SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lifestyle Travel

6 Toko Buku Independen di Singapura untuk Pecinta Literatur dan Ruang Estetik

6 Toko Buku Independen di Singapura untuk Pecinta Literatur dan Ruang Estetik
6 Toko Buku Independen di Singapura untuk Pecinta Literatur dan Ruang Estetik

Endoxa Asia – Menjelajahi toko buku bisa menjadi pengalaman tersendiri ketika berkunjung ke sebuah kota. Di Singapura, pengalaman tersebut tidak selalu harus dilakukan di jaringan toko buku besar. Sejumlah toko buku independen menawarkan koleksi yang lebih spesifik, suasana intim, hingga aktivitas yang mempertemukan pembaca dengan penulis dan komunitas literasi.

Mulai dari toko yang berfokus pada karya sastra Singapura, buku berbahasa Korea, hingga publikasi seni dan desain, setiap tempat memiliki identitas berbeda. Beberapa di antaranya bahkan menghadirkan kafe, sesi membaca bersama, serta ruang untuk menikmati buku tanpa terburu-buru.

Romeo Beckham Bintangi Kampanye Musim Dingin Tommy Jeans 2026

Fenomena ini juga mendapat perhatian melalui penyelenggaraan Singapore Indie Bookshop Day pada 3 Oktober 2026. Sebanyak 20 toko buku independen berpartisipasi dalam acara perdana tersebut dengan program seperti diskusi buku, sesi mendongeng, lokakarya, dan kegiatan komunitas.

Bagi wisatawan yang ingin mencari pengalaman berbeda selama berada di Singapura, enam toko buku berikut bisa masuk dalam daftar kunjungan.

1. Book Bar, Menikmati Literatur Lokal Sambil Minum Kopi

Book Bar menjadi pilihan bagi pengunjung yang ingin menikmati buku sekaligus suasana kafe. Berlokasi di kawasan Duxton Hill, toko ini dibangun oleh dua pencinta buku dengan tujuan memperkuat budaya membaca dan memperkenalkan literatur lokal.

Koleksinya mencakup karya sastra Singapura dan Asia. Sejumlah judul SingLit, sebutan untuk literatur Singapura, juga dapat dibeli menggunakan kredit SG Culture Pass.

BIGBANG Tutup Tur 20 Tahun dengan Konser di SoFi Stadium

Selain berbelanja buku, pengunjung bisa menikmati minuman di area kafe. Book Bar juga rutin mengadakan sesi membaca dan diskusi buku yang mempertemukan pembaca dengan penulis lokal.

Kombinasi toko buku, kafe, dan kegiatan literasi membuat tempat ini cocok untuk wisatawan yang ingin mengenal dunia sastra Singapura melalui pengalaman yang lebih santai.

2. City Book Room, Berburu Literatur dan Buku Langka

City Book Room menawarkan pengalaman berbeda melalui koleksi literatur, humaniora, dan buku-buku yang tidak selalu mudah ditemukan di toko buku umum.

Lady Gaga, Jack White hingga Blondie Masuk Nominasi Songwriters Hall of Fame 2027

Berdiri sejak 2014, toko ini memiliki perhatian khusus terhadap literatur berbahasa Mandarin. Koleksinya juga mencakup karya internasional, puisi Singapura, hingga buku klasik berbahasa Bengali.

Salah satu daya tariknya adalah koleksi buku langka dan judul yang sudah tidak dicetak lagi. Pengunjung yang gemar berburu buku lama atau mencari bacaan di luar daftar populer dapat menemukan pilihan menarik di sini.

City Book Room juga sesekali mengadakan kegiatan seni dan budaya, termasuk diskusi bersama penulis serta akademisi. Toko ini sekaligus berperan sebagai penerbit independen yang mendukung perkembangan literatur lokal.

3. Bookstore Bommoi, Surga Literatur Korea di Singapura

Penggemar budaya Korea bisa memasukkan Bookstore Bommoi ke dalam daftar kunjungan. Toko ini dikenal sebagai toko buku independen Korea di Singapura dengan koleksi yang berfokus pada literatur Korea.

Pengunjung dapat menemukan novel, karya klasik, buku nonfiksi, hingga buku bergambar untuk anak-anak. Tidak semua koleksinya menggunakan bahasa Korea karena tersedia pula sejumlah edisi berbahasa Inggris.

Desa Garam Tuyet Diem di Vietnam Kembangkan Wisata Komunitas untuk Selamatkan Tradisi 150 Tahun

Bommoi juga mengadakan sesi membaca yang membahas puisi, esai, dan buku bergambar. Aktivitas tersebut membuat toko ini tidak hanya menjadi tempat membeli buku, tetapi juga ruang untuk mengenal literatur Korea lebih dekat.

Ada pula layanan pemesanan judul secara khusus. Pengunjung bisa mengajukan permintaan untuk buku yang belum tersedia di toko, kemudian pihak pengelola akan memberikan informasi mengenai ketersediaan, harga, dan perkiraan waktu kedatangan.

4. Basheer Graphic Books, Referensi untuk Pecinta Seni dan Desain

Berbeda dari toko buku yang berfokus pada fiksi dan literatur umum, Basheer Graphic Books memiliki koleksi yang lebih dekat dengan dunia kreatif.

Selama lebih dari tiga dekade, toko independen ini menjadi salah satu tempat yang dituju seniman, desainer, dan pekerja kreatif di Singapura. Koleksinya mencakup buku seni, majalah internasional, fotografi, film, arsitektur, desain interior, hingga berbagai publikasi khusus.

Pengunjung juga dapat menemukan buku referensi visual dan judul yang lebih spesifik untuk kebutuhan studi maupun pekerjaan kreatif.

Interiornya memiliki karakter vintage dengan lantai bermotif kotak-kotak dan rak-rak kayu. Beragam koleksi yang memenuhi ruang toko membuat pengalaman menjelajahnya terasa seperti menemukan arsip visual dalam sebuah perpustakaan kecil.

5. Littered with Books, Menjelajahi Toko Buku Dua Lantai

Toilet Bandara Incheon Raih Penghargaan Tertinggi, Punya Pemandangan Landasan Pacu

Littered with Books menawarkan suasana toko buku yang lebih menyerupai perpustakaan rumahan. Berlokasi di sebuah bangunan ruko dua lantai di Duxton Road, toko ini memiliki koleksi yang mencakup fiksi sastra, nonfiksi, kriminal, thriller, fiksi ilmiah, fantasi, hingga buku perjalanan.

Area dalamnya dirancang dengan rak-rak buku yang memenuhi lorong. Salah satu elemen yang paling menarik adalah instalasi berbentuk pohon di bawah skylight, tempat sejumlah buku ditata sebagai bagian dari dekorasi.

Lantai atas menghadirkan suasana seperti ruang baca pribadi, lengkap dengan kursi berlengan yang nyaman. Pengunjung bisa menghabiskan waktu lebih lama untuk menjelajahi koleksi tanpa harus merasa sedang berada di toko buku konvensional.

Ragam genre yang ditawarkan juga membuat Littered with Books cocok untuk pembaca dengan selera berbeda.

6. Grassroots Book Room, Mengenal Literatur Tionghoa dan Budaya Menulis

6 Toko Buku Independen di Singapura untuk Pecinta Literatur dan Ruang Estetik

Grassroots Book Room didirikan pada 1995 oleh penulis Tionghoa Singapura, Ying Pei An. Toko ini berfokus pada publikasi berbahasa Mandarin dari Singapura dan kawasan sekitarnya.

Koleksinya mencakup buku humaniora, buku bergambar, literatur, serta publikasi seputar makanan. Meski memiliki fokus pada bahasa Mandarin, tersedia pula pilihan buku lokal berbahasa Inggris.

Salah satu bagian paling menarik dari toko ini adalah stasiun menulis surat. Pengunjung dapat mengambil catatan tulisan tangan dari seseorang yang tidak dikenal di dalam sebuah wadah, kemudian membalasnya dengan menulis pesan sendiri.

Konsep tersebut menghadirkan interaksi sederhana antarpengunjung yang tidak hanya berhubungan dengan aktivitas membaca. Grassroots Book Room juga memperlihatkan bagaimana toko buku independen dapat menjadi ruang untuk membangun hubungan sosial melalui tulisan.

Toko Buku Independen sebagai Ruang Komunitas

Kehadiran toko-toko buku independen di Singapura memperlihatkan bahwa pengalaman membaca tidak selalu berhenti pada kegiatan membeli dan mengoleksi buku. Setiap toko dapat membangun identitas melalui pilihan koleksi, kegiatan, dan komunitas yang terbentuk di sekitarnya.

Hal tersebut juga menjadi salah satu pesan Singapore Indie Bookshop Day 2026. Acara yang berlangsung pada 2–4 Oktober itu melibatkan 20 toko buku independen dengan kegiatan yang disesuaikan dengan karakter masing-masing tempat.

Ibrahim Tahir, salah satu penyelenggara sekaligus pendiri Wardah Books, menjelaskan bahwa toko buku bukan sekadar tempat menjual buku. Menurutnya, ruang tersebut juga berfungsi membangun komunitas, menyebarkan pengetahuan, dan mempertemukan orang-orang.

Pandangan itu relevan dengan karakter enam toko buku di atas. Book Bar menghadirkan pertemuan antara literatur dan kafe, Bommoi membuka akses terhadap karya Korea, sementara Basheer Graphic Books menjadi ruang bagi publikasi seni dan desain.

Bagi wisatawan, mengunjungi toko-toko tersebut bisa menjadi cara untuk mengenal sisi budaya Singapura yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakatnya. Setiap rak menawarkan perspektif berbeda tentang minat membaca, bahasa, dan kreativitas di kota tersebut.

About The Author

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *