
Key Insights
- Pemerintah menawarkan insentif di 10 KEK Pariwisata untuk mempercepat investasi dan mendukung target pembangunan pariwisata berkualitas dalam RPJMN 2025–2029.
- Sektor pariwisata mencatat devisa sebesar US$18,27 miliar atau sekitar Rp300 triliun pada 2025, dengan pertumbuhan wisatawan mancanegara mencapai 10,8%, melampaui rata-rata global sebesar 4%.
- Fokus investasi diarahkan pada sektor bernilai tambah seperti wellness, gastronomi, budaya, bahari, petualangan, dan MICE guna meningkatkan daya saing pariwisata Indonesia dalam jangka panjang.
Menteri Pariwisata Widiyanti Putri mengatakan kebijakan tersebut sejalan dengan target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029 yang menempatkan pariwisata sebagai salah satu mesin pertumbuhan ekonomi nasional.
“Pemerintah memfasilitasi intervensi strategis, contohnya penetapan 10 KEK Pariwisata. Keseluruhan KEK dirancang untuk menarik investasi, mendorong aktivitas bisnis, dan mempercepat pengembangan pariwisata melalui kerangka regulasi yang suportif serta insentif khusus,” ujar Widiyanti saat membuka Travel Meet Asia 2026 di Pantai Indah Kapuk, Jakarta, Selasa (23/6).
Selain menawarkan insentif, pemerintah juga berupaya menciptakan iklim investasi yang lebih kondusif melalui koordinasi dengan pelaku usaha dan sektor swasta. Pendekatan tersebut dinilai penting karena daya saing destinasi tidak hanya ditentukan oleh keindahan alam, tetapi juga kepastian regulasi, kemudahan berusaha, dan kualitas ekosistem investasi.
Peluang investasi yang dibuka pun tidak terbatas pada pembangunan infrastruktur dasar. Pemerintah mendorong masuknya modal ke berbagai produk pariwisata bernilai tambah, mulai dari gastronomi, wellness, wisata bahari, budaya, petualangan, hingga sektor MICE (meeting, incentive, convention, and exhibition).
Strategi tersebut didukung keberadaan 13 destinasi wisata prioritas dan destinasi wisata regeneratif yang disiapkan sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru di berbagai daerah. Diversifikasi produk wisata dinilai semakin penting untuk menjawab perubahan preferensi wisatawan global yang kini lebih mengutamakan pengalaman autentik, keberlanjutan, serta layanan yang lebih personal.
Kinerja sektor pariwisata dalam beberapa tahun terakhir menjadi modal utama pemerintah untuk terus menarik investasi. Sepanjang 2025, sektor ini menghasilkan devisa sebesar US$18,27 miliar atau sekitar Rp300 triliun (asumsi kurs Rp16.400 per dolar AS), menjadi capaian tertinggi sepanjang sejarah pariwisata Indonesia.
Dari sisi permintaan, kunjungan wisatawan mancanegara juga tumbuh 10,8% sepanjang 2025. Angka tersebut lebih dari dua kali lipat rata-rata pertumbuhan global yang berada di kisaran 4%, menunjukkan pemulihan pariwisata Indonesia berlangsung lebih cepat dibandingkan tren dunia.
Data tersebut memperlihatkan bahwa pariwisata tidak lagi diposisikan hanya sebagai sektor pendukung, melainkan sebagai penggerak devisa sekaligus instrumen untuk menarik investasi langsung. Dengan mengintegrasikan insentif fiskal, pengembangan kawasan ekonomi khusus, dan diversifikasi produk wisata, pemerintah berupaya meningkatkan daya saing Indonesia di tengah persaingan destinasi wisata regional yang semakin ketat.
Ke depan, efektivitas kebijakan ini akan bergantung pada kemampuan pemerintah dan pelaku industri menghadirkan proyek investasi yang kompetitif, mempercepat pembangunan kawasan, serta menjaga kualitas destinasi secara berkelanjutan. Jika terealisasi optimal, investasi di KEK Pariwisata berpotensi memperluas lapangan kerja, meningkatkan aktivitas ekonomi daerah, dan memperkuat kontribusi sektor pariwisata terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.



