
Key Insights :
- Indonesia Fashion Week 2026 menghadirkan ruang inklusif bagi anak berkebutuhan khusus melalui diskusi dan peragaan busana.
- Dya Loretta menekankan bahwa dukungan keluarga menjadi fondasi utama dalam membangun kepercayaan diri dan potensi setiap anak.
- Kehadiran anak-anak berkebutuhan khusus di panggung fesyen memperlihatkan bahwa inklusi membutuhkan kesempatan nyata, bukan sekadar kampanye.
Indonesia Fashion Week (IFW) 2026 kembali memperluas makna panggung fesyen dengan mengangkat isu inklusivitas bagi anak berkebutuhan khusus. Melalui talkshow The BFF Mom: Bonding Beyond Motherhood yang digelar di Creative Stage, Jakarta International Convention Center (JICC), ajang ini menyoroti pentingnya peran keluarga dalam membentuk generasi yang percaya diri, mandiri, dan mampu berkembang sesuai potensinya.
Diskusi tersebut menghadirkan akademisi sekaligus pegiat sosial Dya Loretta bersama Amirsyah Gani dari Layak School dan Nisa Rahmat yang mewakili Forum Keluarga Spesial Indonesia (Forkesi). Setelah sesi diskusi, rangkaian acara dilanjutkan dengan Fashion Show by Anak Spesial yang menampilkan anak-anak berkebutuhan khusus di atas panggung IFW sebagai bentuk apresiasi terhadap bakat, kreativitas, dan kepercayaan diri mereka.
Dalam pemaparannya, Dya tidak hanya berbicara dari sudut pandang akademis. Ia membagikan pengalaman hidup sebagai penyandang Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) dan disleksia. Menurutnya, dukungan keluarga sejak dini menjadi faktor penting yang membantunya mengembangkan kemampuan tanpa terhambat oleh label atau diagnosis.
”Saya adalah bukti bahwa setiap anak memiliki cara belajar yang berbeda. Yang dibutuhkan bukan tekanan untuk menjadi sama dengan orang lain, tetapi keluarga yang percaya, mendampingi, dan memberikan ruang bagi anak untuk berkembang sesuai potensinya,” ujar Dya.
Ia menegaskan bahwa keluarga merupakan lingkungan pertama yang membentuk cara anak memandang dirinya sendiri. Penerimaan, komunikasi yang positif, serta kesempatan untuk mengeksplorasi minat dinilai menjadi bagian penting dalam proses tumbuh kembang, termasuk bagi anak berkebutuhan khusus.
Pesan tersebut menjadi relevan di tengah meningkatnya perhatian terhadap pendidikan inklusif di Indonesia. Pembahasan mengenai anak berkebutuhan khusus kini tidak lagi berfokus pada keterbatasan, melainkan pada bagaimana keluarga, sekolah, komunitas, dan masyarakat dapat menciptakan lingkungan yang memberi ruang bagi setiap anak untuk berkembang secara optimal.
Komitmen Dya terhadap isu tersebut juga diwujudkan melalui perannya sebagai Pembina Forum Keluarga Spesial Indonesia (Forkesi). Melalui komunitas ini, ia aktif memberikan edukasi kepada orang tua mengenai pola asuh yang inklusif, membangun kepercayaan diri anak, serta mendorong kolaborasi lintas pihak agar anak-anak berkebutuhan khusus memperoleh kesempatan yang setara.
Di luar aktivitas sosialnya, Dya merupakan dosen dan peneliti di Universitas Mercu Buana yang berfokus pada komunikasi, literasi digital, pemberdayaan masyarakat, dan inklusivitas. Ia juga mendirikan sejumlah lembaga pelatihan yang bergerak di bidang pengembangan kompetensi masyarakat serta aktif dalam berbagai organisasi sosial.
Kehadiran Fashion Show by Anak Spesial menjadi simbol bahwa dunia fesyen dapat berperan lebih dari sekadar menampilkan karya kreatif. Panggung tersebut juga dapat menjadi ruang representasi yang memperlihatkan bahwa keberanian tampil, berekspresi, dan berkarya merupakan hak setiap anak tanpa memandang kondisi yang dimiliki.
”Anak-anak berkebutuhan khusus tidak membutuhkan belas kasihan. Mereka membutuhkan kesempatan, kepercayaan, dan lingkungan yang mendukung,” kata Dya.
Melalui pendekatan ini, IFW 2026 menunjukkan bahwa inklusivitas bukan hanya pesan yang disampaikan dalam diskusi, tetapi juga diwujudkan melalui ruang nyata bagi anak-anak untuk tampil dan dihargai. Pesan yang diangkat menegaskan bahwa masa depan yang lebih inklusif dimulai dari keluarga yang menerima, masyarakat yang terbuka, dan kesempatan yang diberikan secara setara kepada setiap anak.



