
Studio animasi Jepang yang dikenal dengan bahasa visual eksperimental ini memilih menghadirkan adaptasi yang lebih setia pada manga karya Masamune Shirow terbitan 1989, menawarkan pengalaman yang terasa baru tanpa menghapus warisan yang telah membentuk reputasi franchise tersebut.
Dikenal lewat karya-karya yang berani melampaui estetika anime konvensional, Science SARU membawa identitas visual yang lebih ekspresif dan dinamis ke dalam semesta THE GHOST IN THE SHELL. Alih-alih mempertahankan atmosfer dingin dan kontemplatif yang melekat pada adaptasi-adaptasi sebelumnya, serial terbaru ini menampilkan ritme yang lebih hidup, lapisan humor yang lebih terasa, serta karakter yang bergerak mengikuti energi khas manga orisinalnya.

Di balik proyek ini, sutradara Mokochan bekerja bersama produser Kengo Abe dari Bandai Namco dan Kohei Sakita dari Science SARU untuk merancang sebuah interpretasi yang tetap menghormati material sumber sekaligus relevan bagi generasi penonton baru. Pendekatan tersebut juga diperkuat oleh keterlibatan penulis fiksi ilmiah EnJoe Toh dalam pengembangan karakter, sementara identitas visualnya dipercantik melalui logo krom futuristis rancangan Hajime Sorayama.
Baca juga: Golden Bertahan di Tengah Peta Pop Global yang Semakin Padat
Nuansa kontemporer serial ini semakin lengkap lewat kolaborasi lintas disiplin kreatif. King Gnu dipercaya membawakan lagu pembuka, sedangkan MILLENNIUM PARADE kembali dari masa jeda mereka untuk menghadirkan karya kolaboratif bersama Saya Gray dan Daniel Caesar, memperluas pengalaman THE GHOST IN THE SHELL melampaui medium animasi menuju lanskap budaya populer yang lebih luas.





Menjelang penayangan global serial ini, Hypebeast berbincang langsung dengan Mokochan mengenai visi kreatif di balik adaptasi terbaru tersebut, termasuk alasan memilih kembali pada semangat manga asli sebagai fondasi baru bagi franchise legendaris ini. Wawancara yang menjadi dasar artikel ini disadur dari Hypebeast, menghadirkan perspektif mengenai bagaimana sebuah karya ikonis dapat terus berevolusi tanpa kehilangan identitasnya.
Wawancara berikut disadur dari Hypebeast dan diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia. Percakapan ini menghadirkan pandangan Mokochan mengenai arah kreatif adaptasi terbaru THE GHOST IN THE SHELL besutan Science SARU.
Dampak budaya Ghost in the Shell begitu besar di seluruh dunia. Saat Science SARU mendapat kesempatan untuk menggarapnya, apa yang membuat studio ini ingin mengambil alih warisan sebesar itu?
Mokochan: Saya pertama kali mengenal Ghost in the Shell saat masih duduk di bangku SMA. Kebetulan saya membaca manga karya Masamune Shirow dan menonton film layar lebar garapan Mamoru Oshii tahun 1995 hampir pada waktu yang bersamaan. Sejak saat itu saya menjadi penggemar berat franchise ini. Jadi ketika tawaran tersebut datang kepada kami, saya benar-benar merasa sangat antusias.
Apa yang pertama kali Anda rasakan ketika mengetahui akan mengerjakan proyek ini?
Di balik rasa gembira itu, saya langsung merasakan tanggung jawab dan tekanan yang sangat besar. Kesempatan untuk mengadaptasi manga asli secara langsung menjadi serial anime adalah sesuatu yang sangat langka. Saya juga menyadari betapa tingginya ekspektasi para penggemar terhadap proyek ini.
Adaptasi sebelumnya, seperti film tahun 1995 maupun Stand Alone Complex, dikenal memiliki nuansa yang gelap dan serius. Sementara adaptasi terbaru ini tampaknya lebih mendekati manga asli Masamune Shirow terbitan 1989. Bisakah Anda menjelaskan perubahan pendekatan tersebut?
Sebagai kreator yang bekerja di industri anime saat ini, kami tentu sangat dipengaruhi oleh berbagai adaptasi luar biasa yang telah hadir sebelumnya. Namun, filosofi utama proyek ini adalah kembali berhadapan langsung dengan manga aslinya.
Bagi kami, bukan sekadar mempertahankan latar cerita atau alur yang sama, tetapi yang jauh lebih penting adalah menangkap semangat asli yang ada di setiap halaman karya Shirow.
Bagi penonton yang selama ini hanya mengenal Ghost in the Shell lewat adaptasi yang lebih gelap dan tenang, energi yang lebih cerah serta dinamis dalam versi terbaru ini mungkin akan terasa mengejutkan pada awalnya. Namun saya ingin menegaskan bahwa tema-tema utamanya sama sekali tidak berubah. Saya berharap penonton dapat menikmati perbedaan atmosfer yang ditawarkan setiap era Ghost in the Shell.
Bagi kami, bukan hanya soal mempertahankan latar atau alur cerita, tetapi menangkap semangat asli yang ada dalam setiap halaman manga karya Shirow.
Menurut Anda, apa yang paling membedakan adaptasi ini dibandingkan versi-versi sebelumnya?
Dibandingkan adaptasi anime terdahulu, manga asli memiliki sisi kemanusiaan yang jauh lebih kuat. Pembaca benar-benar bisa merasakan kehangatan dan denyut kehidupan manusia di dalamnya.
Meski kisah ini menampilkan teknologi masa depan dan masyarakat yang sangat maju, inti temanya tetap berpusat pada pertanyaan klasik yang tak lekang oleh waktu: bagaimana seseorang memilih menjalani hidupnya di dunia ini? Pertanyaan eksistensial tersebut tetap relevan bagi siapa pun, di era apa pun.

Dalam manga asli, Mayor Motoko Kusanagi digambarkan jauh lebih emosional dan ekspresif dibandingkan versi layar yang cenderung tenang. Bagaimana Anda menerjemahkan karakter itu ke dalam animasi?
Menurut saya, kekuatan terbesar manga terletak pada kemampuannya menyampaikan kesan psikologis yang begitu hidup.
Karena Motoko adalah cyborg dengan tubuh sepenuhnya buatan, secara realistis kulitnya mungkin terasa lebih keras daripada manusia biasa dan suhu tubuhnya pun bisa sangat dingin. Namun sebagai animator, kami tidak ingin menonjolkan sisi mekanis tersebut.
Sebaliknya, kami ingin menghadirkan kepribadian dan dunia batinnya secara langsung kepada penonton. Untuk mencapai hal itu, penggunaan deformasi visual dan ekspresi yang lebih dilebih-lebihkan menjadi elemen penting dalam bahasa desain kami.
Manga karya Masamune Shirow terkenal sangat padat dengan konsep teknis, ide, serta catatan penulis. Bagaimana Anda menerjemahkan kepadatan informasi tersebut ke dalam bentuk animasi?
Justru itulah salah satu hal yang paling kami sukai dari manga aslinya.
Mempertahankan atmosfer yang kaya informasi dan berlapis-lapis tanpa menghilangkan kompleksitasnya menjadi tantangan kreatif terbesar sepanjang produksi ini. Kami melakukan banyak eksperimen di setiap departemen, mulai dari penggunaan warna, desain latar, ritme penyuntingan, tata suara, hingga akting para pengisi suara.
Science SARU dikenal memiliki gaya animasi yang sangat ekspresif dan mengalir. Apa tantangan terbesar ketika membangun dunia cyberpunk Ghost in the Shell?
Salah satu tema terpenting dalam karya aslinya adalah misteri tentang kehidupan itu sendiri.
Bagi saya, animasi gambar tangan selalu menghadirkan rasa takjub yang sama. Setiap frame yang digambar tangan bukan sekadar gambar, melainkan jejak fisik dari animator yang menciptakannya.
Karena itulah, menyampaikan cerita ini melalui sentuhan tangan manusia terasa sangat penting bagi kami. Kami mencurahkan begitu banyak tenaga untuk menjaga kualitas pengerjaan tersebut karena proses itu sendiri mencerminkan filosofi yang diusung Ghost in the Shell.
Saya melihat proyek ini sebagai sebuah ‘kembali ke asal’ yang dirancang secara sadar, sebuah titik awal baru yang hanya bisa diwujudkan pada era sekarang.

Tanpa membocorkan spoiler, adegan apa dari episode-episode awal yang paling Anda nantikan untuk ditonton penggemar?
Adegan ketika Daisuke Aramaki dan Motoko Kusanagi pertama kali bertemu adalah salah satu momen yang paling kami curahkan hati dan tenaga.
Seluruh cerita pada dasarnya dimulai dari pertemuan mereka, dan perkembangan hubungan keduanya menjadi fondasi bagi keseluruhan narasi. Karena itulah bagian tersebut kami garap dengan perhatian yang sangat besar.
Pengalaman seperti apa yang bisa diharapkan penggemar lama maupun penonton baru dari anime Ghost in the Shell terbaru ini?
Misi utama kami adalah menghadirkan manga serial tahun 1989 ke dalam format anime modern dengan tetap setia pada karya aslinya.
Lebih dari tiga dekade telah berlalu sejak manga tersebut pertama kali diterbitkan, dan bagi kami rentang waktu itu memiliki makna yang sangat penting. Saya memandang proyek ini sebagai sebuah “kembali ke akar”, sebuah proses penyegaran yang justru menjadi mungkin karena kita hidup di era sekarang.
Bagi para penggemar lama, saya rasa pengalaman paling menarik adalah melihat sisi asli manga yang selama ini belum pernah benar-benar diadaptasi. Sementara bagi penonton baru, serial ini berfungsi sebagai titik awal yang baru sehingga mereka tidak perlu memahami adaptasi-adaptasi sebelumnya untuk bisa menikmati dunia Ghost in the Shell. Saya percaya inilah pintu masuk yang paling mudah menuju franchise ini.



