
Key Insights
- Pemerintah mengalokasikan stimulus ekonomi Rp26,34 triliun pada semester II 2026, dengan porsi terbesar untuk bantuan pangan sebesar Rp18,04 triliun.
- Insentif mencakup penurunan PPh Final royalti penulis menjadi 1,5%, pembebasan bea masuk LPG industri, bahan baku plastik, dan suku cadang pesawat untuk meningkatkan daya saing sektor usaha.
- Program bantuan pangan untuk 33,24 juta keluarga, insentif transportasi, serta program vokasi diharapkan menopang konsumsi masyarakat dan mendukung pertumbuhan ekonomi domestik.
“Jadi total stimulus yang dikeluarkan oleh pemerintah untuk di semester kedua ini nilainya sekitar Rp26,34 triliun,” ujar Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam konferensi pers di Kantor Kemenko Perekonomian, Senin (22/6).
Paket stimulus tersebut terdiri atas insentif transportasi sebesar Rp2,04 triliun, program pemagangan dan vokasi nasional Rp6,26 triliun, serta bantuan pangan Rp18,04 triliun. Pemerintah berharap kombinasi kebijakan ini dapat menopang konsumsi rumah tangga sekaligus mendukung aktivitas sektor riil.
Di bidang perpajakan, pemerintah menetapkan tarif Pajak Penghasilan (PPh) Final royalti sebesar 1,5% bagi penulis. Airlangga mengatakan, “Beberapa pilar utama dari kebijakan stimulus dan insentif adalah yang pertama, terkait dengan Pajak Penulis. Ini berupa tarif khusus PPH Final Royalti sebesar 1,5% bagi penulis.”
Tarif tersebut lebih rendah dibandingkan skema sebelumnya yang menggunakan tarif progresif 5% hingga 35%. Pemerintah menilai kebijakan ini dapat meningkatkan insentif bagi pelaku industri kreatif dan sektor literasi.
Pemerintah juga menyiapkan insentif untuk sektor transportasi melalui potongan tarif selama periode libur sekolah dan Natal serta Tahun Baru (Nataru). Rincian implementasi, termasuk insentif untuk transportasi udara, akan diumumkan oleh Kementerian Perhubungan.
Di sektor industri, pemerintah membebaskan bea masuk impor LPG untuk industri petrokimia menjadi 0%. “Pemerintah menetapkan bea masuk 0% untuk impor LPG bagi industri petrokimia. Dengan ini diharapkan bisa meningkatkan nilai manfaat bagi sektor ekonomi sebesar Rp2,25 triliun,” kata Airlangga.
Selain LPG, pemerintah juga menetapkan tarif bea masuk 0% untuk impor bahan baku plastik guna membantu menekan biaya produksi dan menjaga stabilitas harga produk hilir. Kebijakan serupa diterapkan terhadap impor suku cadang pesawat untuk memperkuat daya saing industri maintenance, repair, and overhaul (MRO) nasional.
Di bidang ketenagakerjaan, program magang dan vokasi nasional akan dilanjutkan pada semester II 2026 di bawah koordinasi Kementerian Ketenagakerjaan sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan mendukung kebutuhan industri.
Sementara itu, pemerintah melanjutkan program bantuan pangan selama tiga bulan, yakni Juli hingga September 2026. Airlangga menyampaikan, “Kemudian yang terkait dengan Bantuan Pangan, ini pemerintah sudah atas arahan Bapak Presiden, Pak Presiden Prabowo mengarahkan untuk ini dilanjutkan untuk 3 bulan kemudian.”
Program tersebut menyasar 33,24 juta keluarga penerima manfaat dengan anggaran Rp17,54 triliun. Pemerintah juga mengalokasikan subsidi kedelai sebesar Rp2.000 per kilogram dengan kuota 250.000 ton melalui program Stabilisasi Harga Pasokan Pangan (SPHP) untuk membantu perajin tahu dan tempe serta menjaga stabilitas harga pangan.
Melalui kombinasi stimulus fiskal, insentif perpajakan, dukungan terhadap industri, dan penguatan perlindungan sosial, pemerintah berharap konsumsi domestik dan aktivitas ekonomi dapat tetap terjaga sepanjang paruh kedua 2026.



