
Key Insights
- Travel Meet Asia 2026 mempertemukan pelaku industri pariwisata dari 16 negara untuk memperluas kemitraan dan peluang bisnis regional.
- Pertumbuhan kunjungan wisatawan mancanegara Indonesia pada 2025 mencapai 10,8 persen, melampaui rata-rata pertumbuhan global sebesar 4 persen.
- Pengembangan pariwisata ke depan semakin diarahkan pada kolaborasi lintas sektor, investasi, dan diversifikasi produk wisata seperti wellness, gastronomi, budaya, bahari, petualangan, serta MICE.
Ajang business-to-business (B2B) yang diselenggarakan Messe Berlin Asia Pacific dengan dukungan ITB Asia dan Association of The Indonesia Tours and Travel Agencies (ASITA) ini menghadirkan sekitar 1.500 peserta. Tercatat ada 500 pembeli (buyers), 100 eksibitor dari 16 negara, serta 60 pembicara yang mewakili berbagai segmen industri, mulai dari agen perjalanan, operator tur, perhotelan, hingga maskapai penerbangan.
Saat membuka acara di Swissotel PIK Avenue, Jakarta, Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana menilai forum semacam ini tidak lagi sekadar menjadi tempat transaksi bisnis, melainkan wadah untuk membangun kolaborasi lintas negara di tengah dinamika industri yang terus berubah.
“Lebih dari sekadar pasar, acara ini berfungsi sebagai wadah untuk membangun kemitraan, bertukar ide, dan membentuk masa depan pariwisata di kawasan kita dan sekitarnya,” kata Widiyanti.
Pernyataan tersebut mencerminkan perubahan peran pameran industri pariwisata. Forum B2B kini semakin berfungsi sebagai ruang bertukar gagasan, menyusun strategi bersama, dan membuka peluang investasi, seiring meningkatnya kebutuhan akan kerja sama lintas sektor dan lintas negara.
Momentum ini juga hadir ketika pariwisata global masih menunjukkan tren pertumbuhan. Berdasarkan data UN Tourism, jumlah kunjungan wisatawan internasional mencapai 1,52 miliar pada 2025, meningkat 4 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Indonesia mencatat pertumbuhan yang lebih tinggi. Kunjungan wisatawan mancanegara meningkat 10,8 persen sepanjang 2025, melampaui rata-rata global. Pada periode yang sama, sektor pariwisata menghasilkan devisa sebesar 18,27 miliar dolar AS dan menyerap sekitar 25,9 juta tenaga kerja.
Di tengah pertumbuhan tersebut, pemerintah melihat peluang pengembangan tidak hanya berasal dari destinasi wisata konvensional. Segmen seperti gastronomi, wellness, wisata bahari, budaya, petualangan, hingga meetings, incentives, conventions, and exhibitions (MICE) dinilai memiliki ruang ekspansi yang semakin besar, baik melalui investasi maupun pengembangan produk wisata yang mengikuti perubahan preferensi wisatawan.
Upaya tersebut juga didukung melalui berbagai kebijakan dalam RPJMN 2025-2029, termasuk pengembangan destinasi, penguatan ekosistem pariwisata, serta pembentukan 10 Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pariwisata untuk menarik investasi dan memperkuat aktivitas bisnis sektor ini.
Widiyanti menegaskan bahwa pertumbuhan industri tidak dapat dicapai oleh satu pihak saja. Menurutnya, keberhasilan pengembangan pariwisata bergantung pada kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, masyarakat lokal, investor, hingga mitra internasional.
Di tengah persaingan destinasi yang semakin ketat di kawasan Asia, forum seperti Travel Meet Asia menunjukkan bahwa daya saing pariwisata tidak hanya ditentukan oleh keindahan destinasi, tetapi juga oleh kemampuan membangun jaringan, menciptakan inovasi, dan memperkuat kemitraan. Seiring meningkatnya mobilitas wisatawan internasional, kolaborasi lintas negara kemungkinan akan menjadi salah satu faktor yang semakin menentukan arah pertumbuhan industri pariwisata di kawasan.



