Nasional News

BMKG Ingatkan Potensi Megathrust, Mengapa Jakarta Perlu Perkuat Mitigasi?

potensi gempa megathrust

Endoxa Asia Pembahasan mengenai potensi gempa megathrust kembali menjadi perhatian setelah sejumlah laporan menyoroti zona subduksi di sekitar Indonesia, termasuk Selat Sunda dan selatan Jawa. Bagi Jakarta, isu ini bukan semata tentang seberapa besar magnitudo yang mungkin dihasilkan, melainkan bagaimana kota dengan kepadatan penduduk, gedung bertingkat, dan infrastruktur vital tersebut mempersiapkan diri menghadapi guncangan.

BMKG menegaskan bahwa informasi mengenai potensi megathrust bukan prediksi bahwa gempa akan terjadi dalam waktu dekat. Lembaga tersebut menjelaskan, hingga kini belum ada teknologi yang mampu memastikan kapan, di mana, dan berapa kekuatan gempa bumi akan terjadi.

Dengan demikian, pertanyaan yang lebih relevan bukan kapan Jakarta akan dilanda gempa besar, melainkan apakah kesiapan bangunan, infrastruktur, dan masyarakat sudah memadai jika guncangan kuat benar-benar terjadi.

Potensi Megathrust Bukan Ramalan Gempa

Megathrust merupakan sumber gempa pada zona subduksi, tempat satu lempeng tektonik menunjam ke bawah lempeng lainnya. Proses ini dapat menghasilkan gempa berkekuatan sangat besar.

Dalam penjelasan resminya, BMKG menyebut zona Megathrust Selat Sunda dan Mentawai-Siberut sebagai wilayah yang perlu diwaspadai karena diduga merupakan seismic gap, atau zona yang telah lama tidak mengalami gempa besar. Namun, BMKG juga meluruskan bahwa istilah tersebut tidak berarti gempa akan segera terjadi.

Pria Tendang Wanita di Senayan City Jadi Tersangka, Dijerat Pasal 466 KUHP

“Belum ada ilmu pengetahuan dan teknologi yang dengan tepat dan akurat mampu memprediksi terjadinya gempa, kapan, di mana, dan berapa kekuatannya,” kata Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami BMKG Daryono dalam penjelasan pada 19 Agustus 2024.

Pernyataan ini penting karena angka magnitudo maksimum sering kali dipahami sebagai ukuran gempa yang pasti akan terjadi. Padahal, angka tersebut merupakan bagian dari kajian potensi sumber gempa, bukan jadwal bencana.

Mengapa Jakarta Tetap Perlu Waspada?

Jakarta tidak berada tepat di atas zona megathrust selatan Jawa, tetapi guncangan dari sumber gempa yang jauh tetap dapat dirasakan hingga ibu kota. Dalam penjelasan Badan Geologi Kementerian ESDM, zona subduksi yang berjarak lebih dari 200 kilometer dari Jakarta dapat menimbulkan dampak apabila terjadi gempa besar.

Badan Geologi juga menjelaskan bahwa kondisi tanah setempat berpengaruh terhadap intensitas guncangan. Lapisan tanah aluvial yang tebal dapat memperkuat guncangan dalam kondisi tertentu. Artinya, jarak dari sumber gempa bukan satu-satunya faktor yang menentukan risiko.

Selain sumber gempa dari zona subduksi, Jakarta juga memiliki potensi terdampak gempa dari sumber lain, termasuk gempa intraslab dan sesar aktif di daratan. BMKG sebelumnya menyebut Sesar Baribis, Sesar Lembang, dan Sesar Cimandiri sebagai beberapa sumber gempa yang dapat menimbulkan guncangan hingga Jakarta.

Influenza A Naik di Indonesia, Kemenkes Sebut Aktivitas Masih Terkendali

Karena itu, kesiapsiagaan Jakarta tidak seharusnya hanya dibangun berdasarkan satu skenario megathrust. Risiko gempa perlu dipahami sebagai bagian dari ancaman seismik yang lebih luas.

Gedung Tinggi dan Infrastruktur Menjadi Perhatian

Salah satu isu yang muncul dalam pembahasan potensi gempa Jakarta adalah dampaknya terhadap bangunan bertingkat tinggi. Badan Geologi menjelaskan bahwa gempa besar dari zona subduksi dapat merambat hingga Jakarta dan berpotensi berdampak pada bangunan serta infrastruktur tinggi.

Namun, hal tersebut tidak berarti seluruh gedung tinggi akan rusak atau runtuh. Risiko bangunan dipengaruhi oleh banyak faktor, antara lain karakteristik guncangan, kondisi tanah, desain struktur, kualitas konstruksi, serta kepatuhan terhadap standar bangunan yang berlaku.

BMKG sebelumnya juga menekankan pentingnya kajian kondisi tanah dan audit bangunan sebagai bagian dari langkah mitigasi. Dalam penjelasannya mengenai potensi gempa Jakarta, lembaga tersebut mendorong penguatan kesiapan infrastruktur, edukasi masyarakat, dan langkah mitigasi lainnya.

Dengan kata lain, pembahasan mengenai gedung tinggi seharusnya diarahkan pada kualitas desain, pemeriksaan struktur, dan kesiapan evakuasi, bukan pada kesimpulan bahwa bangunan bertingkat pasti berbahaya.

KPK Geledah 3 Ruang Dirjen ATR/BPN, Sita Dokumen dan Bukti Elektronik

Angka Magnitudo Perlu Dibaca dalam Konteks

Ringkasan Topik.id menyebut 14 zona megathrust yang mengelilingi Indonesia, dengan potensi magnitudo hingga M9,2. Sementara itu, dokumen BMKG yang terindeks memperlihatkan pembagian segmentasi dan angka magnitudo maksimum yang tidak sepenuhnya sama dengan daftar tersebut.

Perbedaan ini menunjukkan pentingnya menggunakan dokumen pemetaan yang jelas ketika menyebut jumlah segmen dan angka magnitudo. Daftar zona megathrust juga tidak otomatis menunjukkan bahwa seluruh segmen memiliki tingkat risiko yang sama atau akan melepaskan energi pada waktu yang bersamaan.

BMKG telah berulang kali mengingatkan agar informasi potensi tidak dimaknai sebagai prediksi. Dalam penjelasan terkait potensi gempa M8,7 di selatan Jawa, BMKG menyatakan bahwa magnitudo maksimum merupakan hasil kajian ahli, sedangkan waktu dan kepastian terjadinya gempa belum dapat diketahui.

Karena itu, angka magnitudo sebaiknya dipakai untuk memahami skala ancaman dan kebutuhan mitigasi, bukan untuk membangun narasi kepastian bencana.

Mitigasi Harus Dimulai Sebelum Gempa Terjadi

BMKG menekankan bahwa langkah yang perlu dilakukan adalah mitigasi struktural dan nonstruktural. Mitigasi struktural mencakup pembangunan bangunan yang aman terhadap gempa, sementara mitigasi nonstruktural meliputi edukasi, penataan ruang, dan peningkatan kapasitas masyarakat.

Untuk Jakarta, langkah tersebut dapat diterjemahkan ke dalam beberapa kebutuhan praktis:

  • Pemeriksaan dan penguatan bangunan, terutama fasilitas publik, gedung dengan fungsi vital, dan infrastruktur yang memiliki peran penting saat keadaan darurat.
  • Peningkatan literasi keselamatan, termasuk cara berlindung saat gempa, mengenali jalur evakuasi, dan memahami prosedur setelah guncangan berhenti.
  • Simulasi berkala, agar penghuni gedung, sekolah, kantor, dan fasilitas umum tidak hanya mengetahui prosedur secara teori.
  • Kesiapan komunikasi darurat, mengingat gangguan jaringan komunikasi dapat menjadi salah satu dampak yang perlu diantisipasi dalam skenario gempa besar.

BMKG juga telah terlibat dalam kegiatan simulasi kesiapsiagaan nasional yang menggunakan skenario gempa megathrust M9,0 di Selat Sunda. Skenario tersebut merupakan bagian dari latihan penanganan darurat, bukan prediksi kejadian.

Apa yang Perlu Dilakukan Masyarakat?

Bagi masyarakat, informasi mengenai potensi megathrust sebaiknya menjadi pengingat untuk memperbaiki kesiapan sehari-hari. BMKG mengimbau masyarakat tetap tenang dan beraktivitas normal, sembari meningkatkan pemahaman terhadap potensi bencana.

Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:

  1. Mengenali titik aman di rumah, kantor, sekolah, atau gedung yang sering digunakan.
  2. Mengetahui jalur evakuasi dan lokasi titik kumpul.
  3. Menyiapkan tas siaga berisi kebutuhan dasar dan dokumen penting.
  4. Mengikuti simulasi gempa apabila tersedia.
  5. Mengandalkan informasi resmi BMKG dan BPBD, bukan unggahan media sosial yang tidak jelas sumbernya.

Kesiapsiagaan juga perlu disesuaikan dengan tempat seseorang beraktivitas. Penghuni gedung bertingkat, misalnya, perlu memahami prosedur evakuasi gedung masing-masing dan tidak langsung menggunakan lift saat terjadi gempa.

Mengubah Kekhawatiran Menjadi Kesiapan

Potensi gempa megathrust merupakan bagian dari kondisi geologis Indonesia yang perlu dipahami secara ilmiah. Namun, membicarakannya tanpa konteks dapat menimbulkan kesalahpahaman, terutama ketika angka magnitudo dan istilah seismic gap disajikan seolah-olah sebagai tanda bahwa bencana sudah dekat.

Bagi Jakarta, tantangan utamanya adalah memastikan bahwa informasi potensi tersebut mendorong tindakan nyata. Audit bangunan, penguatan infrastruktur, edukasi keselamatan, dan latihan evakuasi merupakan langkah yang dapat dilakukan tanpa harus menunggu adanya prediksi gempa.

Pada akhirnya, kesiapsiagaan bukan tentang mengetahui kapan gempa akan terjadi. Kesiapsiagaan adalah memastikan bahwa ketika guncangan datang, masyarakat memiliki pengetahuan, infrastruktur, dan prosedur yang dapat membantu mengurangi risiko korban jiwa.

About The Author

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *