
Key Insights
- APL meluncurkan kampanye edukasi “Berani Bicara Berat” untuk meningkatkan pemahaman tentang obesitas sebagai penyakit kronis yang kompleks.
- Data SKI 2023 mencatat 23,4 persen orang dewasa Indonesia mengalami obesitas, atau hampir satu dari empat orang dewasa.
- Kampanye ini mendorong pendekatan penanganan yang lebih menyeluruh dan personal melalui dukungan tenaga kesehatan.
Kampanye ini menempatkan obesitas bukan semata persoalan berat badan atau gaya hidup, melainkan penyakit kronis yang kompleks dan membutuhkan penanganan yang tepat.
Peluncuran kampanye berlangsung pada 14 Agustus 2026 di Jakarta. Langkah tersebut dilakukan di tengah prevalensi obesitas yang masih menjadi persoalan kesehatan masyarakat Indonesia. Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, sebanyak 23,4 persen orang dewasa di Indonesia mengalami obesitas, atau hampir satu dari empat orang dewasa.
Angka tersebut juga menunjukkan perbedaan berdasarkan jenis kelamin. Prevalensi obesitas pada perempuan tercatat mencapai 31,2 persen, sedangkan pada laki-laki sebesar 15,7 persen.
Obesitas sendiri dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk aspek biologis dan genetik, perilaku kesehatan, kondisi medis tertentu, serta lingkungan. Kondisi ini juga berkaitan dengan meningkatnya risiko sejumlah penyakit tidak menular, seperti diabetes tipe 2, penyakit kardiovaskular, stroke, dan beberapa jenis kanker.
Persoalannya tidak hanya berada pada aspek medis. Obesitas masih kerap dipersepsikan sebagai akibat kurangnya disiplin atau pilihan gaya hidup seseorang. Pandangan tersebut dapat memperkuat stigma dan membuat sebagian individu enggan mencari bantuan profesional.
Ketua Himpunan Studi Obesitas Indonesia (HISOBI), Prof. Dr. Dante Saksono Harbuwono, mengatakan perubahan pemahaman masyarakat menjadi salah satu bagian penting dalam penanganan obesitas.
“Obesitas bukan sekadar persoalan berat badan atau gaya hidup. Obesitas merupakan penyakit kronis yang kompleks dan terus berkembang di Indonesia,” ujar Dante.
Melalui “Berani Bicara Berat”, APL berupaya membuka ruang percakapan yang lebih berbasis sains sekaligus mendorong masyarakat untuk berkonsultasi dengan tenaga kesehatan ketika membutuhkan penanganan.
Chief Operating Officer, Commercialization PT Anugerah Pharmindo Lestari, Ay Lie Widjaja, mengatakan edukasi menjadi bagian penting agar masyarakat tidak menghadapi tantangan obesitas seorang diri.
“Melalui kampanye Berani Bicara Berat, kami berupaya memberdayakan masyarakat melalui edukasi berbasis sains, sekaligus mendorong mereka untuk mengambil langkah selanjutnya dengan mencari dukungan dan penanganan yang dibutuhkan melalui konsultasi dengan tenaga kesehatan,” ujar Ay Lie.
Pesan tersebut diperkuat melalui diskusi panel “Berani Bicara Berat, Awali dengan Langkah yang Tepat” yang menghadirkan sejumlah ahli dari bidang medis, endokrinologi, gizi klinis, dan kesehatan masyarakat. Di antaranya adalah Dante Saksono Harbuwono, Ketua Umum Perhimpunan Endokrinologi Indonesia (PERKENI) Prof. Dr. dr. Em Yunir, serta Ketua Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Gizi Klinik Indonesia (PDGKI) dr. Erwin Christianto.
Menurut Em Yunir, penanganan obesitas perlu dilihat sebagai proses jangka panjang. Tubuh memiliki mekanisme biologis yang dapat mempertahankan berat badan, sehingga perubahan gaya hidup saja tidak selalu mudah menghasilkan penurunan berat badan yang signifikan dan berkelanjutan.
“Penanganan obesitas memerlukan pendekatan jangka panjang, dengan tujuan meningkatkan kesehatan dan menurunkan risiko komplikasi, bukan semata-mata berfokus pada pencapaian angka tertentu pada timbangan,” kata Em Yunir.
Pendekatan terhadap obesitas juga tidak dapat diseragamkan untuk setiap orang. Kondisi kesehatan, kebutuhan nutrisi, perilaku, dan tujuan kesehatan masing-masing individu dapat berbeda. Karena itu, asesmen dan pendampingan tenaga kesehatan menjadi bagian penting dalam menentukan strategi yang sesuai.
Erwin Christianto menjelaskan bahwa asesmen gizi klinis dapat membantu menentukan strategi nutrisi berdasarkan kondisi individu. Pendekatan tersebut dapat dipadukan dengan perubahan perilaku, dukungan psikologis, dan terapi medis sesuai kebutuhan.
Pilihan penanganan obesitas sendiri terus berkembang, termasuk terapi berbasis incretin yang bekerja melalui reseptor tunggal maupun ganda. Penggunaan terapi tersebut perlu ditentukan melalui konsultasi dan berada di bawah pengawasan tenaga kesehatan.
Selain menyasar masyarakat, APL menyatakan bekerja sama dengan berbagai pemangku kepentingan untuk mendukung edukasi bagi lebih dari 21.000 tenaga kesehatan di Indonesia. Kampanye ini juga dilengkapi microsite berbasis sains yang menyediakan informasi mengenai obesitas, termasuk untuk meluruskan sejumlah miskonsepsi dan meningkatkan pemahaman mengenai pentingnya penanganan yang tepat.
Pada akhirnya, “Berani Bicara Berat” membawa isu obesitas keluar dari percakapan yang semata-mata berfokus pada angka di timbangan. Dengan melihat obesitas sebagai kondisi kronis yang memiliki banyak faktor penyebab, pembahasan mengenai pencegahan dan penanganannya dapat diarahkan pada kesehatan jangka panjang, pengurangan risiko komplikasi, serta hidup individu.



