(L to R) SUGA, JIMIN, JIN, JUNG KOOK, V, J-HOPE, RM at BTS The Comeback Live | Arirang at Gwanghwamun Square on March 21st in Seoul, Korea / BIGHIT MUSIC AND NETFLIX © 2026
Key Insights
- K-pop berkembang dari sekadar genre musik menjadi fenomena budaya yang hadir dalam animasi, drama, dokumenter, hingga tayangan live.
- Karya seperti KPop Demon Hunters dan BTS THE COMEBACK LIVE | ARIRANG menunjukkan bahwa pengalaman fandom kini meluas ke komunitas digital, media sosial, dan berbagai platform hiburan.
- Industri streaming semakin memanfaatkan budaya fandom sebagai fondasi penceritaan, mencerminkan perubahan cara audiens menikmati dan berinteraksi dengan konten.
Perubahan itulah yang semakin terlihat dalam katalog Netflix. Alih-alih hanya menghadirkan dokumenter musik, platform streaming tersebut kini mengangkat budaya K-pop melalui berbagai format, mulai dari animasi, drama, tayangan live, hingga serial dokumenter. Masing-masing menawarkan sudut pandang berbeda tentang bagaimana fenomena ini terus berevolusi sebagai bagian dari budaya populer global.
Salah satu contoh paling menonjol adalah KPop Demon Hunters. Film animasi yang menggabungkan dunia idola K-pop dengan fantasi supranatural ini menjadikan hubungan antara idola dan penggemar sebagai inti ceritanya. Dalam kisah tersebut, grup fiktif HUNTR/X menjalani kehidupan ganda sebagai bintang musik sekaligus pelindung dunia dari ancaman iblis yang menyamar sebagai boy group rival.
Setahun setelah debutnya pada Juni 2025, film tersebut masih menjadi salah satu judul original Netflix dengan performa terbesar. KPop Demon Hunters mencatat lebih dari 600 juta penayangan global, bertahan selama 52 minggu berturut-turut di Global Top 10 Netflix, serta masuk dalam daftar Top 10 di seluruh 93 negara yang memiliki peringkat tersebut. Kesuksesan itu juga merambah industri musik. Album soundtrack resminya bertahan dua pekan di puncak Billboard 200, sementara lagu-lagunya telah mengumpulkan miliaran stream di berbagai platform.

Popularitas film ini bahkan meluas ke luar layar. Mulai dari media sosial, pengalaman bermain di Roblox, merchandise, buku, hingga berbagai proyek hiburan lain menunjukkan bagaimana sebuah karya fiksi dapat berkembang menjadi ekosistem yang melibatkan komunitas penggemar dalam berbagai cara.
Pendekatan berbeda hadir melalui BTS THE COMEBACK LIVE | ARIRANG, yang memanfaatkan format siaran langsung untuk menghadirkan pengalaman menonton bersama secara real time. Acara yang menandai reuni perdana BTS setelah hampir empat tahun tersebut disiarkan dari Gwanghwamun Square di Seoul dan menarik sekitar 18,4 juta penonton global.
Momentum tersebut memperlihatkan bahwa pengalaman kolektif masih menjadi bagian penting dari budaya fandom, bahkan ketika dinikmati melalui platform digital. Tayangan ini masuk dalam Top 10 mingguan Netflix di 80 negara dan menempati posisi pertama di 24 negara, sementara percakapan di media sosial berkembang menjadi salah satu aspek yang memperkuat pengalaman menonton bersama.
Di sisi lain, dokumenter menghadirkan wajah K-pop yang lebih realistis. Alih-alih hanya menampilkan sorotan panggung, sejumlah tayangan mengajak penonton melihat proses panjang yang terjadi di balik kesuksesan para idola.
Pop Star Academy: KATSEYE mengikuti perjalanan 20 peserta yang terpilih dari lebih dari 120.000 pendaftar untuk memperebutkan posisi dalam grup global baru. Sementara BLACKPINK: Light Up the Sky menampilkan perjalanan karier grup tersebut sejak masa awal hingga menjadi salah satu nama terbesar di industri musik dunia. Adapun BTS: THE RETURN merekam proses reuni BTS ketika mempersiapkan proyek musik dan penampilan live mereka.
Fenomena fandom juga mulai menjadi bagian dari cerita fiksi. Melalui serial Indonesia Night Shift for Cuties, perhatian tidak lagi tertuju pada para idola, melainkan kepada para penggemarnya. Kisah dua rekan kerja minimarket yang bersaing demi kesempatan bertemu idola favorit mereka menggambarkan bagaimana budaya fandom dapat memengaruhi persahabatan, impian, dan keseharian generasi muda.
Serial ini juga menjadi produksi Indonesia pertama Netflix yang menghadirkan satu album penuh original soundtrack yang terinspirasi dari nuansa K-pop. Musik dalam serial tersebut tidak hanya berfungsi sebagai pelengkap cerita, tetapi juga menjadi bagian dari pengalaman yang ingin dibangun bagi penontonnya.
Beragam pendekatan tersebut menunjukkan bahwa K-pop kini diposisikan bukan sekadar sebagai genre musik, melainkan sebagai sumber inspirasi bagi berbagai bentuk penceritaan. Dari animasi dan dokumenter hingga drama dan siaran langsung, budaya fandom menjadi benang merah yang menghubungkan berbagai karya dengan audiens lintas negara.
Perkembangan ini juga mencerminkan perubahan yang lebih luas dalam industri hiburan. Ketika penggemar tidak lagi hanya menjadi penonton, melainkan bagian dari percakapan, komunitas, dan pengalaman lintas platform, batas antara musik, film, serial, dan budaya digital semakin kabur. Di masa mendatang, pendekatan seperti ini berpotensi semakin sering digunakan untuk menghadirkan pengalaman hiburan yang tidak berhenti ketika layar dimatikan.



