Endoxa Asia – Presiden China Xi Jinping memanfaatkan KTT BRICS 2026 di New Delhi, India, untuk mendorong peran kelompok tersebut melampaui kerja sama ekonomi. Di tengah konflik yang terus berlangsung di Timur Tengah, Xi menyerukan agar BRICS ikut mendorong penyelesaian damai. Pada saat yang sama, China menawarkan kerja sama kecerdasan buatan (AI) yang dapat memperluas pengaruh teknologi negara-negara Global South.
KTT BRICS berlangsung pada 12-13 September 2026 dan mempertemukan negara-negara anggota yang kini semakin luas. Dalam pertemuan tersebut, Xi menempatkan BRICS sebagai salah satu kekuatan yang dapat mendorong tatanan dunia yang lebih multipolar, sekaligus menawarkan agenda konkret di bidang AI, perdagangan, dan ekonomi digital.
Perkembangan ini menunjukkan perubahan penting dalam cara China menggunakan BRICS. Forum tersebut tidak hanya menjadi tempat membicarakan perdagangan dan investasi, tetapi juga platform untuk membangun posisi bersama mengenai konflik internasional serta masa depan teknologi.
Xi Minta BRICS Berperan dalam Konflik Timur Tengah
Dalam pidatonya di KTT BRICS, Xi menyerukan agar negara-negara anggota mengambil peran lebih besar dalam mendorong perdamaian di Timur Tengah.
Xi mengatakan China siap bekerja bersama anggota BRICS dalam peran tersebut karena perang di kawasan itu tidak melayani kepentingan bersama komunitas internasional.
Seruan tersebut muncul ketika konflik di Timur Tengah menjadi salah satu isu utama KTT. BRICS kemudian mengadopsi Deklarasi New Delhi yang menyatakan keprihatinan terhadap memburuknya kekerasan di kawasan dan menyerukan “maximum restraint”, atau pengendalian diri semaksimal mungkin, dari seluruh pihak.
Para pemimpin BRICS juga menegaskan pentingnya dialog, konsultasi, dan penyelesaian sengketa secara damai. Posisi ini menjadi lebih signifikan karena kelompok tersebut mempertemukan negara dengan kepentingan geopolitik yang berbeda, termasuk Iran dan Uni Emirat Arab.
Dengan demikian, seruan Xi bukan sekadar pernyataan bilateral China mengenai konflik Timur Tengah. Beijing berusaha menempatkan BRICS sebagai salah satu forum yang dapat mengambil posisi kolektif dalam persoalan keamanan internasional.
China Juga Membawa Agenda AI ke BRICS
Jika isu Timur Tengah memperlihatkan ambisi politik BRICS, agenda AI menunjukkan bagaimana China ingin memperluas pengaruhnya melalui teknologi.
Dalam sesi kedua KTT, Xi mengusulkan pembentukan BRICS AI open source community. China menyatakan akan menjadi pelopor dalam membangun komunitas tersebut, mendukung pengembangan dan penerapan large language models (LLM), serta mengadakan seminar dan pelatihan AI untuk membangun ekosistem yang lebih terbuka.
China juga mengusulkan pembangunan platform cloud ekosistem digital BRICS, pelatihan keterampilan digital, pertukaran teknologi, dan penyelarasan industri.
Langkah tersebut memperlihatkan bahwa tawaran Beijing tidak hanya berupa penggunaan produk AI. China ingin mendorong kerja sama yang mencakup pengembangan model, sumber daya manusia, infrastruktur digital, dan tata kelola teknologi.
Xi mengatakan negara-negara Global South perlu mempercepat pembentukan kerangka tata kelola AI global berbasis konsensus. Menurutnya, teknologi baru harus dapat berkontribusi terhadap kemakmuran bersama.
Ini Bukan Agenda AI yang Muncul Tiba-Tiba
Dorongan China terhadap kerja sama AI di BRICS merupakan bagian dari agenda yang lebih panjang.
Pada Juli 2026, Xi telah menyerukan sistem tata kelola AI global yang lebih adil dan memperkenalkan World AI Cooperation Organization (WAICO). China menyatakan 29 negara menjadi anggota pendiri organisasi tersebut. Beijing juga menjanjikan 5.000 kesempatan pelatihan dan seminar AI bagi negara berkembang dalam lima tahun.
China juga menyatakan akan membangun pusat kerja sama aplikasi AI internasional dengan sejumlah kawasan dan organisasi, termasuk ASEAN, Uni Afrika, Liga Arab, Amerika Latin dan Karibia, Shanghai Cooperation Organisation, serta BRICS.
Karena itu, proposal AI di KTT BRICS lebih tepat dilihat sebagai kelanjutan strategi China untuk membangun kerja sama teknologi dengan negara-negara Global South.
Financial Times sebelumnya menilai pendekatan tersebut sebagai bagian dari upaya China membangun diplomasi AI dengan negara berkembang. Strateginya mencakup akses teknologi, pendidikan, dan kerja sama internasional, sekaligus membuka ruang bagi standar serta ekosistem teknologi China untuk digunakan lebih luas.
China Menawarkan Open Source, tetapi Persaingan AI Tetap Ada
Konsep open source menjadi salah satu bagian paling menarik dari tawaran China.
Dengan mengusulkan komunitas AI terbuka, China berusaha memosisikan dirinya sebagai penyedia alternatif bagi negara-negara yang tidak ingin sepenuhnya bergantung pada ekosistem AI yang dikembangkan perusahaan teknologi Amerika Serikat.
Namun, menyebutnya sebagai upaya untuk “mengakhiri dominasi Barat” akan terlalu jauh jika tidak disertai bukti. Yang lebih dapat dipastikan adalah bahwa Beijing ingin meningkatkan kerja sama teknologi dengan negara-negara Global South dan memperbesar peran China dalam pembentukan ekosistem AI internasional.
Agenda tersebut juga memperlihatkan bahwa persaingan AI global semakin berkaitan dengan geopolitik. Kompetisi bukan hanya soal siapa yang memiliki model AI paling canggih, tetapi juga siapa yang menyediakan infrastruktur, sumber daya manusia, standar, dan jalur kerja sama bagi negara lain.
BRICS Semakin Besar, tetapi Tidak Berarti Selalu Satu Suara
BRICS telah berkembang jauh dari kelompok awal Brazil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan. Dalam KTT New Delhi 2026, anggota yang disebut dalam berbagai laporan mencakup Mesir, Ethiopia, Indonesia, Iran, dan Uni Emirat Arab.
Ekspansi ini memperbesar bobot ekonomi dan demografi BRICS, tetapi sekaligus membuat koordinasi antaranggota menjadi lebih kompleks.
India, misalnya, memiliki hubungan strategis dengan Amerika Serikat sekaligus kepentingan ekonomi besar dengan China. Iran memiliki kepentingan geopolitik yang berbeda dengan negara-negara Teluk seperti Uni Emirat Arab. Bahkan hubungan China dan India sendiri masih memiliki persoalan yang belum sepenuhnya terselesaikan.
Pertemuan Xi dan Perdana Menteri India Narendra Modi di sela-sela KTT menjadi salah satu contoh bagaimana BRICS juga berfungsi sebagai ruang diplomasi antarnegara yang memiliki persaingan langsung. Kedua pemimpin membahas stabilitas hubungan bilateral, perdagangan, dan kerja sama untuk mendorong Global South.
Indonesia Berada di Dalam Perubahan Ini
Indonesia menjadi salah satu anggota BRICS dan turut hadir dalam KTT New Delhi melalui Presiden Prabowo Subianto.
Posisi tersebut membuat perkembangan agenda BRICS di bidang AI relevan bagi Indonesia. Tawaran kerja sama seperti pelatihan AI, pengembangan model bahasa, infrastruktur digital, dan pertukaran teknologi dapat membuka peluang bagi negara berkembang untuk memperluas kapasitas teknologinya.
Namun, kerja sama teknologi juga membutuhkan pertimbangan mengenai standar, keamanan data, interoperabilitas, serta ketergantungan terhadap penyedia teknologi tertentu. Karena itu, manfaat kerja sama AI tidak hanya bergantung pada seberapa mudah teknologinya diakses, tetapi juga pada kemampuan negara anggota membangun kapasitas domestiknya sendiri.
BRICS Sedang Mencoba Menjadi Lebih dari Forum Ekonomi
KTT BRICS 2026 memperlihatkan dua agenda yang tampak berbeda tetapi sebenarnya saling berhubungan.
Di satu sisi, Xi mendorong BRICS mengambil posisi lebih aktif dalam penyelesaian konflik dan memperkuat suara Global South dalam sistem internasional. Di sisi lain, China menawarkan kerja sama AI yang mencakup model bahasa, pelatihan, infrastruktur digital, dan tata kelola teknologi.
Keduanya menunjukkan upaya memperluas pengaruh BRICS dari kerja sama ekonomi menuju politik global dan teknologi strategis.
Bagi China, ini juga menjadi kesempatan untuk memperkuat hubungan dengan negara-negara berkembang melalui bidang yang akan menentukan daya saing ekonomi dalam beberapa dekade mendatang. Bagi anggota BRICS lainnya, tawaran tersebut bisa menjadi sumber akses teknologi dan pengetahuan, tetapi sekaligus menuntut kemampuan untuk menentukan kepentingan nasional masing-masing.
Seberapa jauh agenda tersebut akan menghasilkan perubahan nyata masih bergantung pada implementasinya. Untuk saat ini, KTT New Delhi menunjukkan bahwa BRICS semakin ingin berbicara bukan hanya tentang perdagangan, tetapi juga tentang siapa yang memiliki suara dalam menentukan aturan dunia dan teknologi masa depan.




Komentar