Endoxa Asia – Singapore Writers Festival (SWF) kembali digelar pada 13-22 November 2026 dengan menghadirkan lebih dari 300 penulis, pembicara, dan moderator dalam lebih dari 200 program.
Memasuki edisi ke-29, festival tahun ini mengusung tema “Hidden in Plain Sight”, yang mengeksplorasi cerita, perspektif, serta pengalaman hidup yang kerap terabaikan, tersembunyi, atau dapat dimaknai secara berbeda tergantung dari sudut pandang yang digunakan.
Sejumlah nama besar dari dunia sastra dan budaya akan menjadi bagian dari festival, termasuk Amitav Ghosh, Silvia Moreno-Garcia, Rachel Smythe, Ruha Benjamin, dan Shiori Ito.
Amitav Ghosh hingga Silvia Moreno-Garcia Hadir
Amitav Ghosh, penulis The Glass Palace dan The Ibis Trilogy, akan menyampaikan keynote mengenai bagaimana penulis membayangkan masa depan planet di tengah meningkatnya berbagai krisis global.
Ia juga akan bergabung dengan novelis Singapura Jemimah Wei dan Balli Kaur Jaswal dalam sesi What the Family Doesn’t Say. Diskusi tersebut akan membahas rahasia keluarga, migrasi, ambisi, serta sejarah antargenerasi.
Sementara itu, Silvia Moreno-Garcia, penulis Mexican Gothic, akan membawakan keynote mengenai kebenaran, penipuan, dan artifisialitas.
Dari ranah teknologi dan masyarakat, sosiolog Amerika sekaligus MacArthur Fellow Ruha Benjamin akan membahas bias tersembunyi di dunia digital.
Festival ini juga menghadirkan perspektif dari Asia. Advokat kesetaraan gender asal Indonesia Kamala Chandrakirana akan berbicara mengenai memori budaya dan kesetaraan gender.
Sementara itu, pembuat film dokumenter dan jurnalis Jepang Shiori Ito akan membahas film Black Box serta kerja jurnalistik investigasinya mengenai kekerasan seksual. Ito dikenal sebagai salah satu figur penting dalam gerakan #MeToo di Jepang.
Dari Nvidia hingga Lore Olympus
SWF 2026 tidak hanya berfokus pada sastra fiksi. Jurnalis Stephen Witt, penulis The Thinking Machine, akan membahas perkembangan Nvidia dan CEO perusahaan tersebut, Jensen Huang.
Lineup lainnya mencakup novelis Malaysia yang pernah masuk daftar pendek Booker Prize Tan Twan Eng, kreator Lore Olympus Rachel Smythe, novelis China Shuang Xuetao, penulis Nevermoor Jessica Townsend, serta Robin Stevens, penulis seri Murder Most Unladylike.
Kehadiran Rachel Smythe juga menjadi bagian dari program Youth Fringe. Kreator Lore Olympus tersebut akan membahas bagaimana mitologi Yunani diolah kembali untuk generasi yang tumbuh di era digital.
Ada Program Khusus Crime dan Mystery
Salah satu program baru SWF tahun ini adalah Crime & Mystery Spotlight, jalur khusus yang mengeksplorasi thriller, true crime, horor, dan fiksi detektif.
Robin Stevens dan penulis Irlandia Louise Hegarty akan membahas warisan Agatha Christie sebagai salah satu figur paling berpengaruh dalam genre kriminal.
Silvia Moreno-Garcia juga akan bergabung dengan penulis Singapura Jean Tay dan Ovidia Yu untuk membicarakan perkembangan crime fiction.
Sementara itu, penulis kriminal Korea Selatan Seo Mi-ae bersama Rueben Dass dan Jocelyn Suarez akan membahas bagaimana menciptakan karakter pembunuh dan predator yang meyakinkan di halaman.
Program tersebut memperluas cakupan festival dari sastra klasik dan kontemporer ke genre populer yang memiliki basis pembaca luas.
Cerita Singapura dan Asia Tenggara Mendapat Ruang Besar
Selain menghadirkan penulis internasional, SWF 2026 memberikan ruang besar bagi karya dan cerita dari Singapura serta Asia Tenggara.
Sejumlah penulis Singapura yang tampil antara lain Jemimah Wei, Balli Kaur Jaswal, Pooja Nansi, Jeremy Tiang, Myle Yan Tay, Wen-yi Lee, Suffian Hakim, dan Daryl Qilin Yam.
Melalui program SEA xChange, festival kembali menyoroti tulisan dan gagasan dari Asia Tenggara. Programnya mencakup tema folklore regional, arsitektur, migrasi, hingga jurnalisme di dunia Melayu.
Festival juga menghadirkan program berbahasa Mandarin, Melayu, dan Tamil yang dikurasi oleh Chan Cheow Thia, Muhammad Ilyia Kamsani, dan Neelakandan Sivanantham.
Salah satu program menarik adalah coastal walk di West Coast Park yang dipimpin pendiri Orang Laut SG, Firdaus Sani. Program tersebut mengeksplorasi sejarah komunitas Orang Laut dan Orang Pulau di Singapura.
Ada pula literary walk berbahasa Mandarin di Yunnan Garden, tur bilingual mengenai bioskop-bioskop yang telah hilang dari Singapura, serta percakapan berbahasa Tamil bersama penyair Yuvan Chandrasekar.
Tak Hanya untuk Pembaca Dewasa
SWF 2026 juga menyiapkan program untuk pembaca muda.
SWF Playground kembali hadir untuk anak-anak berusia hingga 12 tahun dengan sejumlah aktivitas bersama penulis buku anak dan young adult, termasuk Jessica Townsend dan Robin Stevens.
Programnya mencakup live drawing battle, workshop komik, hingga Bring Your ‘Chou Chou’ Day!, yang mengajak anak usia empat hingga enam tahun mengubah mainan atau benda kesayangan mereka menjadi cerita bergambar.
Sementara itu, Youth Fringe diperuntukkan bagi peserta berusia 13 hingga 25 tahun. Program ini memberikan kesempatan bagi generasi muda untuk berinteraksi dengan dunia sastra sekaligus mengembangkan keterampilan seperti kurasi dan moderasi.
Tiket Singapore Writers Festival Mulai S$5
Singapore Writers Festival 2026 diselenggarakan Arts House Group atas penugasan National Arts Council dan didukung Ministry of Culture, Community and Youth.
Festival pass reguler dibanderol S$30, sementara youth pass tersedia seharga S$15. Tiket untuk program tertentu dimulai dari S$5.
Periode early bird dengan potongan harga 20 persen untuk festival pass dan program tertentu berlangsung dari 29 September hingga 18 Oktober.
Mulai 19 Oktober, pelajar, anggota National Service penuh waktu, serta warga berusia 55 tahun ke atas dapat memperoleh potongan harga 20 persen.
Kredit SG Culture Pass juga dapat digunakan untuk sejumlah pengalaman dalam festival.
Dengan lebih dari 200 program selama 10 hari, SWF 2026 tidak hanya menjadi pertemuan penulis dan pembaca, tetapi juga ruang untuk mempertemukan sastra dengan isu budaya, teknologi, sejarah, migrasi, identitas, hingga perkembangan masyarakat di Asia dan dunia.



Komentar