Key Insights
- Asha Smara Darra atau Oscar Lawalata menggagas Umaratu sebagai wadah pelestarian tenun Sumba di Maujawa, Sumba Timur.
- Program tersebut berupaya memberdayakan lebih dari 100 perajin di lima desa sekaligus mendorong regenerasi penenun muda.
- Umaratu tidak hanya berfokus pada fashion, tetapi juga mengembangkan tradisi lokal melalui tiga aspek: sandang, pangan, dan papan.
Kecintaan Asha Smara Darra, yang sebelumnya dikenal sebagai Oscar Lawalata, terhadap tenun Sumba membawanya pada sebuah proyek yang lebih besar dari sekadar karya fashion. Ia menggagas Umaratu, sebuah yayasan yang kini tengah membangun rumah budaya di Maujawa, Sumba Timur.
Nama Umaratu memiliki arti “rumah ibu bumi”. Gagasan tersebut menjadi upaya Asha untuk ikut menjaga keberlangsungan tradisi lokal sekaligus menciptakan ruang yang dapat menghubungkan budaya, masyarakat, dan kehidupan sehari-hari.
Pengenalan Umaratu dilakukan melalui sebuah pameran di Dharmawangsa Hotel, Jakarta, menjelang Hari Tenun Nasional pada 7 September. Berbagai karya tenun dari sejumlah wilayah Sumba ditampilkan, termasuk Kampung Raja Prailiu, Pau, Rende, Kampung Adat Kanatang, dan Kaliuda.
Bagi Asha, perjalanan tersebut juga menjadi bagian dari refleksi atas 25 tahun kariernya sebagai desainer. Ketika pertama kali masuk ke industri mode, ia mengaku masih melihat wastra tradisional dari permukaan.
Seiring perjalanan karier, pemahamannya terhadap kain tradisional berkembang. Ia mulai mempelajari sejarah, proses pembuatannya, hingga bagaimana kain menjadi bagian dari identitas sebuah kelompok masyarakat.
Tenun Sumba kemudian menjadi salah satu wastra yang menarik perhatiannya secara khusus. Motif yang menggambarkan hubungan dengan leluhur dan alam membuatnya ingin melihat langsung bagaimana tradisi tersebut dijalankan oleh masyarakat.
Dari pertemuan dengan para perajin, Asha juga melihat bahwa tantangan pelestarian tenun tidak hanya berkaitan dengan keberadaan kain itu sendiri. Kesejahteraan orang-orang yang berada di balik proses pembuatannya menjadi persoalan yang tidak kalah penting.
Perempuan memiliki peran besar dalam menjaga tradisi menenun di Sumba. Namun, menurut Asha, pemberdayaan mereka belum sepenuhnya menghasilkan kesejahteraan yang diharapkan.
Berbagai program dari pemerintah maupun pihak swasta memang telah hadir untuk membantu masyarakat. Namun, Asha menilai program yang berjalan sesaat sulit menciptakan perubahan jangka panjang. Konsistensi menjadi salah satu hal yang dibutuhkan agar pemberdayaan benar-benar memberikan dampak.
Persoalan lainnya adalah regenerasi. Seperti banyak tradisi kain di berbagai daerah, keberlangsungan tenun bergantung pada kemampuan generasi berikutnya untuk mempertahankan keterampilan tersebut.
Namun, Asha melihat adanya peluang dari perubahan cara generasi muda memandang wastra. Ketika kain tradisional mulai hadir dalam bentuk busana yang lebih kekinian dan mendapat apresiasi yang lebih luas, minat anak muda terhadap tenun ikut tumbuh.
Tenun juga memiliki relevansi dengan kesadaran lingkungan yang semakin kuat di kalangan generasi muda. Proses pembuatan kain dengan pewarna alami dipandang memiliki kaitan dengan gaya hidup yang lebih berkelanjutan.
Semangat tersebut juga terlihat dari keterlibatan pemuda lokal seperti Umbu Kudu Maramba Lewa atau Uka. Tumbuh dalam keluarga penenun membuatnya mengenal tradisi tersebut sejak kecil.
Uka kemudian mencoba memperluas kecintaan terhadap tenun melalui taman belajar untuk anak-anak dari tingkat SD hingga SMA. Pembelajaran mengenai tenun dimasukkan ke dalam aktivitas tersebut dengan harapan anak-anak tidak hanya mengenal tradisinya, tetapi juga tumbuh dengan rasa memiliki.
Baginya, ketertarikan harus muncul lebih dulu sebelum kecintaan dan rasa memiliki terbentuk. Pendekatan tersebut memperlihatkan bahwa pelestarian budaya tidak selalu harus dimulai dari generasi yang sudah memahami nilai sebuah tradisi, tetapi juga dari bagaimana tradisi itu diperkenalkan sejak usia muda.
Sejak didirikan pada tahun lalu, Umaratu telah menjangkau lebih dari 100 perajin yang tersebar di lima desa di sekitar Maujawa. Angka tersebut menunjukkan bahwa proyek ini mulai dibangun sebagai ekosistem, bukan sekadar kegiatan pameran atau produksi kain.
Menariknya, ruang yang ingin dibangun Umaratu juga tidak berhenti pada fashion. Konsepnya bertumpu pada tiga kebutuhan dasar berbasis tradisi lokal, yaitu sandang, pangan, dan papan.
Artinya, pelestarian yang dibayangkan Asha mencakup lebih banyak aspek kehidupan. Selain tenun sebagai sandang, Umaratu juga ingin mengembangkan kuliner sebagai bagian dari pangan serta arsitektur tradisional sebagai bagian dari papan.
Pendekatan tersebut membuat pelestarian budaya tidak ditempatkan sebagai sesuatu yang hanya disimpan di masa lalu. Sebaliknya, tradisi lokal berusaha dipertahankan dengan tetap menjadi bagian dari kehidupan masyarakat dan dapat beradaptasi dengan generasi baru.
Pada akhirnya, Umaratu membawa gagasan bahwa menjaga tenun Sumba bukan hanya tentang mempertahankan motif, teknik, atau kain. Di balik setiap lembar tenun terdapat pengetahuan, mata pencaharian, identitas, serta hubungan antargenerasi yang ikut menentukan apakah sebuah tradisi akan tetap hidup.
Bagi Asha dan para perajin muda yang terlibat, masa depan tenun mungkin justru bergantung pada kemampuan tradisi tersebut untuk terus digunakan, dicintai, dan dirasakan relevan oleh generasi berikutnya.



Komentar