Endoxa Asia – Jakarta mendapat kesempatan mencicipi sebuah pertemuan kuliner yang mempertemukan empat nama di balik dua restoran dengan karakter berbeda. Melalui In Good Taste., SU MA dan CURE Bali membawa pengalaman fine dining yang intim, presisi, dan penuh detail ke ibu kota pada 15 hingga 17 September 2026.
Selama tiga malam, dunia East Asian kontemporer dari SU MA bertemu dengan pendekatan European modern dari CURE Bali. Bukan sekadar jamuan makan malam, kolaborasi ini menjadi ruang bagi empat chef untuk mempertemukan teknik, filosofi, dan perspektif mereka dalam sebuah pengalaman gastronomi yang dirancang khusus.

Empat Chef dalam Satu Meja
Dari Jakarta, SU MA hadir melalui Chef Brendon Chen dan Chef Ryan Kim. Keduanya menjadi bagian penting dalam membentuk karakter restoran yang mengeksplorasi kuliner East Asian kontemporer dengan perhatian terhadap teknik, kreativitas, dan tradisi.
Sementara dari Bali, CURE membawa Chef-Founder Andrew Walsh bersama Chef de Cuisine Arvin Tjandra. Restoran yang berada di Regent Bali Canggu tersebut merupakan babak baru perjalanan Walsh di Indonesia, dengan pendekatan European modern yang berpijak pada bahan lokal dan pengaruh Asia.
Pertemuan empat chef inilah yang menjadi daya tarik utama In Good Taste. Masing-masing datang dengan bahasa kuliner sendiri, tanpa kehilangan identitas ketika berada dalam satu pengalaman bersantap.
“Yang menarik dari kolaborasi ini adalah kami tidak berusaha menjadikan kedua restoran sebagai satu kesatuan. SU MA dan CURE memiliki karakter yang sangat berbeda, dan justru itulah yang ingin kami rayakan,” ujar Andrew Walsh, Chef-Founder CURE Bali.

Dari Jakarta hingga Canggu
SU MA telah membangun reputasinya di Jakarta melalui pendekatan East Asian kontemporer yang menggabungkan tradisi dengan interpretasi modern. Kehadiran Brendon Chen memperluas eksplorasi tersebut, sementara Ryan Kim turut membawa perspektif kreatif dan perhatian terhadap detail ke dalam pengalaman restoran.
Di sisi lain, CURE Bali merepresentasikan babak baru Andrew Walsh setelah perjalanan CURE di Singapura. Restoran tersebut hadir di Regent Bali Canggu dengan pendekatan yang menempatkan bahan, teknik, serta hubungan dengan produsen lokal sebagai bagian penting dari pengalaman kuliner.
Dua restoran ini memiliki latar yang berbeda, tetapi berbagi perhatian terhadap craftsmanship. Justru kontras tersebut yang membuat kolaborasi mereka menarik.

Tujuh Bagian dengan Sentuhan Fine Dining
Untuk In Good Taste., keempat chef menyusun pengalaman bersantap tujuh bagian yang membawa tamu melewati serangkaian kombinasi rasa dan teknik.
Menu dibuka dengan Bluefin Tuna bersama kaffir lime dan kuah kuning, sebelum berlanjut ke Chawanmushi yang terinspirasi dari sup buntut dengan burnt scallion.
Salah satu sajian utama adalah Striped Grouper dengan Shaoxing chicken, butter, doenjang, dan foie gras Albufera. Aged Duck kemudian hadir bersama rangkaian pendamping sebagai hidangan lain dalam perjalanan tersebut.
Bagian penutup bergerak ke profil rasa yang lebih ringan. Omija, jujube, dan pine nut menjadi salah satu sajian akhir, sebelum pengalaman ditutup dengan Thai Nurungji yang dipadukan dengan Thai tea, yuja, dan sea salt.
Komposisi ini memperlihatkan bagaimana empat chef menerjemahkan pertemuan dua tradisi kuliner ke dalam satu rangkaian yang tetap memiliki karakter masing-masing.
Sebuah Pertemuan yang Lebih Personal
Di balik kemewahan meja makan, In Good Taste. juga memiliki dimensi personal. Brendon Chen dan Andrew Walsh telah saling mengenal sejak beberapa tahun lalu, sebelum akhirnya kembali dipertemukan dalam kolaborasi ini.
Kini, keduanya membawa perjalanan kuliner yang telah berkembang ke dalam konteks baru. Brendon bersama Ryan Kim mewakili generasi kreatif SU MA di Jakarta, sedangkan Walsh dan Arvin Tjandra membentuk arah CURE Bali di Canggu.
“SU MA dan CURE memiliki karakter yang sangat berbeda, dan justru itulah yang ingin kami rayakan,” kata Walsh.
Ryan Kim juga menekankan bahwa perbedaan tersebut menjadi bagian dari daya tarik kolaborasi.
“Ada sesuatu yang menarik ketika dua dapur dipertemukan tanpa menghilangkan karakter yang membuat masing-masing tetap berbeda,” ujar Ryan Kim, Co-Executive Chef SU MA.
Bagi sebuah kolaborasi fine dining, perbedaan bukan sesuatu yang harus disamarkan. Ia justru menjadi bagian dari pengalaman.
Ketika Fine Dining Menjadi Sebuah Dialog
In Good Taste. menempatkan Jakarta sebagai ruang pertemuan antara dua destinasi kuliner premium, SU MA dan CURE Bali. Di satu sisi ada eksplorasi East Asian kontemporer, di sisi lain terdapat pendekatan European modern yang berkembang di Canggu.
Pertemuan tersebut terasa eksklusif bukan hanya karena format empat chef dan menu tujuh bagian, tetapi karena gagasan di baliknya. Setiap hidangan menjadi bagian dari percakapan tentang bahan, teknik, tradisi, dan cara seorang chef menerjemahkan sebuah tempat ke dalam rasa.
Pada akhirnya, In Good Taste. menawarkan lebih dari sekadar kesempatan menikmati menu kolaborasi. Ia menjadi pertemuan antara nama, keahlian, dan karakter kuliner dalam satu meja, sebuah pengalaman yang memperlihatkan bagaimana dunia fine dining terus berkembang melalui pertukaran ide tanpa harus kehilangan identitas.




Komentar