
Key Takeaways
- Chef ternama dunia hadir dalam jamuan eksklusif di Bali.
- The MICHELIN Master Series menghadirkan ragam perspektif kuliner.
- Chef’s Table menawarkan pengalaman fine dining yang intim dan personal.
Di tengah lanskap kuliner Bali yang kian sophisticated, sebuah meja makan dapat menjadi panggung bagi pertemuan lintas budaya, teknik, dan cerita. Regent Bali Canggu kembali menghadirkan pengalaman tersebut melalui The MICHELIN Master Series at Chef’s Table, rangkaian jamuan eksklusif yang mempertemukan para chef dari restoran berbintang MICHELIN dunia dalam suasana intim.
Berlangsung dari Agustus hingga November 2026, program ini menghadirkan sejumlah nama dari panggung gastronomi internasional, mulai dari London hingga Singapura. Setiap chef membawa karakter kuliner, perjalanan profesional, serta interpretasi personal yang berbeda ke meja Chef’s Table Regent Bali Canggu.





Rangkaian musim ini dibuka oleh Chef Charlie Tayler dari Aulis London, restoran berbintang MICHELIN di London, pada 28 dan 29 Agustus.
Berangkat dari pengalaman di sejumlah restoran fine dining ternama London serta pengaruh kuat filosofi kuliner Jepang yang diperolehnya dari dapur kaiseki di Kyoto, Tayler menghadirkan interpretasi modern British gastronomy yang mengutamakan seasonality, presisi teknik, dan storytelling.
Pengalaman tersebut terasa semakin eksklusif melalui format Chef’s Table yang intim. Para tamu tidak sekadar menikmati tasting journey, tetapi juga menyaksikan bagaimana teknik dan gagasan seorang chef diterjemahkan langsung ke dalam hidangan.





Pada 11 dan 12 September, giliran Chef Valentin Fouache dari Duet by David Toutain, Bangkok, yang mengambil alih Chef’s Table.
Perjalanan Fouache melewati sejumlah institusi gastronomi prestisius, termasuk Le Chèvre d’Or, Le Chantecler, dan Le Meurin, sebelum membawanya ke Bangkok sebagai Chef de Cuisine Duet by David Toutain.
Untuk penampilannya di Regent Bali Canggu, Fouache membawa perspektif modern French gastronomy yang bertumpu pada bahan-bahan, alam, teknik, dan artistik. Hasilnya adalah pendekatan yang tetap menghormati tradisi klasik, namun disajikan dengan presisi dan sensibilitas kontemporer.
Baca juga: Regent Ballroom Hadirkan Kemewahan Baru untuk Canggu
Memasuki Oktober, The MICHELIN Master Series menghadirkan Chef Andy Beynon dari Behind, London, pada 16 dan 17 Oktober.
Dikenal melalui interpretasi modern British cuisine yang berfokus pada seafood, Beynon mengedepankan bahan-bahan hyper-seasonal dan sustainable sourcing. Pendekatannya yang restrained memberi ruang bagi karakter alami setiap bahan untuk menjadi pusat perhatian.
Pada 6 dan 7 November, panggung beralih ke Kuala Lumpur bersama Chef Chong Yu Cheng dari Terra Dining. Membawa perspektif kontemporer terhadap kuliner Malaysia, Chef Chong mengeksplorasi kekayaan tradisi, heritage, serta bahan lokal dengan teknik yang lebih refined.
Rangkaian musim ini kemudian ditutup pada 27 dan 28 November oleh Chef Zor Tan dari Restaurant Born, Singapura. Dengan latar belakang di restoran seperti Restaurant André, RAW, dan Sichuan Moon yang mengantongi dua bintang MICHELIN, Chef Zor menghadirkan filosofi kuliner yang mempertemukan teknik Prancis dengan kekayaan tradisi Asia.
Kulinernya berakar pada memori, heritage, craftsmanship, dan evolusi budaya, menjadikan setiap hidangan bagian dari perjalanan personal yang lebih luas.

Yang membuat Chef’s Table Regent Bali Canggu menonjol bukan semata deretan nama besar yang hadir, melainkan kedekatan pengalaman yang ditawarkan. Dalam format yang intim, para tamu dapat menyaksikan secara langsung gagasan, teknik, dan perspektif yang membentuk setiap sajian.
Dari presisi kuliner Jepang yang membentuk modern British gastronomy hingga kekayaan tradisi Asia yang diterjemahkan melalui teknik Prancis, rangkaian ini menjadi pertemuan antara fine dining dan cultural exchange.
Bagi Regent Bali Canggu, Chef’s Table menjadi ruang untuk mempertemukan Bali dengan dunia gastronomi internasional, menghadirkan pengalaman yang terasa personal, sophisticated, dan deliberately exclusive.
Pada akhirnya, kemewahan gastronomi tidak selalu terletak pada kemegahan sebuah ruang. Terkadang, ia hadir dalam jumlah kursi yang terbatas, bahan pilihan, teknik yang nyaris tanpa cela, serta kesempatan untuk duduk begitu dekat dengan sosok yang menciptakan pengalaman tersebut. Di Chef’s Table Regent Bali Canggu, dunia kuliner hadir dalam format paling intimnya.



