Lifestyle Entertainment

Album K-Pop Gratis di Seoul Jadi Solusi Limbah Photocard, Ada NCT hingga IVE

Album K-Pop Gratis di Seoul Jadi Solusi Limbah Photocard, Ada NCT hingga IVE
Album K-Pop Gratis di Seoul Jadi Solusi Limbah Photocard, Ada NCT hingga IVE

Endoxa Asia – Sebuah toko merchandise di kawasan Myeong-dong, Seoul, Korea Selatan, menawarkan album K-pop bekas secara gratis kepada para penggemar. Inisiatif ini memberi kesempatan bagi wisatawan untuk membawa pulang album idola favorit sekaligus membuka perhatian terhadap persoalan limbah dari pembelian album dalam jumlah besar.

Dilaporkan The Korea Herald pada 18 Oktober 2026, K-pop Shop menjadi salah satu toko di Seoul yang menyediakan album-album surplus untuk diambil tanpa biaya. Koleksinya beragam, mulai dari album grup populer seperti NCT dan IVE hingga rilisan artis yang lebih jarang dikenal. Sejumlah album juga dilengkapi photobook.

Jihyo TWICE Tinggalkan JYP Setelah 21 Tahun dan Dirikan EMITHAUS

Di balik penawaran tersebut, ada persoalan yang lebih besar dari sekadar album yang tidak terjual. Praktik membeli banyak album demi mengumpulkan photocard eksklusif atau meningkatkan peluang mengikuti acara bersama idola turut mendorong penumpukan produk fisik yang akhirnya tidak digunakan.

Toko K-Pop di Myeong-dong Bagikan Album secara Gratis

K-pop Shop berlokasi di Myeong-dong, kawasan pusat Seoul yang dikenal sebagai tujuan belanja wisatawan. Pemilik toko, Choi, 66 tahun, mengatakan bahwa sebagian album yang ditinggalkan pelanggan biasanya disimpan sampai pihak label musik memberikan izin untuk membuangnya.

Alih-alih langsung membuang album tersebut, Choi memilih membagikannya secara gratis kepada penggemar internasional yang berkunjung ke Korea Selatan.

Ia ingin album-album itu tetap memiliki nilai bagi orang lain, khususnya penggemar muda dari luar negeri yang mungkin tidak memiliki anggaran untuk membeli banyak album.

Inisiatif ini juga memberikan kesempatan kepada penggemar untuk menikmati pengalaman memiliki album fisik, meskipun mereka tidak selalu membutuhkan CD untuk mendengarkan musik.

Dalam laporan The Korea Herald, seorang wisatawan asal Jerman berusia 24 tahun bernama Muller bahkan kembali ke toko itu untuk kedua kalinya selama perjalanan selama sepekan di Korea Selatan. Penggemar Tomorrow X Together tersebut berharap bisa membawa pulang lebih banyak album sebagai suvenir untuk teman-temannya.

Wajib Militer Idol K-Pop Kini Jadi Panggung Langka, dari Kang Daniel hingga Woozi SEVENTEEN

Ia mengaku tertarik setelah melihat informasi tentang toko tersebut di internet. Meski belum menemukan album TXT yang dicari, ia berhasil mendapatkan beberapa album grup pria lainnya.

Baginya, album fisik memiliki daya tarik tersendiri karena dapat dipajang di rak dan terasa lebih personal dibandingkan musik yang hanya dinikmati melalui layanan streaming.

Mengapa Penggemar Membeli Album K-Pop dalam Jumlah Besar?

Fenomena album gratis ini tidak bisa dilepaskan dari cara industri K-pop memasarkan album fisik. Selain CD dan musik, album biasanya menawarkan beragam koleksi tambahan, seperti photocard, photobook, dan merchandise eksklusif.

Photocard menjadi salah satu daya tarik utama karena kartu yang diperoleh dapat berbeda-beda di setiap album. Penggemar yang ingin mendapatkan kartu anggota grup tertentu atau melengkapi koleksi bisa terdorong membeli beberapa salinan album yang sama.

Di Korea Selatan, pembelian album juga dapat berkaitan dengan kesempatan mengikuti acara penggemar, seperti sesi tanda tangan, panggilan video dengan idola, atau rekaman program musik. Untuk acara dengan sistem undian, membeli lebih banyak album dapat meningkatkan jumlah kesempatan mengikuti undian, meskipun tidak menjamin seseorang akan terpilih.

Praktik pembelian dalam jumlah besar juga ditemukan di pasar internasional. Sebagian penggemar mengorganisasi pembelian kolektif untuk mendukung artis favorit dan meningkatkan angka penjualan album.

Namun, ketika tujuan utama pembelian adalah mendapatkan koleksi tertentu atau peluang mengikuti acara, CD yang menyertai album belum tentu menjadi bagian yang benar-benar diinginkan pembeli. Sebagian pelanggan bahkan meminta penjual mengirimkan photocard dan koleksi lainnya saja, tanpa CD.

Konser BIGBANG di Singapura Terdampak Kabut Asap, Promotor Keluarkan Imbauan Kesehatan

Situasi inilah yang membuat sebagian album berakhir sebagai stok berlebih atau ditinggalkan setelah koleksi yang dicari diambil.

Limbah Album K-Pop Menjadi Persoalan Lingkungan

Persoalan album yang tidak terpakai bukan hanya terjadi di satu toko. Produksi album fisik dalam jumlah besar juga menimbulkan pertanyaan mengenai penggunaan plastik, kemasan, dan pengelolaan sampah industri musik.

Menurut data Kementerian Lingkungan Korea Selatan yang diperoleh Hankook Ilbo pada April 2026, sebanyak 13 perusahaan hiburan di negara tersebut menghasilkan total 6.667 ton produk plastik, termasuk CD dan bahan kemasan, selama periode 2021 hingga 2024. Jumlah tersebut setara dengan berat sekitar 4.445 mobil berukuran menengah.

Laporan The Korea Times yang mengutip investigasi Hankook Ilbo juga menyoroti bagaimana pembelian album berulang untuk memperoleh photocard dan mengikuti acara penggemar berkaitan dengan meningkatnya penggunaan plastik di industri K-pop. Baca laporan The Korea Times.

Angka tersebut menunjukkan bahwa persoalannya tidak berhenti pada CD yang akhirnya tidak diputar. Kemasan dan komponen fisik album turut menjadi bagian dari jejak material yang perlu dikelola.

Pembagian album secara gratis seperti yang dilakukan K-pop Shop dapat memperpanjang masa guna produk yang masih layak digunakan. Album yang semula tidak lagi diinginkan pembeli pertama berpeluang menemukan pemilik baru, baik sebagai koleksi maupun suvenir.

Meski demikian, langkah tersebut lebih tepat dipandang sebagai salah satu upaya penggunaan ulang, bukan penyelesaian menyeluruh atas persoalan limbah album K-pop. Upaya ini tidak dengan sendirinya mengurangi jumlah album yang diproduksi atau mengubah mekanisme pembelian yang mendorong penggemar mengumpulkan banyak salinan.

Tantangan Industri K-Pop Bukan Sekadar Membagikan Album Bekas

K-pop Shop memperlihatkan bahwa produk yang sudah tidak dibutuhkan seseorang masih bisa memiliki nilai bagi orang lain. Bagi wisatawan, album gratis bisa menjadi kenang-kenangan dari perjalanan ke Seoul. Bagi industri, praktik ini juga memperlihatkan adanya peluang untuk memperpanjang masa guna produk sebelum akhirnya dibuang.

Namun, pengurangan limbah dalam skala lebih besar membutuhkan perhatian pada proses produksi dan strategi pemasaran album. Selama pembelian berulang masih menjadi bagian penting dari upaya mengumpulkan merchandise atau mendapatkan kesempatan mengikuti acara penggemar, album fisik berpotensi tetap menumpuk setelah kebutuhan tersebut terpenuhi.

Karena itu, upaya penggunaan ulang seperti yang dilakukan toko di Myeong-dong dapat menjadi langkah awal yang berarti, tetapi bukan pengganti perubahan pada sistem produksi dan konsumsi.

Pada akhirnya, album K-pop bukan hanya media untuk menikmati musik. Album juga menjadi bagian dari budaya koleksi dan interaksi antara idola dengan penggemar. Tantangannya adalah menjaga pengalaman tersebut tetap bermakna tanpa menghasilkan lebih banyak produk yang berakhir tidak terpakai.

About The Author

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *