
Key Insights
- Hyundai dilaporkan akan membeli sisa 9,65% saham Boston Dynamics dari SoftBank, membuka jalan menuju kepemilikan penuh atas perusahaan robotika tersebut.
- Akuisisi ini mencerminkan pergeseran strategi industri, di mana robotika diposisikan sebagai platform teknologi jangka panjang yang terhubung erat dengan perkembangan AI.
- Meski belum menghasilkan keuntungan, Boston Dynamics tetap dianggap sebagai aset strategis karena teknologinya berpotensi mengubah cara industri manufaktur, logistik, dan otomasi berkembang pada dekade mendatang.
Menurut Maeil Business Newspaper di Korea Selatan, Hyundai berencana membeli sisa 9,65% saham Boston Dynamics yang masih dimiliki SoftBank Group dengan nilai sekitar US$325 juta (±Rp5,8 triliun). Dewan direksi Hyundai disebut akan menggelar rapat pada 22 Juni untuk memberikan persetujuan atas transaksi tersebut. Jika rampung, Boston Dynamics akan sepenuhnya berada di bawah kendali Hyundai, mengakhiri proses akuisisi bertahap yang dimulai pada 2021.
Di atas kertas, transaksi ini memang hanya menyelesaikan kepemilikan yang sudah hampir penuh. Namun maknanya jauh lebih besar. Akuisisi penuh memberi Hyundai kebebasan untuk mengintegrasikan riset robotika ke dalam strategi bisnis jangka panjang tanpa perlu mempertimbangkan kepentingan pemegang saham eksternal. Ini menjadi sinyal bahwa robotika kini bukan lagi proyek eksperimental, melainkan bagian inti dari arah perusahaan.
Kesepakatan tersebut berasal dari mekanisme put option dalam transaksi awal antara Hyundai dan SoftBank. Saat Hyundai mengambil alih kendali Boston Dynamics, SoftBank masih mempertahankan sebagian kecil kepemilikan dengan hak untuk menjual kembali saham tersebut apabila syarat tertentu terpenuhi. Maeil melaporkan bahwa SoftBank kini telah memilih menggunakan hak tersebut, meski kedua perusahaan belum memberikan konfirmasi resmi.
Hyundai sebenarnya telah mengendalikan lebih dari 90% saham Boston Dynamics melalui Hyundai Motor, Kia, Hyundai Mobis, Hyundai Glovis, serta Executive Chair Euisun Chung. Dengan mengakuisisi sisa saham, struktur kepemilikan menjadi lebih sederhana sekaligus memperkuat posisi Boston Dynamics sebagai salah satu aset teknologi strategis dalam grup.
Bagi Hyundai, nilai Boston Dynamics tidak terletak pada pendapatan jangka pendek. Perusahaan robotika asal Amerika Serikat itu masih membukukan kerugian besar akibat tingginya biaya penelitian dan pengembangan. Menurut Aju Press, sepanjang 2022 hingga kuartal ketiga 2025, Boston Dynamics menghasilkan pendapatan kumulatif sebesar 390,7 miliar won (±4,53 triliun rupiah), tetapi mencatat kerugian sekitar 1,38 triliun won (±16 miliar rupiah) pada periode yang sama.
Angka tersebut menggambarkan realitas industri robotika saat ini. Mengembangkan robot yang mampu bergerak secara otonom di lingkungan nyata membutuhkan investasi besar dalam perangkat keras, perangkat lunak, sensor, visi komputer, dan kecerdasan buatan. Komersialisasinya pun berjalan lebih lambat dibanding perangkat lunak berbasis AI karena setiap peningkatan kemampuan harus dibuktikan melalui pengujian di dunia fisik.
Meski demikian, Boston Dynamics tetap menjadi salah satu nama yang paling diperhatikan dalam industri. Robot berkaki empat, Spot telah digunakan untuk inspeksi fasilitas industri dan infrastruktur. Stretch dikembangkan untuk mengotomatisasi pekerjaan di gudang logistik. Sementara Atlas menjadi simbol kemajuan robot humanoid yang mampu melakukan gerakan kompleks dengan tingkat keseimbangan dan kelincahan yang sebelumnya sulit dicapai.
Dalam beberapa tahun terakhir, perkembangan AI generatif telah mengubah cara industri memandang robot. Jika sebelumnya tantangan utama adalah membuat robot dapat bergerak dengan stabil, kini perhatian mulai bergeser pada bagaimana robot memahami instruksi, mengenali lingkungan, dan mengambil keputusan secara mandiri. Kombinasi AI dan robotika membuka peluang bagi mesin untuk menangani tugas yang jauh lebih kompleks daripada sekadar otomatisasi konvensional.
Di sinilah strategi Hyundai menjadi relevan. Produsen otomotif tidak lagi hanya bersaing mengembangkan kendaraan listrik atau perangkat lunak kendaraan. Mereka juga berlomba membangun ekosistem otomatisasi yang mencakup manufaktur, logistik, hingga layanan berbasis robot. Kepemilikan penuh atas Boston Dynamics memberi Hyundai akses langsung terhadap teknologi yang dapat diterapkan di berbagai lini bisnisnya dalam jangka panjang.
Perjalanan Boston Dynamics sendiri mencerminkan bagaimana nilai strategis robotika terus berubah. Perusahaan ini diakuisisi Google pada 2013 sebelum dijual kepada SoftBank pada 2017. Pada akhir 2020, Hyundai sepakat membeli 80% saham perusahaan tersebut dengan valuasi sekitar US$1,1 miliar (±17,8 triliun), dan transaksi resmi selesai pada Juni 2021. Sejak itu, Hyundai terus menambah investasinya, sementara kepemilikan SoftBank perlahan terdilusi hingga tinggal di bawah 10%.
Jika laporan mengenai akuisisi ini benar, Hyundai bukan sekadar menyelesaikan sebuah transaksi korporasi. Perusahaan sedang mempertaruhkan masa depan pada keyakinan bahwa robot akan menjadi bagian penting dari infrastruktur industri global. Pertanyaan besarnya bukan lagi apakah robot akan bekerja berdampingan dengan manusia, melainkan seberapa cepat teknologi itu beralih dari laboratorium menuju operasi sehari-hari.



