Prabowo: Indonesia Tidak Pernah Gagal Bayar Utang, Tawarkan Kepastian ke Investor Jepang

Key Learning

  • Presiden menyebut Indonesia tidak pernah gagal bayar utang sepanjang sejarah
  • Pemerintah menawarkan kemitraan industri dan transfer teknologi ke investor Jepang
  • Pernyataan disampaikan dalam Japan-Indonesia Business Forum di Tokyo

Jakarta – Presiden Prabowo Subianto menyatakan Indonesia memiliki rekam jejak yang konsisten dalam memenuhi kewajiban utang pemerintah. Pernyataan tersebut disampaikan dalam pertemuan dengan pengusaha Jepang pada Japan-Indonesia Business Forum di Tokyo, Jepang, Senin (30/3/2026).

Prabowo mengatakan, Indonesia tidak pernah mengalami gagal bayar utang sepanjang sejarah Republik Indonesia. Ia menilai rekam jejak tersebut menjadi faktor penting dalam menjaga kepercayaan investor, khususnya di tengah ketidakpastian ekonomi global.

“Reputasi kita sangat jelas. Indonesia tidak pernah gagal bayar utang, tidak sekalipun dalam sejarah Republik Indonesia,” ujar Prabowo dalam pidatonya.

Berdasarkan data Kementerian Keuangan, rasio utang pemerintah Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) tercatat berada di kisaran 38 persen pada 2025. Angka ini masih berada di bawah batas aman 60 persen sebagaimana diatur dalam Undang Undang Keuangan Negara. Selain itu, mayoritas utang pemerintah juga berjangka panjang dengan profil jatuh tempo yang relatif terjaga.

Bank Indonesia sebelumnya juga mencatat kepemilikan investor asing pada Surat Berharga Negara (SBN) berada di kisaran 14 persen hingga 15 persen pada awal 2026. Porsi tersebut menunjukkan ketergantungan terhadap investor asing relatif menurun dibandingkan periode sebelum pandemi yang sempat mencapai lebih dari 30 persen.

Dalam kesempatan tersebut, Prabowo juga menyoroti bahwa sejumlah negara besar pernah mengalami gagal bayar utang dalam beberapa periode. Menurutnya, konsistensi Indonesia dalam memenuhi kewajiban fiskal menjadi salah satu faktor yang mendukung stabilitas ekonomi nasional.

Selain menekankan rekam jejak fiskal, pemerintah juga menawarkan peluang kemitraan investasi kepada pelaku usaha Jepang. Pemerintah mendorong kerja sama dalam pembangunan industri, transfer teknologi, serta penguatan rantai pasok manufaktur.

“Kami sedang mencari mitra untuk membangun industri, mentransfer teknologi, dan tumbuh bersama,” kata Prabowo.

Kementerian Investasi mencatat Jepang masih menjadi salah satu investor terbesar di Indonesia. Sepanjang 2025, realisasi investasi Jepang tercatat mencapai sekitar USD 4 miliar hingga USD 5 miliar, terutama pada sektor otomotif, elektronik, energi, dan industri pengolahan.

Pemerintah menilai peningkatan investasi dari Jepang berpotensi memperkuat basis industri nasional, menciptakan lapangan kerja, serta meningkatkan ekspor manufaktur dalam jangka menengah.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *