Nasional News

Musim Hujan 2026 Tak Serentak, BMKG Prediksi September Masih Kering

musim hujan

Endoxa Asia – Musim hujan 2026 belum akan datang secara serentak di seluruh Indonesia. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi sejumlah wilayah masih mengalami curah hujan rendah hingga Oktober, sebelum kondisi hujan secara umum mulai meningkat pada November.

Prediksi tersebut menjadi penting setelah sebagian besar wilayah Indonesia mengalami musim kemarau yang lebih kering dan panjang dari kondisi normal. BMKG sebelumnya memperkirakan El Niño dengan intensitas sangat kuat turut mempertahankan kondisi atmosfer yang relatif kering pada periode 2026.

September Masih Didominasi Kondisi Kering

Berdasarkan prediksi BMKG untuk September 2026, sebanyak 72,39 persen wilayah Indonesia diperkirakan mengalami curah hujan kategori rendah, yakni 0 hingga 100 milimeter per bulan. Hanya 25,69 persen yang masuk kategori menengah, sementara kategori tinggi mencapai 1,92 persen dan sangat tinggi hanya 0,10 persen.

Kondisi ini sejalan dengan prakiraan BMKG pada awal September. Untuk periode 8 hingga 14 September 2026, sebagian besar wilayah Indonesia masih diprediksi memiliki curah hujan rendah hingga menengah. Hujan kurang dari 50 milimeter per dasarian masih berpotensi mendominasi Sumatra bagian selatan, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, sebagian besar Kalimantan dan Sulawesi, Maluku, serta sebagian Papua.

Dengan kata lain, hujan yang mulai muncul di sejumlah daerah tidak otomatis menandakan seluruh Indonesia telah memasuki musim hujan. Pergantian musim berlangsung bertahap dan sangat bergantung pada zona musim masing-masing wilayah.

Juicy Luicy Batal Manggung di Batam karena Bagasi, Akun Instagram Uan Mendadak Hilang

Oktober Belum Sepenuhnya Menjadi Musim Hujan

Kondisi mulai berubah pada Oktober, tetapi belum merata. BMKG memperkirakan 49,92 persen wilayah Indonesia masih berada dalam kategori curah hujan rendah. Sebanyak 45,08 persen diprediksi mengalami hujan kategori menengah, sedangkan 4,68 persen masuk kategori tinggi dan 0,33 persen kategori sangat tinggi.

Artinya, hampir separuh wilayah Indonesia masih berpotensi menerima curah hujan di bawah 100 milimeter sepanjang Oktober. Wilayah dengan curah hujan rendah masih tersebar di berbagai pulau, termasuk sebagian Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, Maluku hingga Papua.

Untuk Kalimantan Timur, misalnya, BMKG memprediksi sebagian besar kabupaten dan kota masih berada dalam kategori hujan rendah pada Oktober. Mahakam Ulu dan Berau menjadi wilayah yang diprediksi masuk kategori menengah.

November Mulai Lebih Basah

Perubahan yang lebih jelas terlihat pada November. BMKG memprediksi 70,05 persen wilayah Indonesia mengalami curah hujan kategori menengah, 16,97 persen kategori rendah, 12,48 persen kategori tinggi dan 0,50 persen kategori sangat tinggi.

Data tersebut menunjukkan bahwa November memang berpotensi menjadi periode yang jauh lebih basah dibanding September dan Oktober. Namun, kondisi tersebut tidak berarti seluruh Indonesia otomatis mengalami puncak musim hujan pada bulan yang sama.

Gunung Fuji Dilanda Longsor dan Dua Pendaki Meninggal Saat Musim Pendakian Berakhir

Sebagian wilayah masih diprediksi menerima curah hujan rendah pada November. Di DKI Jakarta, misalnya, Jakarta Barat dan Jakarta Utara termasuk wilayah yang diprediksi berada dalam kategori rendah, sementara Jakarta Selatan, Jakarta Pusat dan Jakarta Timur masuk kategori menengah.

Perbedaan tersebut memperlihatkan mengapa informasi mengenai musim hujan perlu dibaca berdasarkan wilayah, bukan hanya berdasarkan kalender nasional.

El Niño Masih Menjadi Faktor Penting

Lamanya kondisi kering pada 2026 tidak terlepas dari dinamika atmosfer dan laut. Pemantauan BMKG pada akhir Agustus menunjukkan indeks ENSO tiga bulanan untuk periode Juni hingga Agustus berada pada angka 2,2, yang dikategorikan sebagai El Niño dengan intensitas sangat kuat.

BMKG juga menyebut pengaruh El Niño sangat kuat masih membatasi suplai uap air ke Indonesia. Dalam prakiraan awal September, kondisi tersebut disebut turut menyebabkan curah hujan rendah masih mendominasi berbagai wilayah.

Pada saat yang sama, BMKG memprediksi El Niño dapat bertahan hingga awal kuartal pertama 2027. Potensi IOD positif pada September hingga Desember 2026 juga menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan karena dapat memperkuat kondisi kering di sejumlah wilayah.

Asian Games 2026, Indonesia Kirim 432 Atlet dengan Target 4 Emas

Jadi, Kapan Musim Hujan 2026 Dimulai?

Jawabannya tidak bisa ditetapkan pada satu tanggal atau satu bulan untuk seluruh Indonesia.

Data BMKG menunjukkan September masih relatif kering secara nasional. Oktober mulai menunjukkan peningkatan curah hujan, tetapi hampir separuh wilayah masih berada dalam kategori rendah. Pada November, sebagian besar wilayah diprediksi masuk kategori hujan menengah, sehingga kondisi basah diperkirakan semakin meluas.

BMKG sendiri menegaskan bahwa prediksi tiga bulan tersebut merupakan gambaran umum dan masyarakat perlu mengikuti pembaruan bulanan karena prakiraan dapat berubah mengikuti perkembangan kondisi atmosfer dan laut.

Karena itu, pertanyaan mengenai kapan musim hujan 2026 datang sebaiknya tidak dijawab dengan satu bulan untuk seluruh Indonesia. Di satu wilayah, hujan bisa mulai lebih awal, sementara wilayah lain masih menghadapi kondisi kering hingga memasuki akhir tahun.

Yang lebih jelas dari data terbaru BMKG adalah adanya tren peningkatan curah hujan dari September menuju November, meski peralihannya berlangsung bertahap dan tidak seragam antarwilayah.

About The Author

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *