Endoxa Asia – Sepanjang September 2026, Galeri Indonesia Kaya menghadirkan rangkaian pertunjukan dan Ruang Kreatif yang mempertemukan seni tradisional Indonesia dengan format yang lebih dekat dengan penonton masa kini.
Seni dan budaya Indonesia tidak hanya hadir melalui pertunjukan di atas panggung. Sepanjang September 2026, Galeri Indonesia Kaya menghadirkan rangkaian program yang memungkinkan masyarakat mengenal, mempelajari, sekaligus mengalami langsung beragam bentuk seni budaya Nusantara.
Melalui pertunjukan akhir pekan dan program Ruang Kreatif, rangkaian tersebut mencakup musik tradisional, tari, cerita rakyat, hingga eksplorasi medium seperti zine dan live podcast. Format yang beragam memperlihatkan bagaimana warisan budaya dapat diperkenalkan melalui pengalaman yang berbeda.
“Indonesia tidak pernah kehabisan kekayaan seni dan budaya untuk terus diperkenalkan dan dihidupkan kembali di tengah masyarakat,” ujar Renitasari Adrian, Program Director Galeri Indonesia Kaya.
Menurutnya, program-program tersebut tidak hanya ditujukan sebagai tontonan, tetapi juga memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk berinteraksi dan terlibat langsung dalam seni budaya, termasuk menampilkan hasil pembelajaran mereka di hadapan publik.
Dari Harmoni Nusantara hingga Eksplorasi Angklung

Rangkaian September dibuka pada 5 September melalui Harmoni Nusantara persembahan Ikreasindo.
Pertunjukan tersebut memadukan musik, vokal, dan interaksi bersama penonton. Lagu “Janger” dari Bali menjadi pembuka sebelum pertunjukan berlanjut dengan “Sing Sing So” dan “Rame-Rame”. Penonton kemudian diajak memainkan angklung bersama sebelum pertunjukan ditutup dengan Medley Nusantara yang merangkum sejumlah lagu daerah.
Konsep tersebut menempatkan penonton bukan hanya sebagai penerima pertunjukan, tetapi juga sebagai bagian dari pengalaman musik yang dibawakan.
Sehari setelahnya, Galeri Indonesia Kaya berkolaborasi dengan Jakarta Poetry Slam menghadirkan “NgeZine Yuk! Dengan Ika Vantiani”.
Dalam program bersama seniman, kurator, dan perajin asal Jakarta Ika Vantiani tersebut, peserta diajak menuangkan cerita dan pengalaman personal melalui zine. Medium yang dibuat secara mandiri ini dapat memadukan tulisan, ilustrasi, maupun kolase.
Kegiatan tersebut memperluas cara masyarakat berinteraksi dengan seni. Cerita personal tidak hanya disampaikan melalui pertunjukan, tetapi juga dapat diterjemahkan menjadi karya visual sederhana.
Mengenal Sape dan Tari Gagak Koncar Secara Langsung

Program Ruang Kreatif kemudian membawa peserta lebih dekat dengan seni tradisional melalui kelas.
Pada 7–10 September, Galeri Indonesia Kaya mengadakan Kelas Alat Musik Sape bersama Uyau Moris, musisi dan komposer asal Kalimantan Utara. Peserta diperkenalkan dengan sape, alat musik petik tradisional khas suku Dayak Kenyah, sekaligus mempelajari cara memainkannya.
Setelah mengikuti kelas, peserta mendapat kesempatan menampilkan hasil pembelajaran melalui uji pentas pada 12 September.
Pada hari yang sama, Uyau Moris juga menghadirkan Borneo Sounds of Heritage: Vibrasi Dawai Dayak. Pertunjukan lintas media tersebut menempatkan sape sebagai elemen utama untuk membawa penonton mengenal perjalanan kultural masyarakat Dayak.
Alunan sape dipadukan dengan musik modern, memperlihatkan kemungkinan dialog antara instrumen tradisional dengan bentuk kesenian kontemporer.
Format serupa kembali hadir melalui Kelas Tari Gagak Koncar bersama Jugala Raya pada 14–17 September. Peserta mempelajari Tari Gagak Koncar, salah satu bentuk tari Jaipongan dari Tanah Sunda yang dalam program ini dikaitkan dengan nilai keberanian, kesetiaan, dan kebijaksanaan.
Setelah empat sesi pembelajaran, peserta kembali mendapat kesempatan untuk memperlihatkan hasil latihan melalui uji pentas pada 19 September.
Cerita Rakyat Bertemu Format Live Podcast

Seni budaya juga diperkenalkan melalui medium yang lebih dekat dengan budaya digital.
Galeri Indonesia Kaya menghadirkan Live Podcast Cerita Rakyat bersama RAPOT. Reza, Anka, Radhini, dan Abigail membawakan cerita mengenai legenda Nyi Roro Kidul melalui gaya bercerita khas podcast mereka.
Pendekatan tersebut menghadirkan cerita rakyat dalam format yang berbeda dari pementasan tradisional. Kisah yang telah dikenal dalam budaya Indonesia dapat kembali diperkenalkan melalui medium yang lebih akrab dengan keseharian audiens masa kini.
Musik, Tari, dan Cerita Daerah dalam Satu Panggung

Uji pentas Kelas Tari Gagak Koncar pada 19 September juga menjadi pembuka untuk pertunjukan NISKALA – Suara Kepulauan oleh Svbito String Quartet feat Dhea Seto.
Pertunjukan tersebut mempertemukan musik dan tari untuk membawa penonton menjelajahi cerita serta kekayaan budaya dari berbagai wilayah Indonesia.
Empat musisi perempuan dari Svbito String Quartet membawakan lagu-lagu daerah yang telah diaransemen khusus untuk format string quartet. Dhea Seto kemudian menerjemahkan karakter dan nilai dari setiap daerah melalui gerak sebagai penari tunggal.
Pertemuan tersebut memperlihatkan pendekatan lain dalam memperkenalkan musik daerah. Lagu-lagu tradisional tidak hanya dipertahankan dalam bentuk aslinya, tetapi juga dapat diolah ke dalam format pertunjukan yang berbeda.
Menutup September dengan Perjalanan Tradisi Tambua

Rangkaian program September ditutup pada 26 September melalui Warih persembahan Kelompok Kesenian Tambua Tansa Sabariyah.
Karya tersebut mengangkat perjalanan sebuah tradisi di tengah kehidupan masyarakat, termasuk proses pewarisan nilai budaya dari satu generasi ke generasi berikutnya serta perubahan yang menyertainya.
Pertunjukan menggunakan tabuhan tambua khas masyarakat Danau Maninjau untuk merefleksikan perjalanan, perjuangan, kemenangan, dan tantangan dalam menjaga sebuah warisan budaya.
Kelompok Kesenian Tambua Tansa Sabariyah telah berdiri sejak 1994 dan dalam siaran pers disebut telah berkembang hingga generasi ke-10. Kelompok tersebut membawa komitmen untuk mempertahankan nilai budaya nagari dan identitas masyarakat Danau Maninjau.
Ketika Mengenal Budaya Menjadi Sebuah Pengalaman
Rangkaian program Galeri Indonesia Kaya sepanjang September memperlihatkan bahwa pengenalan seni budaya dapat dilakukan melalui banyak pintu.
Penonton dapat mengenal musik daerah melalui pertunjukan, memainkan angklung secara langsung, mempelajari sape, belajar tari tradisional, membuat zine, mendengarkan cerita rakyat melalui live podcast, atau menyaksikan bagaimana musik tradisional berdialog dengan format pertunjukan modern.
Pendekatan tersebut membuat seni budaya tidak berhenti sebagai sesuatu yang dipandang dari luar. Masyarakat juga diberi ruang untuk mempelajarinya, mencoba, dan dalam beberapa program bahkan menampilkan hasil pembelajaran kepada publik.
Dengan cara tersebut, Galeri Indonesia Kaya menghadirkan seni budaya Nusantara bukan hanya sebagai warisan yang perlu dikenang, tetapi sebagai pengalaman yang dapat terus dipelajari dan diperkenalkan kembali dalam konteks kehidupan masa kini.
Informasi mengenai program dan jadwal mendatang Galeri Indonesia Kaya dapat diperoleh melalui IndonesiaKaya.com.



Komentar