Lifestyle Entertainment

SGIFF 2026 Hadirkan Film Pilihan dari Indonesia hingga Korea Selatan, Ini 10 Judul yang Layak Ditonton

Four Seasons in Java
Four Seasons in Java

Endoxa Asia – Singapore International Film Festival (SGIFF) 2026 akan berlangsung pada 21 Oktober hingga 1 November 2026 dengan menghadirkan lebih dari 100 film panjang dan pendek dari berbagai negara. Program tahun ini mencakup film-film terbaru, karya klasik, thriller politik, horor, animasi, hingga drama arthouse yang menawarkan perspektif berbeda tentang kehidupan dan masyarakat.

Sejumlah judul sudah menarik perhatian penonton. Adaptasi live-action manga Jepang Look Back dan Possible Love, film terbaru sutradara Korea Selatan Lee Chang-dong setelah delapan tahun absen dari film panjang, dilaporkan telah kehabisan tiket. Sementara itu, pemutaran khusus untuk memperingati 25 tahun film Bollywood Lagaan masih menawarkan kesempatan bagi penonton untuk menyaksikan Aamir Khan secara langsung.

Cyberpunk Edgerunners 2 Tayang 20 Oktober 2026, Hadirkan Empat Karakter Baru

Di luar judul-judul yang banyak dibicarakan tersebut, SGIFF 2026 juga menghadirkan sejumlah film yang layak masuk daftar tontonan. Mulai dari karya sutradara Indonesia Kamila Andini hingga film wuxia pertama Singapura, berikut pilihan film yang menarik perhatian dalam festival tahun ini.

1. The Assassin(s) (2026)

The Assassin(s)

The Assassin(s)

Bagi penonton yang menyukai thriller politik, The Assassin(s) menjadi salah satu judul pembuka SGIFF 2026. Film ini terinspirasi dari peristiwa percobaan pembunuhan Presiden Korea Selatan Park Chung Hee pada 1974.

Dibintangi Lee Min-ho dan Park Hae-il, film ini mengikuti jurnalis yang menyelidiki penembakan tersebut bersama seorang polisi. Penyelidikan mereka berpusat pada pertanyaan mengenai siapa sebenarnya yang berada di balik peristiwa itu.

Film ini juga menuai kontroversi di Korea Selatan. Sejumlah kalangan konservatif menuduhnya mendistorsi sejarah, sementara para pemeran dan sutradaranya dilaporkan menarik diri dari Busan International Film Festival akibat polemik tersebut.

The Assassin(s) dijadwalkan tayang pada 21 Oktober pukul 20.30 di Sands Theatre, Marina Bay Sands, serta 22 Oktober pukul 14.00 di Gallery Theatre, National Museum Singapore.

2. Rose (2026)

Rose

Rose

Film drama periode Rose menampilkan Sandra Hüller sebagai seorang perempuan yang menyamar menjadi tentara laki-laki di sebuah desa Protestan terpencil di Jerman pada abad ke-17.

Michael B. Jordan dan Austin Butler Tampil Perdana di Miami Vice ’85, Reboot Film Mulai Syuting

Dengan pendekatan visual hitam-putih, film ini mengeksplorasi kekerasan yang muncul dari norma gender. Penampilan Hüller menjadi salah satu daya tarik utama film yang telah mendapat perhatian kritikus tersebut.

Bagi penonton yang tertarik pada drama sejarah dengan isu identitas dan konstruksi sosial, Rose menawarkan perspektif yang berbeda dari film periode konvensional.

Film ini dijadwalkan diputar pada 25 Oktober pukul 21.15 di Green Room, Filmhouse, dan 28 Oktober pukul 14.00 di Gallery Theatre, National Museum Singapore.

3. Macho Dancer (1988)

Macho Dancer

Macho Dancer

Film Filipina karya Lino Brocka ini mengikuti Pol, seorang pemuda miskin yang pindah ke distrik lampu merah Manila untuk mencari pekerjaan dan membantu keluarganya.

Melalui gambaran tentang kriminalitas, korupsi, pekerja seks, narkoba, dan kekerasan, Macho Dancer membawa penonton ke sisi gelap kehidupan perkotaan Manila.

Pendekatan film yang keras dan realistis membuatnya menarik bagi penggemar drama kriminal. Karya ini juga disebut memiliki kemiripan dengan film-film awal Martin Scorsese dalam penggambaran dunia kriminal dan karakter yang terjebak dalam lingkungan penuh tekanan.

Pemutaran Macho Dancer dijadwalkan pada 31 Oktober pukul 19.00 di Oldham Theatre.

The Devil’s Plan Season 3 Umumkan Tanggal Tayang, Dead Again Hadirkan Duel Strategi Para Veteran

4. The House on the Moon (2026)

The House on the Moon

The House on the Moon

The House on the Moon menjadi salah satu film yang menarik perhatian karena disebut sebagai film wuxia atau seni bela diri pertama dari Singapura.

Disutradarai Nelson Yeo, film ini mengambil inspirasi dari mitos dewi bulan Chang-Er dan menggabungkan unsur fantasi serta fiksi ilmiah. Lim Shi-An berperan sebagai Chang-Er, seorang perempuan peri yang melakukan perjalanan ke sisi gelap bulan untuk mencari suaminya, Hou Yi, seorang pemanah yang menembak matahari dan diperankan Dominick Rustam.

Karya ini menjadi penghormatan terhadap genre wuxia yang turut membentuk pengalaman sinematik sang sutradara sejak kecil. Perpaduan mitologi, dunia fantasi, dan seni bela diri membuat film tersebut menjadi pilihan bagi penonton yang menyukai kisah cinta dengan latar visual imajinatif.

Film ini dijadwalkan tayang pada 24 Oktober pukul 15.30 di Golden Village VivoCity.

5. Amores Perros (2000)

Amores Perros

Amores Perros

Sebelum dikenal lewat The Revenant dan Birdman, sutradara Alejandro González Iñárritu menarik perhatian dunia perfilman melalui debut film panjangnya, Amores Perros.

Film asal Meksiko ini dibuka dengan kecelakaan mobil yang menghubungkan kehidupan tiga orang asing di Mexico City: seorang model, seorang pembunuh bayaran, dan seorang remaja yang terlibat dalam adu anjing.

Dengan alur cepat dan penggambaran dunia kriminal yang brutal, film ini menyajikan potret keras kehidupan perkotaan. Kekerasan menjadi bagian penting dari narasinya, sehingga film ini lebih cocok bagi penonton yang menyukai thriller kriminal dengan pendekatan realistis.

SGIFF menjadwalkan pemutaran Amores Perros pada 24 Oktober pukul 10.30 dan 1 November pukul 19.30, keduanya di Oldham Theatre.

6. Four Seasons in Java (2026)

Four Seasons in Java

Four Seasons in Java

Film Indonesia karya Kamila Andini ini mengangkat persoalan keadilan bagi korban kekerasan seksual melalui kisah seorang perempuan bernama Pertiwi.

Setelah menjalani 20 tahun penjara karena membunuh seorang laki-laki dalam upaya membela diri, Pertiwi kembali ke kampung halamannya. Namun, kepulangannya tidak disambut baik. Ia juga mendapati bahwa para laki-laki yang dahulu membuatnya dipenjara kini menjadi pemimpin desa.

Melalui pendekatan surealis yang mengingatkan pada gaya David Lynch, Four Seasons in Java mengeksplorasi trauma, ingatan, dan proses penyembuhan. Ceritanya juga menyoroti bagaimana struktur kekuasaan di masyarakat dapat memengaruhi pengalaman korban dalam mencari keadilan.

Film ini dijadwalkan diputar pada 26 Oktober pukul 18.30 di Golden Village Cineleisure, Hall 1, dan 27 Oktober pukul 18.00 di Filmhouse, Redrum.

7. Teenage Sex and Death at Camp Miasma (2026)

Teenage Sex and Death at Camp Miasma

Teenage Sex and Death at Camp Miasma

Bagi penggemar horor slasher, Teenage Sex and Death at Camp Miasma menawarkan perpaduan antara teror, hasrat queer, dan pembongkaran formula horor klasik.

Film karya Jane Schoenbrun ini dibintangi Hannah Einbinder dan Gillian Anderson. Einbinder memerankan seorang pembuat film muda yang ingin menghidupkan kembali waralaba slasher Camp Miasma, dengan melibatkan pemeran utama perempuan dari film aslinya yang dimainkan Anderson.

Cerita tersebut kemudian mengeksplorasi kembali berbagai kiasan horor melalui perspektif baru. Musik bernuansa synth dari Alex G turut menjadi bagian dari atmosfer film.

Pemutaran dijadwalkan pada 26 Oktober pukul 16.00 di Gallery Theatre, National Museum Singapore, dan 31 Oktober pukul 21.00 di Green Room, Filmhouse.

8. Sleep No More (2026)

Sleep No More

Sleep No More

Sleep No More menawarkan horor fantasi yang mengambil inspirasi dari film horor Indonesia. Ceritanya berpusat pada dua saudara perempuan yang bekerja di sebuah pabrik wig yang suram untuk menggantikan ibu mereka setelah kematiannya yang misterius.

Film ini menghadirkan elemen kerasukan, makhluk gaib, dan kematian berdarah. Penggunaan rambut sebagai bagian dari atmosfer horor juga menjadi elemen penting dalam ceritanya.

Bagi penonton yang menyukai horor dengan suasana mencekam dan unsur supernatural, film ini menjadi salah satu pilihan dalam program SGIFF tahun ini.

Sleep No More dijadwalkan diputar pada 27 Oktober pukul 20.45 di Green Room, Filmhouse, dan 31 Oktober pukul 21.30 di Golden Village Cineleisure, Hall 2.

9. We Are Aliens (2026)

We Are Aliens

We Are Aliens

Film animasi debut Kohei Kadowaki, We Are Aliens, mengangkat kisah persahabatan yang berubah seiring waktu.

Ceritanya mengikuti Tsubasa dan Gyotaro, dua sahabat dekat yang tinggal di sebuah kota kecil di Jepang. Kesalahpahaman membuat hubungan mereka renggang hingga keduanya menjalani kehidupan dewasa yang sangat berbeda. Sebuah pertemuan tak terduga kemudian membawa mereka kembali pada kenangan masa kecil dan kesalahan yang pernah terjadi.

Film ini menggunakan kombinasi animasi rotoscope dan gambar tangan untuk menciptakan tampilan yang terasa seperti ingatan lama. Pendekatan visual tersebut melengkapi kisah melankolis tentang persahabatan, jarak, dan masa lalu.

We Are Aliens dijadwalkan tayang pada 28 Oktober pukul 21.00 di Golden Village Cineleisure, Hall 4, serta 30 Oktober pukul 16.00 di Gallery Theatre, National Museum Singapore.

10. Elephants in the Fog (2026)

Elephants in the Fog

Elephants in the Fog

Film debut sutradara Nepal Abinash Bikram Shah ini menyoroti komunitas Kinnar di Nepal, istilah lokal yang digunakan oleh sejumlah orang untuk menggambarkan identitas gender ketiga dan mencakup individu transgender, interseks, serta kasim.

Cerita berpusat pada Pirati, seorang perempuan Kinnar yang menjadi matriark komunitasnya dan jatuh cinta kepada seorang laki-laki. Ia berencana melarikan diri bersama kekasihnya ke Delhi, tetapi rencana tersebut terganggu ketika putrinya, Apsara, menghilang di hutan yang dihuni gajah liar.

Film ini memadukan ketegangan thriller dengan persoalan emosional yang kompleks, sekaligus memperlihatkan lanskap Nepal yang jarang ditampilkan di layar lebar. Elephants in the Fog juga memenangkan Jury Prize pada bagian Un Certain Regard di Festival Film Cannes tahun ini.

Pemutarannya di SGIFF dijadwalkan pada 28 Oktober pukul 18.00 di Golden Village Cineleisure, Hall 1, dan 30 Oktober pukul 17.45 di Golden Village Cineleisure, Hall 2.

SGIFF 2026 Menawarkan Ragam Perspektif Sinema

Dengan lebih dari 100 film panjang dan pendek dari berbagai negara, SGIFF 2026 menghadirkan pilihan yang melampaui film-film populer. Penonton dapat menemukan thriller politik yang memicu perdebatan, horor yang membongkar formula genre, animasi tentang persahabatan, hingga drama Indonesia yang membahas trauma dan keadilan.

Bagi penonton Indonesia, Four Seasons in Java menjadi salah satu judul yang patut diperhatikan karena membawa karya Kamila Andini ke dalam percakapan sinema internasional. Sementara itu, The House on the Moon menawarkan kesempatan untuk melihat bagaimana mitologi dan wuxia diterjemahkan ke dalam produksi film Singapura.

Festival ini berlangsung pada 21 Oktober hingga 1 November 2026. Jadwal, lokasi, dan ketersediaan tiket dapat berubah, sehingga calon penonton sebaiknya memeriksa informasi terbaru melalui situs resmi SGIFF sebelum merencanakan kunjungan.

About The Author

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *