
Key Insights:
- The Metropolitan Museum of Art membatalkan retrospektif John Galliano yang semula direncanakan menjadi tema Costume Institute 2027.
- Keputusan muncul setelah kritik publik terkait rekam jejak pernyataan antisemit dan anti-Asia Galliano kembali menguat.
- Galliano mengakui tanggung jawab atas dampak perkataannya di masa lalu dan menilai penebusan tidak cukup diwujudkan lewat sebuah pameran.
Keputusan itu diambil setelah penolakan terhadap rencana pameran semakin meluas. Kritik terutama datang dari sejumlah pemimpin komunitas Yahudi, yang mempertanyakan keputusan The Met mengangkat Galliano mengingat rekam jejak kontroversialnya terkait pernyataan antisemit dan anti-Asia.
Kontroversi tersebut bukan perkara baru. Pada 2011, Galliano dinyatakan bersalah oleh pengadilan di Paris atas tindak kejahatan bermotif kebencian setelah pernyataan antisemitnya mencuat ke publik. Kasus itu berdampak langsung pada kariernya: ia kehilangan posisi sebagai direktur kreatif Dior dan kemudian menjauh dari industri mode selama sekitar tiga tahun.
Galliano perlahan kembali ke panggung mode setelah bergabung dengan Maison Margiela sebagai direktur kreatif pada 2014. Selama hampir satu dekade, karyanya kembali memperoleh apresiasi kritikus dan dukungan dari sejumlah selebritas. Ia meninggalkan rumah mode tersebut pada 2024 dan pada 2026 menjalin kolaborasi dengan Zara.
Rencana retrospektif di The Met sebenarnya telah melalui pembahasan cukup panjang. Andrew Bolton, kurator yang memimpin Costume Institute, bersama timnya dan Galliano disebut telah berdiskusi dengan sejumlah rabi serta pemimpin komunitas Yahudi mengenai bagaimana isu masa lalu sang desainer akan ditempatkan dalam pameran.
Namun, upaya tersebut tidak meredakan penolakan. Momentum penyelenggaraan Met Gala 2027 juga menjadi persoalan tersendiri karena jadwal gala bertepatan dengan Yom HaShoah, hari peringatan Holocaust dan kepahlawanan. Di saat yang sama, sejumlah donor penting dilaporkan menghubungi pihak The Met dan mengancam menghentikan dukungan dana apabila pameran tetap dilanjutkan.
Pada akhirnya, Galliano dan The Met sepakat untuk membatalkan rencana tersebut. Direktur sekaligus CEO The Met, Max Hollein, mengonfirmasi keputusan itu setelah melakukan pembicaraan dengan Galliano.
Galliano sendiri menyatakan memahami alasan di balik pembatalan. Ia kembali mengakui dampak dari perkataannya di masa lalu terhadap komunitas Yahudi dan Asia, sekaligus menegaskan bahwa proses penebusan tidak bisa bergantung pada satu pameran atau pengakuan institusional.
Sikap tersebut membuat pembatalan ini menjadi lebih dari sekadar perubahan agenda museum. The Met menghadapi pertanyaan yang lebih luas mengenai bagaimana institusi budaya menilai hubungan antara pencapaian artistik seseorang dan kontroversi serius dalam rekam jejak pribadinya.
Kasus Galliano juga memperlihatkan bahwa reputasi kreatif yang berhasil dibangun kembali tidak serta-merta menghapus persoalan masa lalu. Bagi institusi sebesar The Met, keputusan untuk memberikan panggung retrospektif bukan hanya persoalan nilai artistik, tetapi juga menyangkut siapa yang diberi ruang untuk dirayakan dan bagaimana dampaknya terhadap kelompok yang pernah terdampak.
The Met menyebut informasi mengenai pameran musim semi berikutnya dan konsep Met Gala 2027 akan diumumkan kemudian. Pembatalan retrospektif Galliano pun tercatat sebagai keputusan yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah Costume Institute.



