
Key Insights:
- Gelombang panas di Eropa memicu lonjakan kematian, dengan Prancis melaporkan sekitar 1.000 kematian tambahan dalam tiga hari.
- Sejumlah negara, termasuk Jerman, Polandia, dan Republik Ceko, mencatat rekor suhu di atas 40 derajat celsius.
- WHO menyebut Eropa sebagai benua dengan laju pemanasan tercepat di dunia dan mendesak peningkatan kesiapsiagaan menghadapi cuaca ekstrem.
Sepanjang akhir pekan, sejumlah negara di Eropa mencatat suhu tertinggi dalam sejarah pengamatan. Jerman mencatat rekor suhu baru selama tiga hari berturut-turut. Kota Neissemunde di dekat perbatasan Polandia mencatat suhu mencapai 41,7 derajat celsius.
Polandia juga mencatat suhu tertinggi sepanjang masa, yakni 40,5 derajat celsius. Sementara itu, Republik Ceko mengalami hari terpanas dalam sejarah negara tersebut setelah suhu mencapai 41,9 derajat celsius, melampaui rekor sebelumnya sebesar 40,9 derajat celsius yang tercatat sehari sebelumnya.
Suhu ekstrem tersebut memicu kebakaran hutan, gangguan transportasi, kerusakan infrastruktur, serta meningkatnya risiko kesehatan masyarakat. Gelombang panas yang sebelumnya melanda Eropa Barat kini bergerak menuju kawasan Eropa Timur.
Dampak paling serius terlihat di Prancis. Badan kesehatan masyarakat nasional Prancis, Public Health France, melaporkan lonjakan angka kematian selama puncak gelombang panas pada pekan lalu.
Pada Rabu (24/6/2026), ketika suhu mencapai titik tertinggi, jumlah kematian harian di Prancis melampaui 1.200 kasus. Angka itu meningkat menjadi lebih dari 1.400 kematian pada masing-masing dua hari berikutnya.
Sebagai perbandingan, rata-rata angka kematian harian di Prancis pada April dan Mei berkisar antara 900 hingga 1.000 kasus per hari. Analisis sementara menunjukkan sedikitnya 1.000 kematian tambahan atau excess mortality terjadi hanya dalam tiga hari selama gelombang panas berlangsung.
Sekitar 85 persen korban jiwa merupakan warga berusia 65 tahun ke atas, menunjukkan kelompok lanjut usia menjadi populasi yang paling rentan terhadap dampak suhu ekstrem. Otoritas kesehatan juga mengingatkan jumlah korban masih berpotensi bertambah seiring masuknya laporan dari berbagai wilayah.
Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, menyatakan sekitar 150 juta penduduk Eropa saat ini hidup di bawah ancaman panas ekstrem. Menurut dia, gelombang panas yang dahulu dianggap sebagai peristiwa langka kini terjadi hampir setiap tahun.
WHO mencatat lebih dari 1.300 kematian tambahan terkait suhu ekstrem di Eropa sejak 21 Juni 2026. Tedros menyebut tekanan panas atau heat stress sebagai silent killer karena dapat menyebabkan kematian tanpa disadari banyak orang.
Menurut WHO, sebagian besar rumah, sekolah, dan tempat kerja di Eropa tidak dirancang untuk menghadapi suhu yang kini secara rutin melampaui 40 derajat celsius. Karena itu, organisasi tersebut mendesak negara-negara Eropa memperkuat sistem peringatan dini, perlindungan kelompok rentan, dan layanan kesehatan.
Para ilmuwan menjelaskan pemanasan di Eropa berlangsung lebih cepat dibandingkan banyak wilayah lain karena kombinasi sejumlah faktor iklim. Salah satunya adalah fenomena arctic amplification, yaitu pemanasan di kawasan Arktik yang terjadi hingga empat kali lebih cepat dibandingkan rata-rata wilayah lain di bumi.
Selain itu, perubahan pola jet stream menyebabkan sistem tekanan tinggi bertahan lebih lama dan menjebak massa udara panas dari Gurun Sahara di atas daratan Eropa. Kondisi tersebut membuat gelombang panas berlangsung lebih lama dan lebih intens.
Faktor lain adalah penurunan curah hujan dan meningkatnya penguapan yang menyebabkan tanah menjadi sangat kering saat musim panas tiba. Kondisi ini mengurangi proses pendinginan alami melalui penguapan dan membuat energi matahari lebih banyak digunakan untuk memanaskan udara.
Karakteristik geografis Eropa yang didominasi daratan luas serta tingginya tingkat urbanisasi juga memperparah kenaikan suhu. Permukaan beton, aspal, dan bangunan perkotaan menyerap panas pada siang hari dan melepaskannya secara perlahan pada malam hari, menciptakan fenomena urban heat island.
Studi terbaru dari World Weather Attribution yang dirilis pada Jumat (26/6/2026) menyimpulkan bahwa suhu dan tingkat kelembapan yang memecahkan rekor di Eropa dalam sepekan terakhir hampir tidak mungkin terjadi tanpa perubahan iklim.
Penelitian tersebut menunjukkan peluang terjadinya gelombang panas dengan intensitas serupa kini sekitar 200 kali lebih besar dibandingkan dua dekade lalu. Temuan ini memperkuat kesimpulan bahwa perubahan iklim telah meningkatkan frekuensi sekaligus intensitas gelombang panas di berbagai wilayah dunia.
Selain menimbulkan korban jiwa, suhu ekstrem juga menyebabkan gangguan pada infrastruktur publik. Di Jerman, permukaan jalan raya mengalami keretakan akibat panas. Operator kereta nasional Deutsche Bahn mengimbau masyarakat untuk menghindari perjalanan yang tidak mendesak.
Lebih dari 600 penumpang dievakuasi dari sebuah kereta yang berhenti di Brandenburg setelah pohon tumbang menimpa jaringan listrik. Di Leipzig, seluruh layanan trem sempat dihentikan karena suhu tinggi menyebabkan deformasi pada rel dan komponen jalur.
Di Berlin, polisi menggunakan meriam air untuk menyemprotkan air dingin kepada warga dan wisatawan di sekitar Gerbang Brandenburg sebagai upaya membantu masyarakat menghadapi suhu ekstrem.
Gelombang panas Eropa 2026 menunjukkan bahwa dampak perubahan iklim tidak lagi dipandang sebagai ancaman masa depan. Rekor suhu di atas 40 derajat celsius, peningkatan angka kematian, serta gangguan terhadap infrastruktur dan layanan publik menjadi indikasi meningkatnya tantangan yang dihadapi berbagai negara dalam beradaptasi terhadap cuaca yang semakin ekstrem.



