
Key Takeaways
- Paviliun Vatikan merayakan tradisi spiritual melalui seni suara kontemporer
- Patti Smith, Brian Eno, dan FKA Twigs menjadi bagian dari daftar prestisius
- Instalasi menghadirkan pengalaman kontemplatif di ruang bersejarah Venesia
Dalam lanskap seni global yang terus berubah, kehadiran Holy See di Venice Biennale 2026 menghadirkan nuansa yang tenang sekaligus mendalam. Paviliun Vatikan tahun ini, bertajuk The Ear is the Eye of the Soul, menjadi refleksi halus atas hampir satu milenium tradisi spiritual yang diterjemahkan melalui bahasa suara, komposisi, dan instalasi kontemporer. Dalam pendekatan yang elegan dan kontemplatif, Vatikan memilih menghadirkan seni sebagai ruang perenungan, bukan sekadar tontonan.
Inspirasi utama pameran berasal dari Hildegard of Bingen, seorang biarawati Benediktin abad ke-12 yang dikenal sebagai mistikus, ilmuwan, sekaligus komponis produktif. Warisannya menjadi fondasi konseptual bagi paviliun ini, yang menanggapi tema utama Biennale, In Minor Keys, yang dikurasi oleh Koyo Kouoh. Hasilnya adalah sebuah “doa sonik” yang mengundang pengunjung untuk memasuki ruang sunyi, tempat suara menjadi medium refleksi spiritual.
Komisaris paviliun, Cardinal José Tolentino de Mendonça, menunjuk dua kurator terkemuka, Hans Ulrich Obrist dan Ben Vickers, untuk merangkai partisipasi lintas disiplin. Hasilnya adalah daftar seniman yang mencerminkan spektrum artistik yang luas, mulai dari Patti Smith, Brian Eno, hingga FKA Twigs, serta Devonté Hynes dan Jim Jarmusch. Kehadiran mereka menciptakan dialog yang lembut antara seni kontemporer dan tradisi spiritual yang panjang.
Pengalaman paviliun terbagi dalam dua lokasi bersejarah di Venice. Di Cannaregio, Mystical Garden menghadirkan komposisi yang dapat dinikmati melalui headphone, memungkinkan pengunjung berjalan di antara kebun yang pertama kali ditanam oleh komunitas Karmelit pada abad ke-17. Musik diciptakan bersama Soundwalk Collective, yang juga merancang instrumen spesifik lokasi yang “mendengarkan” lanskap hijau tersebut.
Sementara itu, Complex of Santa Maria Ausiliatrice di kawasan Castello diubah menjadi scriptorium kontemporer, sebuah arsip hidup yang menampilkan karya terakhir sineas Alexander Kluge, buku-buku karya pelukis Portugis Ilda David, serta instalasi arsitektur oleh Tatiana Bilbao. Di ruang ini pula, pengunjung dapat menelusuri teks-teks spiritual Hildegard, memperdalam hubungan antara suara, tulisan, dan kontemplasi.
Pendekatan paviliun Vatikan terasa semakin relevan dalam dunia yang semakin bising. Seperti disampaikan oleh Pope Leo XIV, keindahan bukan sekadar pelarian, melainkan undangan untuk merenung. Pesan ini terwujud dalam pengalaman yang dirancang untuk memperlambat langkah pengunjung, memberi ruang bagi keheningan, dan menghadirkan seni sebagai praktik spiritual.
Di tengah dinamika Venice Biennale yang meriah, paviliun Vatikan berdiri sebagai oasis yang tenang. Dengan menghadirkan suara sebagai medium refleksi, serta mempertemukan figur budaya seperti Patti Smith, Brian Eno, dan FKA Twigs dalam dialog lintas tradisi, paviliun ini menghadirkan pengalaman yang tidak hanya artistik, tetapi juga abadi, sebuah simfoni sunyi yang menggema jauh melampaui ruang pamer.



