Endoxa Asia – Perusahaan media mulai mengubah cara mereka menerbitkan berita seiring meningkatnya penggunaan kecerdasan buatan (AI) untuk mencari, membaca, dan merangkum informasi. Jika sebelumnya artikel dirancang terutama untuk pembaca manusia, kini sejumlah penerbit mulai menyiapkan konten yang lebih mudah diproses oleh agen AI.
Tren ini terlihat dari langkah Axios yang mengembangkan layanan distribusi berita bernama Axios Direct, serta Every, perusahaan media dan perangkat lunak yang mengintegrasikan fitur AI ke dalam artikel. Keduanya mencoba menjawab perubahan perilaku konsumsi informasi, ketika pembaca tidak selalu membuka situs berita secara langsung, tetapi meminta asisten AI memilihkan informasi yang relevan.
Perubahan ini membuka peluang bisnis baru bagi penerbit. Namun, muncul pertanyaan yang lebih mendasar: jika AI dapat mengambil informasi dari sebuah artikel dan menyampaikannya kepada pengguna tanpa mengarahkan mereka ke situs aslinya, bagaimana media akan memperoleh pendapatan?
Axios Siapkan Feed Berita Khusus Agen AI
Dalam laporan WIRED pada 27 Oktober 2026, Axios mengungkapkan pengembangan Axios Direct, layanan yang dirancang agar agen AI dapat mengakses konten jurnalistik melalui format yang lebih terstruktur.
Berbeda dari artikel biasa yang disusun untuk dibaca dari awal hingga akhir, feed ini memprioritaskan informasi yang ringkas dan terorganisasi. Formatnya menyerupai RSS feed, yakni distribusi konten dalam bentuk standar yang dapat dibaca oleh sistem lain.
Axios telah meluncurkan salah satu feed untuk pelanggan Axios Pro Deals, yang berisi informasi mengenai merger dan akuisisi. Feed kedua direncanakan menjadi sumber untuk melatih model bahasa besar internal perusahaan dan dijadwalkan meluncur pada 2027.
Axios juga berencana mengembangkan feed untuk pelanggan individu pada 2027. Melalui layanan tersebut, pengguna dapat mengirimkan laporan Axios langsung ke agen AI mereka.
Menurut Jacquelyn Cameron, chief revenue officer Axios, perusahaan melihat perubahan dalam ekosistem media, termasuk berkurangnya peran pencarian konvensional dan meningkatnya penggunaan sistem AI untuk mengonsumsi informasi.
Bagi penerbit, strategi ini berarti berita tidak hanya harus mudah ditemukan oleh manusia melalui mesin pencari, tetapi juga harus mudah dipahami dan digunakan oleh sistem AI.
Every Memungkinkan Pembaca Mengubah Artikel dengan AI
Every mengambil pendekatan berbeda. Alih-alih hanya menyederhanakan format berita untuk mesin, perusahaan ini mengembangkan artikel yang dapat dieksplorasi dan diolah kembali menggunakan AI.
Penulis Every menyertakan prompt dalam sejumlah artikel agar pembaca dapat mencoba konsep atau teknologi yang sedang dibahas. Pada artikel panduan tertentu, tersedia pula tombol seperti “Read With Claude” atau “Read With ChatGPT” yang mengarahkan pengguna untuk melanjutkan pembacaan melalui asisten AI.
Every juga mengembangkan konsep extendable article, yaitu artikel panjang yang dilengkapi basis data berisi materi pendukung seperti rekaman wawancara, artikel berita, dan video YouTube. Pembaca dapat mengajukan pertanyaan kepada chatbot untuk memperoleh informasi tambahan dari materi tersebut.
Dalam contoh yang dibahas WIRED, Every menerbitkan artikel sepanjang 8.000 kata mengenai Codex yang dapat diolah menjadi format lain sesuai kebutuhan pelanggan. Agen AI dapat membantu menghasilkan ringkasan, podcast, atau video berdasarkan materi yang tersedia.
Pendekatan ini mengubah artikel dari produk akhir menjadi bahan dasar yang dapat disesuaikan. Pembaca yang hanya membutuhkan poin-poin utama dapat memperoleh ringkasan, sementara pembaca lain bisa mengeksplorasi detail atau meminta format yang lebih sesuai dengan minat mereka.
GEO Menjadi Strategi Baru Penerbit
Perubahan tersebut juga berkaitan dengan generative engine optimization (GEO), strategi untuk meningkatkan kemungkinan sebuah konten muncul atau digunakan dalam jawaban yang dihasilkan AI.
Selama bertahun-tahun, penerbit digital mengoptimalkan artikel agar mudah ditemukan melalui mesin pencari. Strategi tersebut biasanya mencakup penggunaan kata kunci, struktur artikel, tautan, dan aspek teknis situs.
Kini, media juga perlu mempertimbangkan bagaimana sistem AI menemukan, menafsirkan, dan mengambil informasi dari halaman mereka. Artikel yang memiliki struktur jelas, fakta yang mudah dikenali, dan konteks yang memadai berpotensi lebih mudah diproses oleh sistem otomatis.
Namun, tampil dalam jawaban AI tidak selalu menghasilkan kunjungan langsung ke situs penerbit. Pengguna bisa memperoleh informasi yang dibutuhkan tanpa mengklik sumber aslinya.
Hal ini menjadi tantangan bagi media yang selama ini mengandalkan iklan berbasis kunjungan, langganan, atau lalu lintas dari mesin pencari. Semakin banyak informasi dikonsumsi melalui perantara AI, semakin penting bagi penerbit untuk memahami manfaat ekonomi dari akses tersebut.
Apakah AI Bisa Menjadi Sumber Pendapatan Media?
Pertanyaan mengenai monetisasi masih menjadi tantangan utama. Rasmus Kleis Nielsen, profesor komunikasi di University of Copenhagen yang diwawancarai WIRED, menilai pasar penerbitan yang ditujukan kepada agen AI masih berkembang dan belum merata. Model harga dan pola interaksi antara agen AI dengan konten media juga belum sepenuhnya jelas.
Axios dan Every mencoba menawarkan informasi yang memiliki nilai khusus. Axios Pro Deals, misalnya, menyediakan informasi bisnis yang dapat membantu pelanggan memantau perkembangan merger dan akuisisi. Sementara itu, Every menawarkan panduan mendalam mengenai AI dan cara menggunakannya.
WIRED melaporkan bahwa langganan tahunan akses penuh Axios Pro Deals dibanderol US$2.499, sedangkan langganan tahunan Every berharga US$288. Kedua layanan ini menyasar kebutuhan yang berbeda, tetapi memperlihatkan upaya media untuk menjual akses ke informasi bernilai, bukan sekadar jumlah artikel yang dibaca.
Dan Shipper, pendiri Every, melihat langganan sebagai layanan bagi pembaca sekaligus agen AI yang membantu mereka. Dalam model ini, pelanggan membayar agar agen mereka dapat mengetahui informasi yang diterbitkan dan mengidentifikasi hal-hal yang relevan bagi kebutuhan pengguna.
Bagi penerbit, pengenalan merek melalui jawaban AI juga berpotensi memberi manfaat meski pengguna tidak mengunjungi situs secara langsung. Namun, visibilitas tersebut belum tentu menghasilkan pendapatan secara otomatis.
Masa Depan Media Bukan Hanya Soal Pembaca Manusia
Perubahan perilaku konsumsi berita tidak berarti jurnalisme akan berhenti ditulis untuk manusia. Namun, penerbit mulai menghadapi lingkungan distribusi yang melibatkan pembaca, mesin pencari, chatbot, dan agen AI yang bertindak atas permintaan pengguna.
Dalam kondisi ini, media perlu mempertimbangkan bagaimana konten dapat ditemukan, diakses, dikutip, dan dimonetisasi. Mereka juga harus menjaga agar informasi yang diproses oleh AI tetap akurat serta tidak kehilangan konteks ketika diringkas atau diubah menjadi format lain.
Strategi Axios dan Every memperlihatkan dua kemungkinan arah: menyajikan informasi dalam format terstruktur yang mudah dibaca mesin, atau menyediakan materi yang dapat dipersonalisasi melalui AI.
Belum ada kepastian pendekatan mana yang akan menghasilkan model bisnis paling berkelanjutan. Namun, satu perubahan sudah terlihat: persaingan media digital tidak lagi hanya berlangsung untuk mendapatkan klik dari pembaca, tetapi juga untuk menjadi sumber informasi yang digunakan oleh agen AI.
Bagi industri media, tantangan berikutnya adalah memastikan bahwa ketika AI semakin sering menjadi perantara informasi, nilai kerja jurnalistik tetap dapat dikenali dan menghasilkan pendapatan yang menopang produksinya.




Komentar