Lifestyle Wellness

BKGN 2026 Dorong Perhatian pada Keseimbangan Microbiome Mulut

BKGN 2026 Dorong Perhatian pada Keseimbangan Microbiome Mulut

Endoxa Asia Unilever Indonesia melalui Pepsodent kembali menggelar Bulan Kesehatan Gigi Nasional atau BKGN pada 2026. Memasuki pelaksanaan ke-17, program yang digelar bersama Persatuan Dokter Gigi Indonesia, Asosiasi Fakultas Kedokteran Gigi Indonesia, serta Asosiasi Rumah Sakit Gigi dan Mulut Pendidikan Indonesia ini mengangkat pentingnya menjaga keseimbangan microbiome mulut sebagai bagian dari perawatan gigi dan mulut.

BKGN 2026 resmi dimulai pada Kamis, 17 September 2026, melalui kegiatan edukasi dan pemeriksaan gigi bagi siswa SDN Menteng 01 Jakarta. Sebanyak 384 siswa mengikuti kegiatan tersebut dan mendapatkan pelayanan dari tenaga medis gigi Mulia Health and Dental Care.

Setelah pembukaan, rangkaian BKGN 2026 akan berlangsung pada Oktober hingga Desember 2026 di berbagai Fakultas Kedokteran Gigi dan Rumah Sakit Gigi dan Mulut Pendidikan di Indonesia.

Dari Gigi Bersih ke Keseimbangan Microbiome

BKGN merupakan program yang menjadi cikal bakal peringatan Hari Kesehatan Gigi Nasional atau HKGN, yang diperingati setiap 12 September. Pada 2026, HKGN mengusung tema “Gigi Kuat, Senyum Sehat, Indonesia Hebat” dengan subtema “Periksa, Tindaklanjuti, Jaga Kesehatan Gigi dan Mulut”.

Fokus BKGN tahun ini diperluas dari kebiasaan menjaga kebersihan gigi menuju pemahaman mengenai microbiome mulut. Menurut Ketua Asosiasi Fakultas Kedokteran Gigi Indonesia, Prof. drg. Suryono, S.H., M.M., Ph.D., rongga mulut merupakan salah satu ekosistem mikroba terbesar dalam tubuh manusia dan dihuni lebih dari 700 spesies mikroorganisme.

SU MA dan CURE Bali Hadirkan Dialog Kuliner di Jakarta

Microbiome mulut terdiri dari bakteri yang membantu menjaga ekosistem serta bakteri yang berpotensi menimbulkan masalah. Karena itu, tujuan perawatan gigi dan mulut bukan semata-mata menghilangkan seluruh bakteri, melainkan mempertahankan keseimbangannya.

“Tujuan perawatan yang lebih tepat bukanlah menghilangkan sebanyak mungkin bakteri, melainkan menjaga keseimbangan microbiome mulut,” ujar Suryono.

Ketika keseimbangan tersebut terganggu atau mengalami dysbiosis, kelompok bakteri tertentu dapat berkembang lebih dominan. Kondisi ini dapat berkaitan dengan sejumlah masalah kesehatan gigi dan mulut, termasuk pembentukan plak, karies, radang gusi, hingga bau mulut.

Konsumsi gula yang terlalu sering, misalnya, dapat membuat bakteri menghasilkan asam secara berulang. Lingkungan rongga mulut yang semakin asam kemudian dapat memicu demineralisasi enamel dan berkontribusi pada terbentuknya gigi berlubang.

Masalah Kesehatan Gigi Masih Luas

Wakil Menteri Kesehatan Republik Indonesia Prof. dr. Dante Saksono Harbuwono mengatakan pemeriksaan gigi telah masuk dalam program Cek Kesehatan Gratis dan perlu diikuti oleh anak-anak sekolah.

2.238 Mitra Pengemudi Grab Ikuti Edukasi Pertolongan Pertama di 10 Kota dengan “First Aid On The Go”

Ia juga menyampaikan bahwa hasil pemeriksaan menunjukkan sekitar empat dari 10 anak Indonesia yang bersekolah mengalami gigi berlubang. Menurut Dante, pemeriksaan gigi sebaiknya tidak dilakukan hanya ketika seseorang mengalami sakit, tetapi secara rutin setidaknya setiap enam bulan.

“Waktu untuk memeriksakan gigi yang baik adalah bukan ketika kita menderita sakit gigi, tetapi sebaiknya dilakukan secara rutin setiap enam bulan,” kata Dante.

Dante menambahkan, persoalan gigi dan mulut tidak selalu berdampak terbatas pada area mulut. Ia mencontohkan adanya hubungan antara infeksi tertentu dan masalah kesehatan tubuh secara keseluruhan. Namun, hubungan tersebut perlu dipahami berdasarkan diagnosis serta penjelasan tenaga medis, bukan dengan menyimpulkan bahwa setiap masalah gigi otomatis menyebabkan penyakit sistemik.

Materi BKGN 2026 juga menyebutkan sejumlah data mengenai kebiasaan masyarakat. Sebanyak 47,5 persen masyarakat Indonesia dilaporkan mengonsumsi minuman manis lebih dari sekali dalam sehari. Walaupun 95,6 persen masyarakat menyikat gigi setiap hari, hanya 6,2 persen yang melakukannya pada waktu yang tepat. Sementara itu, hanya 11,2 persen masyarakat yang mencari tenaga medis gigi dalam satu tahun ketika mengalami masalah gigi dan mulut.

Secara keseluruhan, materi tersebut menyebut 57 persen penduduk Indonesia berusia tiga tahun ke atas masih mengalami masalah kesehatan gigi dan mulut.

Rosé BLACKPINK Rilis New Trick, MV Direkam Full Pakai iPhone 18 Pro

Perluasan Program ke Pesantren dan Komunitas Ibu

BKGN 2026 akan dilaksanakan di 29 Fakultas Kedokteran Gigi dan Rumah Sakit Gigi dan Mulut Pendidikan di berbagai wilayah Indonesia. Program ini juga akan memberikan edukasi bersama PB PDGI di enam kota atau kabupaten di Jawa Barat serta sejumlah wilayah terdampak bencana, termasuk Nusa Tenggara Timur dan Papua.

Jawa Barat menjadi salah satu wilayah prioritas karena tingginya jumlah penduduk dan masih besarnya tantangan akses kesehatan gigi. Berdasarkan data yang disampaikan PB PDGI, 63,4 persen masyarakat Jawa Barat mengalami masalah gigi dan mulut, sementara 89,9 persen di antaranya tidak mengunjungi dokter gigi selama satu tahun terakhir.

Di Nusa Tenggara Timur, 55,6 persen masyarakat dilaporkan masih mengalami masalah gigi dan mulut, dengan 95,3 persen tidak mengunjungi dokter gigi dalam setahun terakhir. Di Papua, angka masalah kesehatan gigi dan mulut disebut mencapai 49,4 persen, sedangkan 96 persen masyarakat tidak berkunjung ke dokter gigi selama periode yang sama.

Wakil Ketua PB PDGI drg. Tari Tritarayati mengatakan kondisi geografis, jarak menuju fasilitas kesehatan, keterbatasan transportasi, serta distribusi dokter gigi yang belum merata menjadi sejumlah hambatan pelayanan.

Selain memperluas wilayah pelaksanaan, BKGN 2026 juga menjangkau pesantren dan komunitas ibu. Kedua kelompok tersebut diposisikan sebagai bagian dari lingkungan yang dapat membantu membangun kebiasaan perawatan gigi dan mulut secara berkelanjutan.

Perawatan Sehari-hari Tetap Menjadi Kunci

Ketua ARSGMPI Dr. drg. A. Tajrin menjelaskan bahwa menjaga keseimbangan microbiome mulut tidak hanya bergantung pada satu produk atau satu kali pemeriksaan. Kebiasaan sehari-hari tetap menjadi bagian penting dalam perawatan.

Langkah yang disarankan mencakup menjaga kebersihan gigi dan mulut dengan cara yang tepat, membatasi konsumsi gula, memperbanyak makanan bergizi dan kaya serat, mencukupi cairan, menghindari rokok, mengelola stres, serta memenuhi kebutuhan tidur.

Produksi dan fungsi air liur juga berperan sebagai salah satu pertahanan alami rongga mulut. Karena itu, kondisi mulut kering dan kurangnya asupan cairan dapat menjadi hal yang perlu diperhatikan dalam kebiasaan perawatan sehari-hari.

Tajrin juga menganjurkan konsultasi ke dokter gigi setidaknya setiap enam bulan agar masalah yang berpotensi mengganggu keseimbangan microbiome dapat dideteksi dan ditangani lebih awal.

Sejalan dengan tema BKGN 2026, Pepsodent memperkenalkan Pepsodent Pro.Care, pasta gigi yang disebut menggunakan teknologi Microbiome Active. Berdasarkan materi perusahaan, teknologi tersebut memanfaatkan One Trillion Active Ions untuk menekan pertumbuhan bakteri yang merugikan sekaligus mendukung bakteri baik.

Klaim mengenai manfaat, mekanisme kerja, dan perlindungan hingga 24 jam merupakan klaim produk yang disampaikan oleh perusahaan. Pengguna tetap perlu mengikuti petunjuk pemakaian dan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan apabila mengalami keluhan gigi atau mulut.

Pada akhirnya, BKGN 2026 menempatkan edukasi sebagai bagian penting dari upaya pencegahan. Pemeriksaan rutin, kebiasaan menyikat gigi yang tepat, pola makan, serta akses terhadap tenaga medis tetap menjadi dasar perawatan, sementara pemahaman mengenai microbiome memperluas cara masyarakat melihat kesehatan gigi dan mulut secara menyeluruh.

About The Author

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *