Ekonomi Bisnis

Shopee UMKM Hadapi Tantangan Baru, dari Hitung Biaya hingga Jualan Live

Endoxa Asia – Persaingan UMKM di ruang digital kini tidak lagi hanya soal seberapa menarik sebuah produk. Pelaku usaha juga dituntut mampu menghitung biaya secara tepat, menentukan harga jual, sekaligus membangun komunikasi dengan konsumen melalui konten digital dan livestreaming.

Kondisi tersebut menjadi konteks peluncuran dua fitur baru Shopee, yakni Kalkulator Biaya dan Shopee Live Studio, dalam rangkaian program Shopee Pilih Lokal bersama Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) pada 7 Oktober 2026.

Industri Kemasan Indonesia Diproyeksikan Tumbuh 6% pada 2026, E-Commerce dan Program Pangan Jadi Pendorong

Kalkulator Biaya dirancang untuk membantu penjual memperkirakan komponen biaya sebelum menentukan harga jual. Perhitungannya mencakup biaya administrasi penjual, biaya program promosi opsional, serta komponen biaya lain yang berlaku di platform.

Sementara itu, Shopee Live Studio ditujukan untuk mendukung aktivitas penjualan melalui siaran langsung. Fitur tersebut dapat digunakan melalui Seller Centre tanpa aplikasi pihak ketiga, dengan pengaturan seperti katalog produk, voucher, dan materi promosi dalam kegiatan livestreaming.

Tantangan UMKM Bergeser ke Pengelolaan Bisnis Digital

Perubahan ini menunjukkan bahwa tantangan digitalisasi UMKM tidak berhenti pada kemampuan membuka toko online. Setelah produk tersedia di marketplace, pelaku usaha masih harus memastikan harga jual tetap masuk akal setelah memperhitungkan berbagai biaya sekaligus mampu menarik perhatian konsumen di tengah persaingan konten.

Deputy Director of Public Affairs Shopee Indonesia Radynal Nataprawira mengatakan kedua fitur tersebut dibuat untuk menjawab kebutuhan tersebut.

“Melalui fitur Kalkulator Biaya, penjual dapat memahami estimasi biaya dengan lebih transparan, sementara Shopee Live Studio menghadirkan ruang kreatif bagi UMKM untuk meningkatkan kualitas konten livestreaming untuk menjangkau lebih banyak konsumen,” ujar Radynal.

IVE Rilis Foto Teaser An Yu Jin & Jang Won Young untuk “Looks Can Kill”

Kalkulator Biaya dapat diakses penjual melalui Seller Centre pada menu Keuangan, sedangkan Shopee Live Studio tersedia melalui menu Live & Video.

Produk Lokal Didorong Masuk Pasar yang Lebih Luas

Peluncuran fitur tersebut berjalan beriringan dengan Bazar ASN Gemar Belanja Lokal yang digelar Kementerian UMKM dan Shopee di Jakarta.

Sebanyak 11 jenama lokal yang disebut telah menjangkau pasar ekspor ikut ditampilkan dalam kegiatan tersebut. Jenama yang hadir mencakup Damakara, Hulm, Kasual Indonesia, Winod, Deenay Scarves, Zenitha, Arutala Coffee, CAU Chocolates, Freshporia, dan Project 1945.

Kementerian UMKM menilai ASN dapat menjadi salah satu kelompok konsumen yang berperan dalam memperluas pasar produk lokal.

Deputi Bidang Usaha Kecil Kementerian UMKM Temmy Satya Permana mengatakan, pilihan konsumsi sehari-hari dapat ikut menentukan kekuatan pasar bagi pelaku usaha dalam negeri.

“Ketika produk Indonesia menjadi pilihan, kita ikut menciptakan pasar yang lebih kuat bagi pengusaha untuk terus tumbuh dan berkembang,” ujar Temmy.

Martha Tilaar Meninggal Dunia, Ini Warisan Besarnya bagi Industri Kecantikan Indonesia

Menurut Kementerian UMKM, terdapat 11 jenama UMKM lokal yang telah menembus pasar ekspor dan ikut dalam bazar tersebut. Pemerintah berharap kegiatan serupa dapat diperluas ke kantor kementerian dan lembaga lainnya.

Empat Miliar Produk Lokal Terjual melalui Pilih Lokal

Dorongan terhadap produk lokal juga terjadi dalam skala transaksi digital. Shopee menyatakan sebanyak 4 miliar produk lokal telah terjual melalui kanal Shopee Pilih Lokal sejak 2022. Angka tersebut merupakan klaim perusahaan berdasarkan akumulasi penjualan di kanal khusus produk lokal tersebut.

Shopee juga menyebut telah menyalurkan dukungan senilai lebih dari Rp100 miliar bagi usaha lokal sepanjang semester pertama 2026. Klaim tersebut dilaporkan dalam rangkaian peluncuran program Shopee Pilih Lokal dan fitur baru untuk penjual.

Angka transaksi yang besar menunjukkan semakin pentingnya marketplace sebagai salah satu jalur distribusi produk lokal. Namun, pertumbuhan pasar digital juga membawa tuntutan baru bagi pelaku usaha.

Produk yang berkualitas tetap menjadi fondasi, tetapi kemampuan memahami struktur biaya, menentukan harga, membuat konten, dan berinteraksi dengan konsumen ikut menentukan bagaimana UMKM bertahan di ekosistem perdagangan digital yang semakin kompetitif.

Pada akhirnya, digitalisasi UMKM bukan sekadar memindahkan aktivitas jual beli ke internet. Tantangannya adalah membuat pelaku usaha mampu mengambil keputusan bisnis dengan lebih terukur sekaligus berkomunikasi secara efektif dengan konsumen yang semakin terbiasa berbelanja melalui konten dan livestreaming.

About The Author

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *