Entertainment Lifestyle

Macklemore Dicoret dari Tur Ed Sheeran, Satu Juta Dolar Donasinya untuk Palestina

Macklemore Dicoret dari Tur Ed Sheeran, Satu Juta Dolar Donasinya untuk Palestina

Endoxa Asia – Macklemore kehilangan posisi sebagai salah satu pembuka tur Ed Sheeran setelah menyuarakan dukungan untuk Palestina di atas panggung. Namun, keluarnya rapper asal Amerika Serikat itu dari Loop Tour justru diikuti keputusan untuk menyumbangkan pendapatan sebesar US$1 juta atau sekitar Rp17,7 miliar dari keterlibatannya dalam tur tersebut kepada organisasi yang membantu rakyat Palestina.

Kasus ini memperlihatkan persoalan yang lebih luas daripada sekadar perubahan susunan penampil. Dukungan Macklemore terhadap Palestina bertemu dengan kepentingan pemilik venue, promotor, artis utama, dan tekanan publik, menunjukkan bagaimana keputusan politik seorang musisi dapat berhadapan langsung dengan struktur bisnis industri konser.

Macklemore Dicoret Setelah Serukan Free Palestine

Macklemore tampil sebagai pembuka dalam dua konser Ed Sheeran di MetLife Stadium, New Jersey, pada 4 dan 5 September 2026. Dalam penampilannya, ia menyampaikan dukungan kepada masyarakat Palestina dan menyerukan “Free Palestine”. Ia juga membawakan “Hind’s Hall”, lagu protes yang sebelumnya dirilis sebagai respons terhadap perang di Gaza.

Pada salah satu pidatonya, Macklemore mengatakan bahwa salah satu alasan ia ingin mengikuti tur tersebut adalah agar dapat menggunakan panggung stadion di Amerika Serikat untuk menyampaikan dukungannya terhadap Palestina.

Beberapa hari kemudian, Macklemore mengumumkan bahwa ia tidak lagi menjadi bagian dari sisa rangkaian tur Amerika Utara Ed Sheeran.

SU MA dan CURE Bali Hadirkan Dialog Kuliner di Jakarta

Persoalan tersebut tidak muncul hanya dari reaksi terhadap penampilannya di MetLife Stadium. Menurut laporan Reuters, sejumlah venue berikutnya menyatakan keberatan terhadap kehadiran Macklemore sehingga promotor tur harus mengubah susunan penampil.

Ed Sheeran Sebut Keputusan Bukan Berasal Darinya

Ed Sheeran kemudian memberikan penjelasan mengenai keluarnya Macklemore. Ia mengatakan keputusan tersebut bukan dibuat olehnya, melainkan muncul setelah adanya tekanan dari pemilik venue.

Dalam pernyataannya, Sheeran mengatakan dirinya tidak ingin membatalkan konser karena keputusan tersebut akan berdampak kepada penonton, kru, dan orang-orang yang bekerja dalam tur. Ia juga menyatakan bahwa dirinya mendukung perdamaian, tetapi memilih tidak menjadikan konser sebagai ruang untuk menyampaikan pandangan politik.

Promotor Messina Touring Group menyebut beberapa venue tidak mengizinkan Macklemore tampil. Sementara itu, Robert Kraft, pemilik New England Patriots sekaligus Gillette Stadium, mengatakan keputusan tersebut berkaitan dengan pernyataan Macklemore serta apa yang ia sebut sebagai sejarah “antisemitic rhetoric and imagery”. Pernyataan Kraft merupakan karakterisasi dari pihaknya sendiri dan bukan temuan independen mengenai seluruh tindakan Macklemore.

Perbedaan penjelasan tersebut membuat kasus Macklemore tidak sesederhana hubungan antara seorang musisi dan artis utama sebuah tur. Ada beberapa lapisan kepentingan yang terlibat, mulai dari artis, promotor hingga pemilik stadion.

Pria Tendang Wanita di Senayan City Jadi Tersangka, Dijerat Pasal 466 KUHP

Empat Penampil Lain Ikut Mundur

Dampaknya kemudian meluas. Finneas, Lukas Graham, Aaron Rowe, dan grup asal Irlandia Beoga yang juga terlibat dalam rangkaian tur tersebut memilih mundur setelah Macklemore dikeluarkan dari lineup.

Finneas, yang dijadwalkan membuka enam konser Ed Sheeran di Amerika Selatan pada November, mengatakan dalam pernyataannya bahwa artis tidak seharusnya dibungkam ketika menyuarakan dukungan kepada kelompok yang tertindas.

Keputusan tersebut mengubah persoalan personal Macklemore menjadi perdebatan yang lebih luas mengenai batas antara pertunjukan musik, kebebasan berekspresi, dan kepentingan komersial.

Di sisi lain, tidak semua respons terhadap Macklemore bersifat mendukung. Sejumlah kelompok dan tokoh pro-Israel mengecam pernyataannya, sementara penyanyi Pink juga mengkritik pidatonya. Macklemore sendiri mempertahankan posisinya dan mengatakan pesan yang ia sampaikan berkaitan dengan perdamaian dan hak asasi manusia.

Macklemore Alihkan US$1 Juta ke Bantuan Palestina

Setelah dikeluarkan dari tur, Macklemore mengumumkan langkah yang membuat kontroversi tersebut memiliki konsekuensi finansial langsung.

2.238 Mitra Pengemudi Grab Ikuti Edukasi Pertolongan Pertama di 10 Kota dengan “First Aid On The Go”

Ia mengatakan akan menyumbangkan seluruh pendapatan bersih sebesar US$1 juta yang diperolehnya dari Loop Tour kepada enam organisasi yang bekerja untuk membantu rakyat Palestina. Keenam organisasi tersebut adalah Palestine Children’s Relief Fund, Heal Palestine, Gaza Soup Kitchen, Medical Aid for Palestinians, UNRWA USA National Committee, dan Anera.

Nilainya setara sekitar Rp17,7 miliar berdasarkan konversi yang dilaporkan ANTARA. Angka tersebut merupakan pendapatan bersih yang disebut Macklemore berasal dari keterlibatannya dalam tur, bukan total pendapatan seluruh tur atau nilai kompensasi artis secara umum.

Macklemore juga menantang Robert Kraft untuk menyamai donasi tersebut.

“Apa pun yang tidak kita sepakati, mungkin kita bisa sepakat tentang ini: Hidup rakyat Palestina layak dilindungi.”

Keputusan tersebut membuat persoalan yang awalnya berkaitan dengan posisi Macklemore dalam sebuah tur bergeser menjadi aksi penggalangan perhatian dan dana untuk bantuan kemanusiaan.

Pada saat yang sama, Ed Sheeran dan Kraft juga menyatakan akan memberikan kontribusi untuk bantuan kemanusiaan, meski konteks dan organisasi penerimanya berbeda.

Ketika Panggung Musik Berhadapan dengan Kepentingan Industri

Kasus ini memperlihatkan bahwa kebebasan seorang musisi untuk menyampaikan pandangan di atas panggung tidak selalu terpisah dari konsekuensi bisnis.

Dalam industri konser, artis utama, promotor, pemilik venue, sponsor, dan pihak lain memiliki kepentingan berbeda. Associated Press mencatat bahwa promotor biasanya menangani aspek finansial dan logistik tur, sementara artis besar dapat memiliki pengaruh signifikan terhadap keputusan kreatif. Pemilik venue sendiri memiliki kewenangan untuk menentukan siapa yang boleh tampil di properti mereka.

Karena itu, kasus Macklemore memperlihatkan adanya pertarungan kepentingan yang konkret. Di satu sisi terdapat hak artis untuk menyampaikan pandangan politiknya. Di sisi lain ada kontrak, hubungan bisnis, kebijakan venue, serta pertimbangan pihak yang memiliki dan mengoperasikan tempat pertunjukan.

Yang juga menarik, dampaknya tidak berhenti pada Macklemore. Mundurnya sejumlah penampil lain menunjukkan bahwa keputusan terhadap satu artis dapat memengaruhi keseluruhan komposisi sebuah tur.

Pada akhirnya, kasus ini belum menghasilkan satu kesimpulan sederhana mengenai bagaimana industri musik seharusnya memperlakukan pernyataan politik artis. Yang terlihat jelas adalah bahwa ketika musisi menggunakan panggung komersial untuk menyampaikan isu yang sangat sensitif, konsekuensinya dapat muncul dalam bentuk profesional, finansial, dan institusional.

Bagi Macklemore, kehilangan posisi sebagai pembuka tur Ed Sheeran kemudian diikuti keputusan mengalihkan US$1 juta pendapatannya ke organisasi bantuan Palestina. Terlepas dari perbedaan pandangan mengenai pernyataannya, rangkaian peristiwa tersebut menunjukkan bahwa keputusan politik seorang artis dapat membawa dampak jauh melampaui durasi sebuah pertunjukan.

About The Author

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *