Endoxa Asia – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia mendorong warga di sejumlah negara Asia Tenggara mencari cara untuk menjaga kualitas udara di dalam rumah. Di Malaysia, penjualan perangkat oksigen meningkat, sementara sejumlah peritel melaporkan lonjakan permintaan alat pemurni udara atau air purifier sejak kualitas udara memburuk.
Laporan Agence France-Presse (AFP) yang diterbitkan South China Morning Post pada 18 Oktober 2026 mencatat, perusahaan peralatan medis dan peritel elektronik di Malaysia serta Singapura mengalami peningkatan permintaan di tengah kabut asap yang berlangsung selama berbulan-bulan.
Lonjakan ini bukan sekadar perubahan perilaku belanja. Situasi tersebut memperlihatkan bagaimana krisis lingkungan lintas batas mulai memengaruhi kehidupan sehari-hari, terutama bagi keluarga yang khawatir terhadap dampak paparan asap pada kesehatan.
Penjualan Air Purifier Naik hingga Enam Kali Lipat
Peritel elektronik Courts melaporkan kenaikan volume penjualan air purifier sebesar 600 persen pada periode 28 September hingga 12 Oktober 2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Sementara itu, peritel asal Singapura, Gain City, menyebut penjualan perangkat pemurni udara meningkat hingga sembilan kali lipat dibandingkan tingkat penjualan pada awal musim kabut asap di Agustus. Perusahaan tersebut mengatakan lonjakan permintaan mulai terlihat lebih tajam sejak 9 Oktober.
Angka-angka ini berasal dari laporan masing-masing perusahaan, bukan statistik menyeluruh untuk seluruh pasar Asia Tenggara. Meski demikian, keduanya menunjukkan meningkatnya minat konsumen terhadap perangkat yang dapat membantu mengurangi partikel pencemar di dalam ruangan.
Seorang juru bicara Courts mengatakan konsumen kini semakin memperhatikan kualitas udara dalam ruangan dan aktif mencari solusi untuk menjaga lingkungan rumah tetap sehat dan nyaman.
Permintaan Perangkat Oksigen di Malaysia Ikut Meningkat
Kenaikan permintaan juga terjadi pada peralatan medis. AA Alive, perusahaan penyedia perangkat medis yang beroperasi di dekat Kuala Lumpur, melaporkan penjualan meningkat 35 persen akibat kabut asap.
Rafina Firdaus, anggota tim penjualan perusahaan tersebut, mengatakan kepada AFP bahwa perusahaan bekerja dengan kapasitas tinggi untuk memenuhi permintaan tabung oksigen dan konsentrator oksigen.
AA Alive menyediakan kedua perangkat tersebut untuk pasien yang membutuhkan dukungan oksigen. Tabung oksigen dalam laporan itu dapat digunakan sekitar tiga jam secara terus-menerus, sedangkan konsentrator oksigen dapat digunakan hingga sekitar 24 jam.
Teknisi AA Alive, Mubassar Khan, juga mengatakan masa pakai filter konsentrator oksigen yang biasanya diganti setelah sekitar 1.000 jam penggunaan menjadi lebih pendek akibat polutan kabut asap. Menurutnya, masa pakainya berkurang hingga sekitar setengahnya.
Perusahaan itu melaporkan mengirim sekitar 40 unit sewaan per hari. Di ruang pamer dan gudangnya, jurnalis AFP juga melihat hampir 60 konsentrator oksigen serta sekitar 20 tabung oksigen yang menunggu servis atau penggantian.
Meski permintaan meningkat, perangkat oksigen perlu dibedakan dari air purifier. Konsentrator dan tabung oksigen digunakan untuk memenuhi kebutuhan oksigen pasien, sedangkan alat pemurni udara dirancang untuk mengurangi kontaminan di udara dalam ruangan.
Pakar Mengingatkan Risiko Paparan Asap bagi Anak
Dampak kabut asap tidak berhenti pada penurunan jarak pandang atau terganggunya aktivitas luar ruangan. Paparan polutan dalam jangka panjang juga menjadi perhatian pakar kesehatan lingkungan.
Juliana Jalaludin, profesor yang mendalami kesehatan lingkungan di Universiti Putra Malaysia, mengkhawatirkan konsekuensi paparan berulang, khususnya bagi anak-anak.
“Kuncinya adalah mengurangi paparan sekarang untuk melindungi kesehatan anak-anak dan mencegah konsekuensi jangka panjang bagi generasi mendatang,” kata Juliana kepada AFP.
Kekhawatiran tersebut berkaitan dengan risiko kesehatan akibat partikel pencemar yang terhirup. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menjelaskan bahwa partikel halus PM2.5 dapat menembus jauh ke dalam paru-paru dan masuk ke aliran darah. Paparan polusi udara dikaitkan dengan berbagai gangguan kesehatan, termasuk penyakit pernapasan dan kardiovaskular.
Karena itu, upaya mengurangi paparan menjadi penting, terutama bagi anak-anak, lansia, serta orang dengan penyakit jantung atau paru-paru yang sudah ada sebelumnya.
Air Purifier Membantu Mengurangi Paparan, tetapi Bukan Solusi Utama
Kementerian Kesehatan Malaysia menyarankan penggunaan alat pemurni udara untuk membantu menurunkan kadar partikel pencemar di dalam ruangan saat terjadi kabut asap. Panduan kementerian tersebut juga menyarankan agar jendela dan pintu ditutup untuk mengurangi masuknya asap, serta sistem pendingin udara dirawat secara berkala.
WHO juga menyebut penyaring udara portabel dapat membantu mengurangi konsentrasi PM2.5 di dalam ruangan. Namun, efektivitasnya bergantung pada kondisi ruangan, masuknya polutan dari luar, dan aktivitas penghuni. Biaya perawatan serta akses terhadap perangkat juga menjadi pertimbangan.
Langkah perlindungan individu tetap tidak menggantikan kebutuhan untuk menangani sumber pencemaran. WHO menempatkan kebijakan publik yang mengurangi emisi sebagai pendekatan yang lebih diutamakan dibandingkan hanya mengandalkan perlindungan perorangan.
Dalam kasus kabut asap lintas batas, kebutuhan tersebut semakin jelas. Perangkat pemurni udara dapat membantu keluarga mengurangi paparan di dalam rumah, tetapi tidak menghentikan kebakaran yang menghasilkan asap.
Krisis Karhutla Melampaui Batas Negara
Permintaan alat pemurni udara dan perangkat oksigen menjadi salah satu gambaran nyata dampak kabut asap terhadap masyarakat di kawasan. Ketika kualitas udara memburuk, keluarga harus memikirkan cara melindungi kesehatan, sementara pasien yang membutuhkan dukungan oksigen tetap bergantung pada ketersediaan peralatan medis.
Laporan Reuters pada 15 Oktober 2026 juga menggambarkan kabut asap yang meluas akibat kebakaran hutan dan lahan di Indonesia, terutama di Sumatera dan Kalimantan, serta dampaknya terhadap negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura.
Situasi ini menegaskan bahwa karhutla bukan hanya persoalan pemadaman api atau kerusakan ekosistem di wilayah tempat kebakaran terjadi. Asap dapat melintasi perbatasan, mengganggu aktivitas masyarakat, dan menambah beban kesehatan serta pengeluaran rumah tangga di negara lain.
Lonjakan permintaan perangkat untuk menjaga kualitas udara memperlihatkan respons warga terhadap risiko yang mereka hadapi. Namun, perlindungan jangka panjang tetap membutuhkan pengurangan paparan, penanganan kebakaran secara konsisten, serta upaya mencegah karhutla berulang.




Komentar