Key Learning
- Indonesia belum darurat energi. Menurut Purbaya Yudhi Sadewa, selama suplai masih ada, kondisi masih aman.
- Filipina dan Bangladesh sudah terdampak krisis pasokan energi akibat konflik Timur Tengah.
- Harga minyak sekitar 74 dolar AS per barel. Pemerintah belum ubah APBN atau subsidi energi.
Indonesia belum berada dalam kondisi darurat energi meski sejumlah negara mulai merasakan dampak gangguan pasokan global akibat konflik di Timur Tengah. Pemerintah menilai ketersediaan energi domestik masih stabil sehingga belum diperlukan langkah kebijakan darurat dalam waktu dekat.
Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan, mengatakan indikator darurat energi tidak ditentukan oleh tekanan anggaran negara, tetapi oleh ketersediaan pasokan energi. Selama suplai masih tersedia, Indonesia dinilai masih dalam kondisi aman.
“Darurat energi itu bukan di APBN. Maksudnya kalau suplainya berhenti, itu yang saya takut. Sekarang ini masih ada suplai, jadi belum bisa dibilang darurat,” kata Purbaya di Jakarta, Rabu 25 Maret 2026.
Pernyataan tersebut muncul setelah Filipina mengumumkan status darurat energi nasional pada 24 Maret 2026 akibat krisis pasokan bahan bakar. Situasi serupa juga mulai dirasakan oleh Bangladesh, yang menghadapi tekanan akibat lonjakan harga energi global.
Meski harga minyak dunia meningkat, pemerintah menilai kondisi fiskal Indonesia masih cukup kuat. Purbaya mengatakan pemerintah belum berencana mengubah postur APBN 2026 maupun kebijakan subsidi energi dalam waktu dekat.
“APBN kita masih tahan. Saya enggak akan ubah APBN atau subsidi yang ada sampai titik yang mungkin nanti harga minyaknya tinggi sekali,” ujarnya.
Dari sisi asumsi makro, harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) saat ini berada di kisaran 74 dolar AS per barel. Angka tersebut sedikit di atas asumsi APBN 2026 yang berada di sekitar 70 dolar AS per barel. Selisih ini dinilai masih dalam batas aman dan belum memerlukan penyesuaian kebijakan.
“Iya sampai sekarang sekitar 74 dolar AS per barel. Jadi kan melewati sekitar 4 dolar, nanti kalau naik lagi baru kita hitung,” kata Purbaya.
Pendekatan pemerintah saat ini menunjukkan strategi wait and see di tengah ketidakpastian global. Konflik geopolitik yang mengganggu rantai pasok energi dapat mengubah kondisi pasar dengan cepat. Selama pasokan domestik tetap terjaga, Indonesia masih memiliki ruang untuk mempertahankan stabilitas fiskal.
Bagi pelaku usaha dan masyarakat, kondisi ini berarti belum ada perubahan kebijakan energi dalam waktu dekat. Harga BBM dan subsidi diperkirakan masih stabil untuk sementara waktu. Namun pemerintah tetap memantau perkembangan global secara ketat dan membuka kemungkinan penyesuaian jika tekanan harga maupun pasokan meningkat secara signifikan.

