Key Insights
- Jakarta Doodle Fest 2026 menjadikan Musikal Absurd: Hidup Segan But I’m Not Done sebagai program utama.
- Pertunjukan diperpanjang menjadi 90 menit dan menghadirkan sejumlah karakter baru.
- Pengunjung juga bisa menjelajahi “semesta Absurd” melalui instalasi dan ruang interaktif Komplek Absurd.
Jakarta Doodle Fest (JDF) kembali digelar dengan pendekatan yang berbeda. Memasuki edisi keempat, festival seni visual ini menjadikan pengalaman dan pertunjukan sebagai fokus utama melalui Musikal Absurd: Hidup Segan But I’m Not Done.
Dipersembahkan bersama Indonesia Kaya dan berkolaborasi dengan Jakarta Art House, pertunjukan tersebut berlangsung pada 4–5 September 2026 di Galeri Ciputra Artpreneur, Jakarta. Sebanyak tiga sesi pementasan dijadwalkan selama dua hari penyelenggaraan.
Musikal ini terinspirasi dari karya ilustrator lokal Michelle Sherrina atau Sherchle. Setelah pertama kali dipentaskan pada November 2025, versi terbaru hadir dengan pengembangan cerita, karakter baru, serta durasi yang diperpanjang menjadi 90 menit.
Salah satu karakter baru adalah Christuna Aguillera yang diperankan Ode Waode. Sejumlah pemain dari pementasan sebelumnya juga kembali, termasuk Made Aurellia sebagai Vina Panduanidup, Pila sebagai Mamah, dan Uyo sebagai Sugeng.
Cerita berpusat pada Vina Panduanidup, perempuan berusia 29 tahun yang bekerja di ibu kota dan mulai mempertanyakan makna hidupnya. Dalam perjalanannya, Vina berinteraksi dengan makhluk dari dunia khayalan Absurd.
Melalui musik, seni visual, dan emosi, pertunjukan tersebut membawa Vina menelusuri memori untuk menemukan kembali semangat serta alasan untuk melanjutkan hidup.
Pengembangan musikal kembali melibatkan sejumlah kreator yang menggarap versi sebelumnya. Sherchle tetap menjadi kreator dunia Absurd, sementara Aulion dipercaya sebagai sutradara. Palka Kojansow menangani naskah dan lirik, dengan musik dari Ammir Gita dan Achi Hardjakusumah.
JDF 2026 juga tidak membatasi pengalaman Absurd di dalam ruang pertunjukan. Pengunjung dapat menjelajahi Komplek Absurd yang menghadirkan berbagai elemen dari dunia ilustrasi Sherchle, termasuk instalasi Kremes-Kremes Kehidupan, Warung Ncik Sherchle, Fotokopi Bang Jali, hingga Toko Kembang Absurd.
Konsep tersebut memperlihatkan arah baru JDF dalam mengembangkan intellectual property (IP) kreator. Karya visual tidak lagi berhenti sebagai ilustrasi, tetapi diterjemahkan menjadi pengalaman lintas medium yang dapat dinikmati secara langsung.
Setelah sebelumnya menggelar program musikal pada 2024 melalui Moonboy & His Starguide, JDF kini kembali mengeksplorasi hubungan antara ilustrasi, pertunjukan, dan pengalaman audiens. Bagi penyelenggara, pendekatan ini menjadi bagian dari upaya membuka ruang baru bagi karya kreator lokal untuk berkembang melampaui medium asalnya.



Komentar