
Key Insights
- Mojtaba Khamenei tidak terlihat dalam rangkaian pemakaman Ayatollah Ali Khamenei, memicu kembali spekulasi mengenai kondisinya.
- Ketidakhadirannya terjadi di tengah kekhawatiran soal ancaman keamanan setelah rumor ia terluka dalam serangan AS-Israel pada Februari 2026.
- Prosesi pemakaman berlangsung di bawah pengamanan ketat dan diwarnai ketegangan politik di tengah rapuhnya gencatan senjata kawasan.
Sorotan tersebut muncul karena Mojtaba belum pernah tampil di hadapan publik sejak ditunjuk sebagai pemimpin tertinggi Iran pada awal Maret 2026. Sebelumnya, beredar rumor bahwa ia mengalami luka akibat serangan udara Amerika Serikat dan Israel pada Februari lalu, serangan yang menewaskan ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei.
Dalam prosesi pemakaman, tiga putra Ali Khamenei lainnya, yakni Masoud, Mostafa, dan Meysam, terlihat hadir bersama sejumlah pejabat tinggi Iran. Presiden Iran Masoud Pezeshkian serta Kepala Garda Revolusi Ahmad Vahidi juga mengikuti rangkaian acara penghormatan terakhir.
Pemerintah Iran menggelar prosesi pemakaman selama sepekan di berbagai kota di Iran dan Irak. Jenazah Ali Khamenei disemayamkan di kompleks keagamaan Grand Mosalla, Teheran, sebelum dijadwalkan diarak menuju sejumlah kota hingga akhirnya dimakamkan di Mashhad pada Kamis (9/7/2026). Otoritas memperkirakan antara 12 juta hingga 20 juta orang menghadiri rangkaian acara yang mereka sebut sebagai “pemakaman abad ini”.

Hingga kini, pemerintah Iran belum memberikan penjelasan resmi mengenai alasan Mojtaba Khamenei tidak menghadiri prosesi tersebut.
Ketidakhadirannya terjadi di tengah kekhawatiran bahwa Israel juga menjadikannya sebagai target setelah eskalasi konflik pada awal tahun. Faktor keamanan menjadi salah satu penyebab yang banyak dispekulasikan, meski belum ada konfirmasi resmi dari otoritas Iran.
Absennya Mojtaba Khamenei menjadi perhatian karena ia kini memegang posisi tertinggi dalam struktur politik dan keagamaan Iran. Ketidakhadiran seorang pemimpin negara dalam pemakaman pendahulunya yang juga merupakan ayahnya memunculkan berbagai pertanyaan mengenai stabilitas kepemimpinan, kondisi kesehatan, hingga situasi keamanan di dalam negeri.

Peristiwa ini juga berlangsung ketika kawasan masih berada dalam situasi yang sensitif. Gencatan senjata antara pihak-pihak yang bertikai masih bertahan, tetapi pembicaraan menuju perdamaian permanen belum menunjukkan kepastian. Kedua belah pihak juga telah menyatakan kesiapan untuk kembali melakukan aksi militer apabila diperlukan.
Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan pembicaraan damai dihentikan sementara selama rangkaian pemakaman berlangsung. Mengutip Axios, Trump menyebut banyaknya pejabat tinggi Iran yang berkumpul dalam satu lokasi membuat mereka menjadi target yang mudah, namun ia mengatakan Washington tidak akan mengambil langkah tersebut.
“Tetapi kami tidak akan melakukan itu karena kemudian kami tidak akan memiliki siapa pun untuk diajak bernegosiasi,” kata Trump.
Trump juga mempertanyakan kesedihan masyarakat Iran yang menghadiri pemakaman. Pernyataan itu dibantah oleh salah seorang pelayat, Zahra Safaei.
“Kami tidak melakukan revolusi 47 tahun yang lalu untuk meneteskan air mata palsu. Kami tidak mengorbankan semua martir ini untuk meneteskan air mata palsu,” ujar Safaei kepada Reuters.
Prosesi pemakaman juga diwarnai seruan anti-Amerika dan anti-Israel. Sejumlah pelayat membawa spanduk bertuliskan “kill Trump”, “kill Bibi”, yang merujuk kepada Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, serta slogan yang menyerukan pembalasan.

Media pemerintah Iran memperkirakan lebih dari 10 juta orang menghadiri prosesi di Teheran. Aparat menerapkan pengamanan ketat untuk mengantisipasi kepadatan massa. Kantor berita IRNA melaporkan lebih dari 4.000 orang sempat mendapatkan perawatan medis di sekitar lokasi, namun tidak ada laporan korban meninggal.
Setelah prosesi di Teheran, jenazah Ali Khamenei dijadwalkan dibawa ke Qom, kemudian ke salah satu situs suci Syiah di Irak sebelum akhirnya dimakamkan di kota kelahirannya, Mashhad, pada 9 Juli 2026. Rangkaian pemakaman tersebut menjadi salah satu momen politik dan keagamaan terbesar di Iran tahun ini, sekaligus berlangsung di tengah ketidakpastian keamanan dan masa transisi kepemimpinan negara.



