
Key Insights:
- Pameran tunggal perdana Mandy CJ menghadirkan 16 karya tentang iman, identitas, toleransi, dan pencarian makna.
- Simbol dari berbagai tradisi spiritual dipadukan sebagai bahasa visual untuk membangun ruang dialog, bukan memperdebatkan keyakinan.
- “The Way Back” juga menghadirkan program publik, termasuk lelang karya untuk mendukung pembangunan dan pemulihan masjid di Aceh.
Alih-alih menawarkan jawaban tunggal tentang kepercayaan, pameran ini merekam perjalanan panjang dari kemarahan, keraguan, hingga upaya memahami spiritualitas dengan perspektif yang lebih terbuka.
Pameran yang dikuratori Doni Ahmad ini berlangsung di C Project by Museum Of Toys (MOT), Wisma Geha, Menteng, Jakarta Pusat, pada 11 Juli hingga 15 Agustus 2026. Sebanyak 16 lukisan ditampilkan dengan medium spray paint, mixed media, dan acrylic.
Karya-karya tersebut merupakan bagian dari perjalanan artistik Mandy sejak 2023. Beberapa karya terbaru mulai dikerjakan sejak Oktober 2025, sementara satu karya merekam fase awal pencarian spiritualnya.
Dalam proses berkaryanya, Mandy mengaku pernah berada pada fase ketika kemarahan menjadi cara utama untuk merespons persoalan dalam narasi keagamaan. Salah satu isu yang ia soroti adalah standar ganda terhadap perempuan dalam representasi keagamaan.
“Dalam perjalanan karya saya, ada fase awal ketika saya banyak mengekspresikan kemarahan,” ujar Mandy CJ.
Namun, pendekatan itu perlahan berubah. Simbol-simbol dari Islam, Katolik, Buddha, dan tradisi spiritual lainnya tidak lagi digunakan sebagai kritik langsung terhadap agama tertentu. Mandy justru mengolahnya menjadi bagian dari bahasa visual untuk memahami pengalaman spiritualnya sendiri.
“Ini bukan lagi tentang kemarahan, melainkan perjalanan ke dalam diri dan mengolah semua pengalaman secara lebih utuh,” katanya.
Perubahan tersebut menjadi salah satu inti penting dalam “The Way Back”. Pameran ini menunjukkan bagaimana pengalaman personal dapat berkembang menjadi percakapan yang lebih luas tentang identitas, keyakinan, dan cara manusia memahami perbedaan.
Sejumlah karya juga lahir dari kolaborasi. Mandy menggandeng influencer Tasya Kissty dalam sebuah lukisan yang terinspirasi dari perjalanan spiritualnya sebagai seorang Muslim. Sementara itu, ahli kaligrafi Islam Wildan F. Akbar turut menuliskan elemen kaligrafi dalam beberapa karya.
Bagi kurator Doni Ahmad, proses pencarian terhadap nilai-nilai yang diyakini seseorang tidak selalu berujung pada penolakan terhadap kepercayaan. Sebaliknya, perjalanan tersebut dapat membuat seseorang kembali memahami keyakinannya dengan sudut pandang yang berbeda.
“Kadang jika kita terus mencari tahu nilai-nilai di luar diri kita, pada akhirnya kita justru punya definisi baru terhadap kepercayaan yang dulu,” ujar Doni.
Gagasan tersebut membuat “The Way Back” relevan di tengah masyarakat yang semakin beragam. Ketika perbedaan keyakinan kerap menjadi sumber perdebatan, pameran ini menawarkan pendekatan yang lebih reflektif: melihat iman sebagai sesuatu yang dapat terus berkembang melalui pengalaman, dialog, dan perjumpaan dengan orang lain.
Rangkaian pameran juga akan dilengkapi sejumlah program publik. Pada 1 Agustus 2026, akan digelar Live Painting & Auction. Dua karya kolaborasi Mandy CJ dan Axel Vinesse akan dilelang, dengan hasil penjualan didedikasikan untuk pembangunan dan pemulihan masjid di Aceh melalui Yayasan Pemuda Peduli.
Di hari yang sama, pengunjung juga dapat menyaksikan proses live painting Mandy. Sementara itu, rangkaian program ditutup dengan Gathering & Workshop pada 15 Agustus 2026 melalui sesi melukis bersama Styloz.
“The Way Back” pada akhirnya bukan hanya tentang perjalanan seorang seniman dalam menemukan kembali makna spiritualitas. Pameran ini juga mengajak publik melihat bahwa perbedaan keyakinan tidak selalu harus berakhir pada jarak. Di baliknya, masih ada ruang untuk membicarakan empati, cinta kasih, dan kemanusiaan.
Pameran ini terbuka untuk umum dan gratis. Pengunjung dapat datang setiap Selasa hingga Minggu, pukul 13.00-19.00 WIB, di C Project by Museum Of Toys (MOT), JKT Art Hub, Wisma Geha, Lantai 2, Jalan Timor No. 25, Menteng, Jakarta Pusat.



