juga dapat menjalani pemeriksaan setelahnya.
Perluasan pengawasan memunculkan pertanyaan soal privasi
Kepolisian Hong Kong menyatakan kamera dalam program SmartView hanya diarahkan ke ruang publik. Pemerintah juga menyebut telah melakukan penilaian dampak privasi dan berkonsultasi dengan Office of the Privacy Commissioner for Personal Data, lembaga yang mengawasi perlindungan data pribadi di Hong Kong.
Dalam penjelasan resminya, kepolisian menyatakan sistem CCTV harus mematuhi Personal Data (Privacy) Ordinance dan menerapkan langkah pengawasan internal. Pemberitahuan mengenai keberadaan kamera juga dipasang di sekitar lokasi pemasangan.
Namun, integrasi kamera dari pusat perbelanjaan dan organisasi lain membawa persoalan tambahan. Masyarakat mungkin mengetahui bahwa suatu tempat menggunakan CCTV, tetapi belum tentu memahami apakah rekamannya juga terhubung dengan jaringan kepolisian.
RTHK melaporkan bahwa Departemen Kehakiman menyarankan pengumuman mengenai keterhubungan kamera pihak ketiga dengan jaringan polisi dilakukan secara sukarela. Kepolisian menyatakan akan mendorong pengelola lokasi untuk memasang pemberitahuan tersebut.
Perdebatan mengenai pengenalan wajah AI tidak hanya menyangkut apakah teknologi dapat membantu menangkap pelaku kejahatan. Pertanyaan lain adalah bagaimana memastikan data biometrik tidak digunakan di luar tujuan yang diizinkan, siapa yang dapat mengaksesnya, dan bagaimana masyarakat dapat mengawasi penggunaan sistem tersebut.
Bagi Hong Kong, SmartView menawarkan cara baru untuk mempercepat pencarian dan penyelidikan. Namun, semakin luas jaringan kamera dan semakin lama data biometrik disimpan, semakin penting pula transparansi mengenai batas penggunaan serta pertanggungjawaban aparat.




Komentar